Opini

Jika Demo Terus Meluas dan Rusuh

Oleh: Saiful Huda Ems.

AKSI demo di Jakarta yang mengatas namakan Aksi Gerakan Kedaulatan Rakyat cetusan Amien Rais dan gerombolannya, yang sebelumnya dikatakan sebagai People Power dan yang mendadak dirubah dengan Gerakan Kedaulatan Rakyat setelah Amien Rais merinding melihat sikap TNI dan POLRI yang akan menindaknya dengan tegas, terus berlanjut hingga Rabu dini hari pukul 03.45 WIB dan sampai kini masih terus berlangsung dengan rusuh.

Batu dan Bom Molotov terus berterbangan dari para peserta aksi di sekitar kawasan Tanabang, dan aparat keamanan menghadapinya secara sigap dan profesional. Sedangkan untuk kawasan yang sebelumnya menjadi tempat konsentrasi massa dan terjadi aksi kerusuhan di hari Selasa malam sekitar jam 23.00 WIB, yakni kawasan Menteng dan Thamrin di sekitar Jl. KH. Wahid Hasyim atau Gondangdia (kawasan yang selama ini menjadi tempat penulis rapat tiap mingguan) telah berhasil disterilkan oleh aparat keamanan.

Aksi demonstrasi kali ini yang mau menolak keputusan KPU yang telah mengumumkan hasil rekapitulasi suara PILPRES dan PILEG yang memenangkan Pasangan Capres-Cawapres Jokowi-KH. Ma’ruf Amin, dengan selisih kemenangan 17 juta lebih suara dari Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga Uno merupakan aksi massa yang tergolong brutal dan massif. Mereka datang dari berbagai daerah dan digerakkan oleh orang-orang yang sakit hati karena terlibat korupsi, dipecat dari menteri dlsb.

Akan tetapi pihak TNI dan POLRI rupanya sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terburuk terjadi dari aksi 22 Mei inipun sudah sangat lama, sehingga beberapa pasukan TNI dan POLRI pun telah didatangkan dari berbagai daerah, diantaranya dari Jatim, Jateng, Kalimantan, Sumatera dll. menuju Jakarta beberapa hari menjelang Aksi 22 Mei. Aparat keamanan itu datang dengan berbagai kelengkapan senjata alat tempur tetapi tanpa dibekali peluru tajam ketika menghadapi aksi massa. Disinilah terlihat i’tikad baiknya dari aparat keamanan yang berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi pertumpahan darah antara aparat keamanan dengan peserta aksi massa.

Lalu bagaimana kemungkinan yang akan terjadi apabila aksi ini terus meluas, rusuh dan brutal? Pemerintah sebagai penjamin stabilitas politik dan keamanan rakyat melalui aparat keamanannya, tentu akan melakukan berbagai tindakan yang prefentif dan efektif untuk terwujudnya stabiltas politik dan keamanan rakyat atau warga negaranya itu.

Jika sebelumnya polisi telah melakukan pemanggilan dan penahanan pada elite-elite politik yang dianggap telah terus menerus memprovokasi massa seperti Eggi Sudajana, Kivlan Zen, Permadi, Lieus Sangkarisma dll., serta yang sebagian lainnya hendak ditangkap namun kabur ke Arab seperti Habib Riziek, Bachtiar Nasir dan Haikal Hasan, ke depan bila aksi ini terus berlangsung dengan rusuh dan brutal, maka sangat mungkin sekali aparat keamanan akan segera melakukan penangkapan terhadap puncak-puncak elite politik lainnya seperti Prabowo, Amien Rais, Rizal Ramli, Fadli Zon dll.nya. yang dianggap menjadi komando pengarah aksi massa di jalanan, apapun dalihnya mereka yang akan berusaha berkelit untuk hal tsb.

Kita semua telah mengerti bahwa tidak akan pernah terjadi aksi massa yang sedemikian besar dan melibatkan orang dari berbagai daerah yang menguras banyak dana dan tenaga jika tidak disponsori oleh elite-elite politik mereka. Setidaknya kita semua dapat melihat, bagaimana jauh hari sebelum terjadi aksi massa ini, beberapa orang di Jakarta telah melakukan persiapan penyambutan logistik berupa konsumsi makanan yang dibungkus plastik dan kotak kardus, yang kemudian divideokan dan diviralkan melalui medsos.

Bukan hanya dari persiapan konsumsi itu, dari pernyataan putri mantan Presiden ORBA Soeharto yang sekaligus mantan istri Prabowo yakni Titiek Soeharto yang terus menerus memprovokasi massa untuk bergerak ke Jakartapun kita semua menjadi semakin tau, betapa ada Keluarga Cendana di balik semua peristiwa yang memalukan dan membahayakan stabilitas politik dan keamanan negara ini. Mereka semua seakan tidak mau tau, betapa negara ini akan jatuh terpuruk, hancur bila saja aparat keamanan tidak dapat mengatasi keadaan.

Namun kita semua tentu sangat percaya, bahwa di jajaran elite pengambil keputusan penting pemerintahan ada banyak orang-orang profesional, serta jenderal aktif dan mantan-mantan jenderal profesional yang memiliki pengalaman panjang dalam mengatasi persoalan keamanan negara seperti ini. Sedangkan Prabowo dan Titiek Soeharto serta Amien Rais dan gerombolannya seakan lupa, bahwa yang mereka hadapi saat ini bukanlah Soeharto melainkan Jokowi yang didukung secara penuh oleh TNI, POLRI dan mayoritas Rakyat yang memiliki jutaan barisan relawannya yang sangat cerdas dan militan.

Maka sekali Prabowo cs. tidak dapat mengendalikan massanya hingga kerusuhan terjadi meluas dimana-mana, penangkapan Prabowo dan gerombolannya akan menjadi titik akhir dari riwayat politik Prabowo dan Amien Rais serta gerombolan elite politik FPI dan HTI, sekaligus juga akan menjadi titik akhir dari riwayat bercokol dan menjangkarnya gurita kekuasaan Keluarga Cendana yang selama ini bergerak di belakang layar pentas perpolitikan di Republik Indonesia.

Kita semua berharap agar aksi brutal ini segera selesai tanpa adanya lagi pertumpahan darah, dan para demonstran serta aparat keamanan (TNI dan POLRI) bisa kembali lagi ke daerahnya masing-masing hingga dapat berkumpul kembali dengan keluarga disaat hari raya Idul Fitri telah tiba. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat suci dan sangat dimuliakan oleh Islam, sudah semestinya semua pihak menghargai dan memuliakannya. Jika para gerombolan pengacau negara itu masih tidak juga sadar dan menghargainya, jangan menyesal bila mala petaka akan menimpa dirinya sendiri-sendiri.

Akhirul kalam, kembalilah kalian hidup dalam ketenangan, jangan korbankan nyawa hanya demi memuaskan nafsu elite-elite politik yang ingin mendapatkan kekuasaan. Mereka sudah kalah, maka seharusnya mereka ikhlas menerimanya. Jika mereka masih terus tak mau mengakui kekalahannya, disaat fakta sudah nampak di depan matanya, dan disaat berbagai Kepala Negara lain-lainnya telah memberi ucapan selamat atas kemenangan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin, maka sudah bisa kita semua pastikan bahwa elite-elite politik mereka yang tak mau menerima kekalahannya telah terganggu kejiwaannya…(SHE).

Jakarta, 22 Mei 2019.

Saiful Huda Ems (SHE), Advokat, Penulis, Ketua Umum Pengurus Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close