Jenazah Pasien Corona Seperti Mati Syahid, Jangan Ditolak

Jenazah Pasien Corona Seperti Mati Syahid, Jangan Ditolak

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pemakaman jenazah pasien positif virus corona sempat mendapat penolkana di sejumlah daerah. Padahal, dalam memakamkan jenazah tersebut sudah ada tata cara yang diatur pemerintah.

Hal memprihatinkan ini pun mendapatkan reaksi dari sejumlah ormas Islam. Diantaranya dari MUI. MUI meminta agar masyarakat tak menolak jenazah orang terinfeksi corona untuk dikebumikan.

MUI mengingatkan jangan melihat jenazah tersebut sebagai azab. Penyakit tersebut juga bukan aib yang bisa menginfeksi siapa saja.

Sementara itu, Muhammadiyah berpendapat serupa. Sebab orang yang meninggal karena corona juga harus mendapatkan penghormatan baik.

Apalagi pasien corona juga telah berikhtiar untuk kesembuhannya. Ikhtiar ini akan mendapatkan pahala seperti orang mati syahid.

Senada dengan lainnya, PBNU mengimbau hal yang sama. Apalagi jenazah juga sudah ditangani dengan aman oleh pihak rumah sakit sesuai aturan medis.

Jenazah ditolak, MUI sebut corona bukan aib

Majelis Ulama Indonesia meminta kepada masyarakat Indonesia agar tidak menolak jenazah yang terkena virus corona (Covid-19) untuk dikembumikan.

Jangan sampai ada sikap menolak, dan jangan melihat jenazah penderita Covid-19 ini sebagai azab. Penyakit ini bukan aib, yang bisa mengenai siapa saja,” kata Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI, Din Syamsuddin konferensi pers lewat telekonferensi di Jakarta, Kamis, 2 April 2020.

Jenazah pasien corona juga harus diberi penghormatan

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir angkat bicara mengenai adanya penolakan pemakaman pasien positif virus Corona di sejumlah daerah.

Haedar meminta agar masyarakat tak menolak pemakaman para pasien virus Corona yang meninggal dunia. Haedar menyebutkan, pasien yang meninggal akibat virus Corona adalah saudara bagi masyarakat yang harus diperlakukan dengan penghormatan yang baik.

Haedar memaparkan, Muhammadiyah lewat Majelis Tarjihnya telah melakukan kajian tentang para pasien virus Corona ini. Dari Kajian Tarjih Muhammadiyah, para pasien yang terkena Corona yang meninggal dunia ini sebelumnya telah berikhtiar, dengan penuh keimanan untuk mencegah dan atau mengobatinya maka mendapat pahala seperti pahala orang mati syahid.

“Jika pemerintah dan para pihak telah menetapkan kuburan bagi jenazah Covid-19 sesuai protokol, maka sebaiknya warga masyarakat tidak menolak penguburan. Apalagi sampai meminta jenazah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali dan dipindahkan,” ujar Haedar dalam keterangan tertulisnya di Yogyakarta, Kamis (2/4).

Haedar meminta agar para pasien positif Corona juga harus disikapi dengan baik. Jika dikarantina di satu lokasi atau menempuh karantina sendiri di kediamannya jangan ditolak warga. “Aparat setempat agar dengan bijak memahamkan warga dan jangan ada yang ikut-ikutan menolak,” kata Haedar.

Haedar meminta semua pihak untuk berkorban dan menunjukkan keluhuran sikap kemanusiaan dan kebersamaan. Warga yang menolak, menurut Haedar, agar diberi pemahaman karena mungkin terlalu panik dan belum mengerti.

Haedar menambahkan, peran tokoh dan pemuka agama setempat sangat penting. Adanya pemahaman yang diberikan para tokoh ini diharapkan bisa mengubah paradigma masyarakat.

“Saat ini tunjukkan bahwa kita masyarakat Indonesia benar-benar berjiwa sosial, gotong royong, dan religius terhadap sesama. Apalagi kepada korban Covid-19 yang meninggal dan keluarganya, yang semestinya kita berempati dan membantu,” kata Haedar.

Haedar menambahkan, “Sikap berlebihan justru tidak menunjukkan keluhuran budi dan solidaritas sosial yang selama ini jadi kebanggaan bangsa Indonesia.”

Jenazah pasien corona tak boleh dihina

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Said Aqil Siradj, meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak menolak jenazah yang terkena wabah virus corona atau covid-19 untuk dikebumikan di daerah yang telah ditentukan.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat jangan menolak jenazah saudara kita yang meninggal akibat covid-19 ini, dengan syarat sudah barang tentu pihak RS yang menangani jenazah sudah betul keamanan atau safety sesuai dengan aturan medis,” kata Said Aqil Siradj dalam akun Instagram @saidaqilsiroj53.

Said menjelaskan bahwa dalam syariat Islam telah mewajibkan kepada umat Islam harus menghormati jenazah sesama umat Islam. Maka siapapun jenazah beragama Islam harus ditangani dengan penuh penghargaan, dimandikan dengan bersih dan suci dikafani.

Kemudian, dikubur dengan penuh penghormatan, tidak boleh diremehkan atau mendapat penghinaan.

Menurut dia, dari pihak rumah sakit harus menangani jenazah dengan aman dengan dibungkus plastik dan kemudian diantar ke keluarganya. Usai tiba, pihak keluarga tidak usah membukanya karena sudah aman dan sesuai dengan aturan medis.

“Kita salati, kita antar ke kuburan, dengan penuh penghormatan seperti jenazah yang lain yang biasa, mari kita doakan covid-19 ini Insya Allah sahid, kit apun dapat pahala ketika kita mengantarkanya,” katanya.

Untuk diketahui, Arsidin Rahman (52 tahun), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19, meninggal saat tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Kota Makassar, Minggu, 29 Maret 2020, sekitar pukul 02.50 WITA.

Warga dari Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa itu mengembuskan napas terakhir di ruang isolasi di RS Wahidin.

Ironisnya, berdasarkan informasi yang diperoleh, saat jenazah akan dimakamkan sekitar pukul 02.00 WITA di wilayah Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, warga di sekitar pemakaman menolaknya.