Mutiara Hikmah

Jejak Langkah “Nabi Adam Kedua”: Nabi Nuh a.s.

Jejak Langkah “Nabi Adam Kedua”:  Nabi Nuh a.s.
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

"USTADZ, Bolehkah saya bertanya. Tentang sesuatu?” demikian tanya seorang kiai sepuh, suatu hari, yang berkunjung ke pesantren yang kami asuh.

“Silakan, Kiai,” jawab saya. Penasaran dan khawatir tidak kuasa menjawab pertanyaan itu.
“Ustadz. Apa sejatinya tujuan Allah Swt. mengutus Nabi Nuh a.s.?” tanya beliau.

“Duh. Ini sih bukan sekadar pertanyaan biasa. Ini adalah ujian dan tes,” gumam bibir saya. Sangat pelan. 

Entah kenapa, dialog yang berlangsung beberapa tahun tersebut tiba-tiba “melenting” dalam benak saya. Dialog itu “melenting” kemarin dini hari, ketika saya sedang mendaras Alquran. Teringat dialog tersebut, beberapa saat tiada sepatah kata pun terucap dari bibir saya. Namun, kemudian, saya pun mencoba “membangkitkan kembali” pengetahuan saya. Tentang Nabi Nuh a.s., seorang Nabi yang juga mendapat sebutan “Nabi Adam Kedua”.  

 Plakat Marmer di Cizre, Turki

Lantas, tiba-tiba dalam benak saya “melayang-layang” sebuah tulisan yang terpampang pada sebuah plakat marmer di bagian luar sebuah masjid di Cizre, Turki. Suatu tulisan yang menyatakan, kapal yang dinaiki Nabi Nuh a.s., selepas mengalami hajaran badai kencang dan dahsyat, akhirnya mendarat di puncak Gunung Gudi (dalam bahasa Arab disebut Jabal Al-Judi), sebuah gunung yang terletak di kawasan Kota Cirze. Tulisan itu berbunyi sebagai berikut:

“In the Gudi, Sumer, Akad, Elem, Assyrian, Epitaphs, Ant, the Koran, Bible and the Old Testament you can find a lot of texts about the flood. The man that they told is the Prophet Noah. His real name is Abdul Gaffar Ant. He is known as Noah, Nuh, Utnapistim in different languages. He is known as a thinkgiving person in the stage of God. He is the second father of humanity. It’s clearly written in the Koran that his boat stopped in the top Mountain of Gudi. He built his house in the top of the Mountain of Gudi. And because of the facts of the colt weather it’s written in the Gudi Epitaphs that he went to the region of Rayat (Karda). From centuries his tomb have been visited from a lot of persons. All the religions in Earth believed that he is holy. In 1996-1997 a collection of buildings surrounding a mosque have been built by the Foundation of Sirgev.” 

Demikian bunyi suatu tulisan yang terpampang pada sebuah plakat marmer di bagian luar sebuah masjid di Cizre, Turki. Suatu tulisan yang menyatakan, kapal yang dinaiki Nabi Nuh a.s., selepas mengalami hajaran badai kencang dan dahsyat, akhirnya mendarat di puncak Gunung Gudi (dalam bahasa Arab disebut Jabal Al-Judi), sebuah gunung yang terletak di kawasan Kota Cirze.

Di manakah tepatnya Kota Cizre?

Kota yang dalam karya-karya sejarah lama, yang disusun para sejarawan Muslim, disebut dengan nama Jazirah Ibn ‘Umar atau Gazarta itu, kini, terletak Provinsi Şırnak. Provinsi ini  masuk dalam kawasan Anatolia Tenggara, Turki. Cizre adalah sebuah kota yang terletak tidak jauh dari perbatasan dengan Suriah.
 
Berbeda dengan kota-kota utama lainnya di Turki, mayoritas penduduk Kota Cizre adalah etnis Kurdi, Assyria, dan Arab. Pada masa pemerintahan Dinasti ‘Abbasiyyah, dengan pusat pemerintahannya di Kota Baghdad Madinah Al-Salam, dan selama Perang Salib berlangsung, Kota Cizre yang dikitari Sungai Tigris dari arah utara, timur, dan selatan itu merupakan pintu gerbang yang menghubungkan antara kawasan Mesopotamia Atas dengan Armenia.

Sementara dalam catatan para sejarah Muslim pada Masa Pertengahan, Cizre lebih terkenal dengan nama Tsamanin. Dahulu, pada masa purba, pada Zaman Besi pertama, kota ini berada di bawah lingkungan Kerajaan Kumme, Assyria Utara.
 
Demikianlah “sepenggal” kisah Kota Cizre yang menurut penduduk Turki merupakan tempat bermukim Nabi Nuh a.s., selepas sang Nabi terlepas dari badai yang menghajar kaumnya, seperti dituangkan dalam sejumlah ayat-ayat Alquran. Dan, kini, mari kita tinggalkan Kota Cizre, yang menyatakan sebagai tempat bermukim Nabi Nuh a.s. untuk menikmati kehidupan yang sejahtera dan penuh berkah selepas terlepas dari badai, untuk “melacak jejak” Nabi Nuh a.s.
 
Rasul Pertama dan Pemberi Peringatan 
    
Untuk memulai perjalanan kita, untuk menelusuri jejak langkah Nabi Nuh a.s., pertama-tama mari kita “kembali” ke masa jauh. Ya, ke masa yang jauh di belakang kita. Ke sekitar 5.000 hingga 5.500 yang silam. Untuk menyimak kembali sejenak kisah Nabi Nuh a.s. 

Siapakah sejatinya Nabi Nuh a.s.?

Ibn Katsir (700-774 H/1300-1373 M), seorang ahli tafsir Alquran yang terkenal  dengan karyanya Tafsîr Ibn Katsîr, di samping juga seorang ahli hadis  dan ahli  hukum  Islam  yang mengikuti  Mazhhab  Hanbali  pada  masa pemerintahan Dinasti Mamluk, dalam sebuah karyanya berjudul Qashash Al-Anbiyâ’, mengemukakan, garis keturunan lengkap Nabi Nuh a.s. adalah sebagai berikut: Nuh bin Lamik (atau Lamech) bin Mitoshilkh bin Enoch (atau Nabi Idris a.s.) bin Yarid bin Mahlabil bin Qinan bin Anoush bin Syits bin Adam a.s. Dengan kata lain, Nabi Nuh a.s. merupakan generasi ke-7 dari keturunan Nabi Adam a.s. dan generasi ke-2 dari keturunan Nabi Idris a.s. Demikian menurut Ibn Katsir. 

Kini, di manakah Nabi Nuh a.s. ini bermukim sebelum terjadinya prahara besar yang dikenal dengan sebutan “Badai atau Topan Nuh”? 

Menurut Dr. Shauqi Abu Khalil, dalam sebuah karyanya berjudul Atlas of the Qur’an, sang Nabi tinggal di sekitar Kufah, Irak. Kala itu, Kufah merupakan salah satu wilayah Kerajaan Babylonia. Berbeda dengan sang kakek, Nabi Idris a.s., Alquran menuturkan cukup panjang lebar kisah sang cucu: Nabi Nuh a.s. 

Berkaitan dengan diri sang kakek, yang menurut Ibn Ishaq (85-150 H/704-767 M, seorang sejarawan Muslim pertama yang menulis  tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw.) merupakan orang yang pertama kali menulis dengan pena, Alquran mengemukakan secara ringkas saja, “Dan kemukakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka, (kisah) Idris (yang tersebut dalam Alquran), sesungguhnya dia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan, Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam [19]: 56-57). 

Dalam Alquran dituturkan, Nabi Nuh a.s. diangkat sebagai Rasul kepada kaum yang menyembah berhala: Wadd, Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr. Selain itu, mereka terbawa arus kehidupan yang sarat dosa dan menyimpang dari perintah Allah Swt. Padahal, mereka anak keturunan seorang Nabi. Karena itu, Allah Swt. kemudian mengutus sang Nabi. Sebagai rahmat kepada para hamba-Nya. 

Dengan pengutusan tersebut, dapat dikatakan Nabi Nuh a.s. menjadi Rasul pertama yang diutus di muka bumi. Berkenaan dengan misi Nabi Nuh a.s. yang demikian, Alquran mengemukakan, “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu, ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, (bila kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).’ Pemuka-pemuka dari kaumnya (pun) menjawab,  ‘Sungguh, Kami memandang dirimu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Nuh pun berkata, ‘Wahai kaumku, tiada padaku kesesatan sedikit pun. Tetapi, aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.” (QS Al-A‘râf [7]: 59-61). 

Menerima ajakan Nabi Nuh a.s. yang demikian, kaumnya bukannya senang dan bersyukur. Sebaliknya, mereka kian membangkang dan menyimpang. Malah, akhirnya, mereka kemudian merasa gusar kepada Nabi Nuh a.s. dan melabrak sang Nabi. Hal itu sebagaimana diungkapkan dalam ayat Alquran berikut, “Dan mereka berkata, “(Nuh!) Jangan sekali-kali kau meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu. Dan jangan pula sekali-kali kau meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula meninggalkan (penyembahan) Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.” (QS Nûh [71]: 23). 

Mungkin, di sini timbul pertanyaan, “Siapakah Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr? Mengapa mereka menyembah berhala-berhala itu?” 

“Mereka adalah nama orang-orang saleh dari kalangan Nabi Nuh a.s.,” jawab Ibn Katsir dalam karyanya di atas. “Ketika mereka berpulang, setan membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung-patung mereka. Di tempat mereka kerap melakukan pertemuan dengan khalayak ramai. Kemudian, setiap patung diberi nama dengan nama mereka. Usulan setan itu mereka terima. Sehingga, ketika generasi pertama mereka sudah tiada dan ilmu mereka juga sudah sirna, patung-patung itu akhirnya disembah.”

Berkenaan dengan hal yang sama, Muhammad bin Jarir Al-Thabari (224-313 H/839-926  M),  sejarawan  Muslim  dan  ahli tafsir  Alquran terkemuka pada Masa Pertengahan, menjelaskan lebih jauh, “Mereka memiliki banyak pengikut. Yang senantiasa meneladani kehidupan mereka. Ketika mereka berpulang, para pengikut mereka pun berucap, ‘Bagaimana bila kita buatkan patung mereka. Hal itu akan membuat kita senantiasa ingat mereka dam mendorong kita agar tekun beribadah.’ Rencana itu pun mereka laksanakan. Ketika para pengikut mereka telah berpulang, Iblis pun membisikkan kepada generasi berikutnya, ‘Sejatinya mereka (para pendahulu kalian) menyembah mereka dan meminta hujan dengan perantara patung-patung itu.’ Akhirnya, patung-patung itu pun mereka sembah.”

Lewat kisah itu, Alquran sejatinya juga menyajikan suatu ajaran yang indah: kita hendaklah menghindari kultus individu atau pendewaan  pemimpin. Sebab, hal itu sangat berbahaya bagi terbentuknya pribadi manusia seutuhnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu sebagaimana halnya yang terjadi pada diri kaum Nabi Nuh a.s. 

Kemudian, dengan bergulirnya sang waktu, penyembahan yang dilakukan anak keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Idris a.s.  terhadap berhala-berhala itu kian merajalela. Karena itu, Allah Swt. pun mengutus Nabi Nuh a.s. Sebagai Rasul pertama, sang Nabi mendapatkan tugas utama: menyerukan kepada kaumnya supaya kembali pada ajaran yang dibawa Nabi Adam a.s., yaitu ajaran yang didasarkan pada tauhîd. 

Sederet Hambatan dan Tantangan

Menerima perintah Allah Swt. yang demikian, Nabi Nuh a.s. pun dengan berbagai cara berusaha menyampaikan tugas utama tersebut. Namun, ternyata sebagian besar kaumnya tetap menentang keras dan membangkang terhadap ajaran mulia itu. Akibatnya, sang Nabi tidak berhasil menyadarkan mereka. Kejadian yang demikian itu dikemukakan dengan gamblang dalam ayat-ayat Alquran berikut:

“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku. Sungguh, aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Ternyata, seruanku itu kian membuat mereka lari (dari kebenaran). Dan, sungguh, setiap kali aku menyeru mereka (menuju iman), agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga mereka dan menutupkan baju mereka (kemuka mereka) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian, sungguh, aku telah menyeru mereka (menuju iman) dengan cara terang-terangan (dan) kemudian sungguh aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, mengadakan untuk kalian kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS Nûh [71]: 5-12). 

Gagal. Dan, bukan hanya tidak diacuhkan dan ditolak saja. Itulah “nasib” langkah-langkah awal perjuangan yang dilakukan Nabi Nuh a.s. “Nasib” yang kelak kerap juga dialami para Nabi dan Rasul selepas dirinya, ketika mereka pertama kali menebarkan kebenaran dalam masyarakat mereka.

Selain membangkang, kaum Nabi Nuh a.s. juga gemar melecehkan sang Nabi. Tentu saja, juga terhadap para pengikutnya. Yang sebagian besar terdiri dari kaum papa yang terpinggirkan dari masyarakatnya kala itu. “Nuh. Sejatinya, kau ini tidak lebih dari orang biasa. Ya, orang biasa. Tanpa kelebihan apa pun!” itulah komentar mereka atas diri sang Nabi. Malah, mereka memandang sang Nabi sebagai pembohong. Tutur Alquran berkenaan dengan sikap mereka terhadap diri sang Nabi, “Maka, pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya pun berkata, ‘Kami tidak melihat dirimu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami. Dan, kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang yang dusta.” (QS Hûd [11]: 27). 

Dipandang sebelah mata dan dilecehkan demikian, Nabi Nuh a.s. tetap bersabar. Tentu saja, sang Nabi pun tetap berjuang dengan setulus dan sepenuh hati dalam melaksanakan perintah-perintah Tuhannya. Namun, selepas berjuang dengan gigih dan penuh kesabaran, dalam masa yang tidak pendek (menurut QS Al-‘Ankabût [29]: 14 berlangsung selama ‘seribu tahun kurang lima puluh tahun, atau 950 tahun), dengan berbagai usaha dan cara, tetap saja perjuangannya mengajak masyarakatnya menuju jalan lurus menghadapi jalan buntu. Ya, menemui jalan  buntu. Hanya sedikit di antara masyarakatnya yang bersedia mengikuti ajakannya yang luhur itu. Sebuah sumber mengemukakan, para pengikut sang Nabi kala itu dapat dihitung dengan jari. Tidak lebih dari sepuluh orang.
 
Malah, karena jengkel dengan ajakan itu, masyarakat Nabi Nuh a.s kala itu meminta sang Nabi untuk membuktikan kebenaran yang ia serukan. “Nuh!” tantang mereka (lihat QS Hûd [11]: 32) dengan nada tinggi, “Kau telah membantah kami. Demikian kerap. Karena itu, kini, coba buktikan kebenaran ucapanmu itu. Mintalah kepada Tuhanmu: untuk menurunkan azab. Yang kerap kau ancamkan atas diri kami itu. Buktikan ucapanmu itu, bila ucapanmu itu memang benar.” 

“Kaumku,” jawab Nabi Nuh a.s. yang tentu saja prihatin atas tantangan itu (QS Hûd [11]: 33). “Hanya Allah semata yang dapat menurunkan azab itu atas diri kalian. Namun, ingat, begitu azab itu diturunkan, kalian tidak akan dapat menghindarkan diri dari azab itu.”

Kian lama, kian membara penentangan dan pembangkangan mereka. Akibatnya, mereka pun kian jauh dari risalah indah yang diajarkan sang Nabi. Akhirnya, ketika penentangan dan pembangkangan mereka memuncak dan kian tidak terbendung lagi, sang Nabi pun menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada Sang Pemberi Risalah dan pasrah kepada-Nya. Kemudian, dengan sepenuh hati, sang Nabi pun berdoa (QS Hûd [11]: 25-27), “Tuhanku. Jangan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang yang menentang perintah-Mu itu tersisa di atas permukaan bumi-Mu ini. Sungguh, bila mereka Engkau biarkan tetap menikmati kehidupan di bumi ini, tentu mereka akan senantiasa menyesatkan hamba-hamba-Mu yang lain. Juga, mereka akan melahirkan generasi-generasi yang gemar melakukan perbuatan maksiat dan sangat menyimpang dari ajaran-Mu.”

Doa pendek, tapi diucapkan dengan sepenuh hati. Ya, doa pendek yang dimohonkan seorang Nabi dengan sepenuh hati!
 
Menerima doa sepenuh hati dari seorang Nabi yang senantiasa bersyukur (QS Al-Isrâ’ [17]: 3) itu, Allah Swt. pun memerintahkan kepada sang Nabi: untuk menyiapkan sebuah kapal, “Buatlah sebuah kapal, dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Janganlah kamu kemukakan lagi persoalan orang-orang yang zalim itu kepada-Ku. Sungguh, mereka akan ditenggelamkan.” (QS Hûd [11]: 37). 

Menerima perintah demikian, Nabi Nuh a.s. pun segera menyiapkan sebuah kapal. Meski sejatinya sang Nabi pun tidak mengerti, mengapa ia diperintahkan membuat kapal. Menyaksikan “kelakuan dan perbuatan” aneh sang Nabi dan tidak lazim dilakukan dalam masyarakatnya, tentu saja cercaan dan malah hinaan kepada sang Nabi dan para pengikutnya kian membara. Memang, “kelakuan dan perbuatan” sang Nabi tampak aneh dan tidak lazim: membuat kapal di kawasan yang jauh dari laut, sungai, maupun danau.

Menghadapi cercaan dan hinaan yang demikian, sang Nabi tetap patuh melaksanakan perintah Tuhannya. Dan, ia hanya kuasa menjawab dengan suara pelan, “Sungguh, suatu saat, kelak, balik kami yang akan mengejek kalian. Kelak, kalian akan menyaksikan, siapa yang bakal tertimpa azab yang menghinakan. Bukan hanya itu, kalian juga akan merasakan azab yang abadi.” (QS Hûd [11]: 38-39). 

Istri dan Putranya pun Membangkang

Selepas kapal yang diperintahkan Allah Swt. untuk dibuat telah siap, Sang Khalik pun memenuhi janji-Nya: segera akan menurunkan azab atas diri para pembangkang pada masa Nabi Nuh a.s. Sebelumnya, Allah Swt. memerintahkan sang Nabi dan para pengikutnya untuk segera naik ke dalam kapal. Ya, naik ke dalam kapal yang berada jauh dari “tempat berair”. Aneh!

Sang Nabi pun segera memerintahkan para pengikutnya, yang dapat dihitung dengan jari, untuk segera berkemas dan naik ke dalam kapal. Sebelum mereka naik ke dalam kapal, sang Nabi pun berpesan kepada mereka (QS Hûd [11]: 41), “Naiklah kalian semua ke dalam kapal dengan senantiasa menyebut nama Allah. Baik ketika kapal sedang berlayar maupun ketika telah berlabuh nanti. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Senantiasa menyebut nama Allah.” Betapa indah pesan itu.
 
Selepas mengajak para pengikutnya untuk naik ke dalam kapal, Nabi Nuh a.s. kemudian mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam kapal yang sama. Duh, ternyata, istri dan putranya pun menolak keras ajakan itu. Ya, istri dan putranya menolak keras ajakan itu!

Betapa perih hati sang Nabi menyaksikan pembangkangan terang-terangan yang dilakukan istri dan putranya. Ternyata, sang istri dan sang putra lebih memilih bergabung dengan masyarakat yang menolak risalah yang ditebarkan sang Nabi, ketimbang menerima ajaran indah itu. Karena itu, Allah Swt. pun menggolongkan istri sang Nabi termasuk dalam kelompok para pembangkang, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami. Lalu, kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing). Karena itu, suaminya tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah dan (akan) dikatakan (kepada keduanya), ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam).” (QS Al-Tahrîm [66]: 10).

Suatu pelajaran indah, lewat kisah Nabi Nuh a.s. dan istrinya, kembali ditebarkan: pembangkangan terhadap ajaran mulia dapat saja berasal dari dalam keluarga sendiri. Termasuk keluarga seorang Nabi sekalipun!

Dengan hati yang sedih dan perih, akhirnya Nabi Nuh a.s. pun masuk ke dalam kapal. Kali ini dengan iringan doa (QS Al-Mu’minûn [23]: 29), “Ya Allah, Tuhanku. Tempatkanlah aku di tempat yang diberkahi. Dan, sungguh, Engkau adalah Pemberi terbaik tempat itu.”

Tidak lama kemudian, langit “yang diwarnai mendung tebal” pun mulai menumpahkan hujan ke permukaan bumi. Sangat lebat dan berhari-hari. Tanpa henti. Sedangkan dari bumi sendiri air memancar kencang. Di mana-mana. Perpaduan antara hujan yang sangat lebat dan air yang memancar kencang di mana-mana menghasilkan banjir dahsyat disertai badai yang menggilas dan melibas segala sesuatu yang menghadang. Segera, kapal yang disiapkan Nabi Nuh a.s. dan para pengikutnya pun berlayar dengan menerjang “gelombang-gelombang yang laksana gunung” (QS Hûd [11]: 42). Banjir besar dengan gelombang-gelombang raksasa itu pun segera menenggelamkan masyarakat yang enggan diajak bersama sang Nabi. Menuju “jalan yang lurus”. 

Ketika kapal itu sedang “sibuk” menghadapi hajaran gelombang-gelombang raksasa,  Nabi Nuh a.s. melihat putranya sedang berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Sang putra kala itu sedang melarikan diri, dari gelombang-gelombang raksasa, menuju ke puncak sebuah gunung. Dan, ketika menyaksikan gelombang banjir kian ganas dan mendekati sang putra, hati ayah manakah yang tidak luluh meski ia seorang Nabi. Karena itu, sang Nabi pun memanggil putranya yang nyaris “digulung” air bah yang datang menyergapnya (QS Hûd [11]: 42-43), “Putraku! Naiklah ke kapal bersama ayah. Jangan kau turutkan kata hatimu sendiri.”

“Tidak! Aku dapat menyelamatkan diriku sendiri. Tanpa pertolongan ayah!” jawab sang putra. Keras kepala. Dan, ia tetap berusaha menaklukkan gelombang bah. Ya, berusaha menaklukkan bah yang kian ganas menghajar dirinya. 

“Nak! Naiklah ke kapal bersamaku. Aku akan memaafkanmu!” seru sang ayah. Tetap bersikap kasih kepada putranya. Yang membuat hatinya perih. 

“Tidak! Tolong!” teriak sang putra meminta tolong. Namun, nyawanya tidak terselamatkan lagi. Gelombang bah melahapnya dan menghempaskannya. Entah ke mana.

Menyaksikan goresan nasib buruk sang putra yang malang itu, hati ayah manakah yang tidak menangis, meski ia seorang Nabi. Ia pun, kemudian, mengeluh kepada Tuhannya, “Tuhan. Bukankah ia adalah keluargaku. Bukankah Engkau akan menepati janji-Mu dan Engkau adalah Hakim Yang Paling Agung?” (QS Hûd [11]: 45).

“Bukan! Ia bukan keluargamu. Perilakunya buruk sekali. Karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikatnya. Aku peringatkan engkau, hendaklah engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh,” jawab Tuhan. Memperingatkan sang Nabi.

“Tuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu dari memohon sesuatu yang tidak aku ketahui hakikatnya,” ucap Nabi Nuh a.s. Seraya memohon ampun kepada Tuhannya.

Suatu pelajaran indah ditebarkan lewat kisah indah dalam sebuah peristiwa yang terjadi antara sang Nabi dengan putranya: kisah hubungan antara dua generasi yang bertolak pandangan dan gaya hidup mereka. Kisah itu memberikan pelajaran: peristiwa serupa itu dapat saja terjadi pada setiap keluarga. Seorang ayah, misalnya, ingin membantu anaknya, tapi sang anak menolak bantuan itu. Bila sang ayah seorang jenderal, sang anak tidak ingin mengikuti jejaknya. Bila sang ayah seorang pengusaha, sang anak ingin menjadi pelukis. Biasanya sang ayah ingin membantu. Namun, sang anak ingin mandiri dan menjadi pribadi yang lain serta memiliki jalan hidup sendiri tanpa mau menengok pengalaman hidup sang ayah. Hal itu dapat terjadi karena sang anak tidak mau dikatakan bahwa dia berhasil karena orang tuanya dan dia tidak layak menerima keberhasilan itu. 

Kisah antara Nabi Nuh a.s. dan putranya itu juga menyajikan suatu suri teladan: sang Nabi tidak memaksakan kehendaknya kepada putranya. Ia hanya memberikan saran yang semestinya dilakukan sang putra. Meski ia tahu, sang putra tidak akan selamat. Sedangkan sang putra mempunyai kebebasan menentukan sikapnya sendiri. Dengan pertanggungjawaban penuh atas tindakannya, tentu saja. 

Menikmati Kehidupan Baru

Kemudian, ketika banjir telah meluluhlantakkan semua orang yang menyembah selain Allah Swt., dan banjir telah surut dan badai telah mereda, Allah Swt. pun memerintahkan Nabi Nuh a.s. dan para pengikutnya turun dari kapal, untuk menikmati kehidupan baru yang sarat dengan kesejahteraan dan keberkahan dari-Nya, “Hai Nuh. Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan (kelak) ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (QS Hûd [11]: 48). 

Selepas turun dari kapal, Alquran tidak menuturkan kisah kehidupan Nabi Nuh a.s. selanjutnya. Demikian halnya, Kitab Suci itu juga tidak menuturkan apakah setelah turun dari kapal itu sang Nabi tinggal di Kota Cizre, Turki dan juga tidak menuturkan bahwa ketika berpulang (menurut sebagian sumber) sang Nabi dikebumikan di Makkah. Juga, Alquran tidak meneguhkan pandangan yang menyatakan bahwa setelah berpulang, sang Nabi dimakamkan di sebuah daerah di Lebanon, tepatnya di Karak, seperti dikemukakan Dominique dan Janine Sourdel dalam sebuah karya berjudul Dictionnaire historique de l’Islam. 

Di sisi lain, Peristiwa  “Banjir dan Badai  Nuh” itu, pada zaman  modern,  telah  menarik perhatian  sejumlah  ilmuwan. Pada  September  2001  M, misalnya, sebuah  ekspedisi  gabungan  Bulgaria-Amerika  Serikat   berusaha melacak jejak sejarah kuno itu. Ekspedisi gabungan yang  didukung 19  ilmuwan kenamaan bertolak dari pelabuhan Varna  di  Bulgaria. Selama  ekspedisi yang berlangsung selama 30 hari itu, mereka  berusaha  menemukan sisa  kehidupan  manusia di dasar Laut Hitam.  Sebab,  ada suatu  teori yang mengemukakan, di sekitar daerah aliran sungai itu-sebelum menjadi Laut  Hitam  sekitar 7.600 lalu-sebenarnya sudah  ada  kehidupan penerusan dari kebudayaan Mesir dan Mesopotamia. Di saat itulah diperkirakan Nabi Nuh a.s. hidup.

“Lunas sudah, utang saya kepada kiai sepuh itu: menjelaskan secara gamblang kisah Nabi Nuh a.s.!” gumam pelan bibir saya. Ketika mengakhiri jawaban pertanyaan yang diajukan kiai sepuh tersebut. Yang kini telah berpulang ke hadirat Sang Pencipta. 

Semoga jawaban ini menjadi amal jariyah kiai sepuh itu. Di alam baka. Allâhumma âmîn. (*)