Selebriti

Janet Jackson Sebut Sosok Ayah sebagai Pahlawan

LOS ANGELES, SENAYANPOST.com – Janet Jackson kini merupakan sosok ikon pop di kalangan penyanyi wanita. Hingga saat ini, dia memiliki banyak lagu yang hingga saat ini masih banyak diperdengarkan di seluruh dunia.

Namun, kesuksesan ini tidak dapat dia raih tanpa ada dukungan dari orang lain. Terlebih pada saat dirinya masih muda, Janet pernah merasakan depresi lewat ejekan mengenai warna kulitnya.

Salah satu yang bisa membuat dia terus menjalani hidup adalah sosok sang ayah, Joe Jackson. Dia menyebut sosok sang ayah yang kini berusia 89 tahun tersebut sebagai pahlwan, yang membuat dirinya bisa ada ada di tempatnya sekarang.

“Sangat indah, merendahkan untuk diakui sebagai seseorang yang memiliki dampak positif, tetapi jika saya cukup beruntung untuk mempengaruhi orang lain, itu hanya karena saya sendiri telah sangat dipengaruhi oleh orang-orang positif di hidupku,” ujar Janet seperti dikutip dari laman E! Online, Minggu (24/6/2018).

“Ibu saya merawat saya dengan cinta yang paling luar biasa yang bisa dibayangkan, ayah saya, ayah saya yang luar biasa, membuat saya menjadi yang terbaik yang saya bisa,” lanjutnya, sepeprti diwartakan okezone.com.

Sayangnya, kini sosok sang ayah yang sangat dia cintai tengah terbaring lemas di rumah sakit. Hal ini dikarenakan pada Jumat (22/6/2018) malam waktu setempat, Kondisi Joe semakin menurun.

Joe dikabarkan mengidap penyakit kanker terminal yang telah dialaminya selama beberapa tahun terakhir. Dan kabarnya, kini dia tengah berjuang dengan kanker yang sudah ada di stadium akhir tersebut.

Saat ini, Joe sedang ditemani oleh salah satu saudari dari Janet, yakni Katherine Jackson. Seluruh anggota keluarga dan para penggemar dari keluarga Jackson saat ini berharap jika Joe dapat melawan penyakit tersebut.

Sekedar informasi, beberapa waktu lalu Janet bercerita bagaimana dia pernah mendapatkan masa-masa terberat dalam hidupnya. Kala itu, dia tengah berusia 30 tahun, dan harus menghadapi masa depresi berat yang dikarenakan berbagai hal, termasuk masalah pekerjaan dan juga diskriminasi.

“Saat itu adalah tahun-tahun yang sulit, ketika saya berjuang dengan depresi. Saya berjuang dengan keras. Saya bisa menganalisis sumber depresi saya selamanya. Harga diri yang rendah mungkin berakar pada perasaan rendah diri di masa kecil. Itu bisa berhubungan dengan kegagalan untuk memenuhi standar yang sangat tinggi,” ujarnya.

Untungnya, dia berhasil melewati masa-masa tersebut setelah anak laki-lakinya, Eissa.

“Kebahagiaan tertinggi saya adalah pada saat menggendong bayi lelaki saya di pelukan saya dan mendengar suaranya, atau ketika saya melihat matanya yang tersenyum dan melihatnya menanggapi kelembutan saya,” pungkasnya. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close