Lintas Daerah

Jambi Buka Posko Penyerahan Ikan Predator

JAMBI, SENAYANPOST.com – Sebagai tindak lanjut adanya pelepasan ikan predator arapaima di Sungai Brantas, Jawa Timur beberapa waktu lalu yang mengancam ekosistem ikan lokal, Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jambi membuka posko penyerahan ikan predator.

“Posko penyerahan ikan predator ini dilakukan seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi,” kata Kepala BKIPM Jambi, Ade Samsudin, di Jambi, Selasa (3/6/2018).

Ia mengatakan, BKIPM Jambi selain mendirikan Posko juga turun langsung ke masyarakat dengan mendatangi sentra-sentra penjualan ikan hias dan eksotis yang ada di Kota Jambi untuk mensosiliasikan tentang ikan-kan yang berbahaya dan buas, seperti arapaima, alligator, piranha dan ikan dilarang lainnya.

Dalam sosialisasi itu, BKIPM Jambi mendatangi lokasi pedagang atau toko ikan hias, di antaranya di kawasan pedagang ikan hias di Pasar TAC, toko Ardi Aquarium Simpang Kawat, Johor Jaya Aquarium, Posfilex serta masyarakat di sekitar Danau Sipin dan Danau Teluk.

Sebagai wujud kepedulian lingkungan dan patuh hukum, masyarakat maupun pedagang ikan hias tersebut dihimbau untuk secara sukarela menyerahkan ikan yang dilarang kepada para petugas BKIPM Jambi mulai tanggal 1 -31 Juli 2018 di Posko penyerahan ikan berbahaya dan invasife.

Saat tim dari BKIPM Jambi melakukan sosialisasi dilapangan, menemukan puluhan jumlah ikan aligator yang termasuk ikan predator dan invansif di salah satu toko penjual ikan hias dikawasan Simpang Kawat, Kota Jambi.

Di toko ikan itu, ada sekitar puluhan ekor aligator ukuran kecil sekitar 10 centimeter dan satu ekor dalam ukuran besar sekitar 30 centimeter. “Kepada pemilik ikan diharapkan dapat menyerahkannya kepada posko sesuai batas waktu yang ditetapkan,” ujar Ade.

Dijelaskannya, pemilik ikan piranha, aligator dan arapaima bakal dijerat hukuman penjara maksimal enam tahun serta denda sebesar Rp2 miliar. Pasalnya, ikan tersebut termasuk dalam 152 jenis ikan yang dilarang sesuai Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 yang sifatnya berbahaya dan invasif sehingga dikuatirkan mendominasi ekosistemnya.

Kepemilikan ikan kategori berbahaya dan invasif tersebut dilarang keras oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ikan arapaima masuk didalam daftar 152 ikan berbahaya dan invasif. Ikan arapaima gigas ukurannya bisa mencapai tiga meter dan ikan ini dikenal sangat rakus dan kerap memangsa ikan-ikan kecil yang berada di perairan tawar.

Selain ikan arapaima, jelas dia, ikan lainnya yang termasuk kategori berbahaya dan invasif, yaitu piranha. Piranha yang hidup di Amazon Brasil sangat berbahaya bila dibawa ke Indonesia dan dilepasliarkan. (JS)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close