Jalan Tikus Menuju Kematian

Jalan Tikus Menuju Kematian

Oleh: H.M. Amir Uskara

JALAN tikus ramai pemudik bikers, para pengendara sepeda motor. Asap knalpot sepeda motor pun berhamburan, menyesakkan dada. 

Dampaknya, tubuh lemah karena menyerap banyak karbon dioksida dari asap bikers. Mereka juga kekurangan oksigen. Akibatnya, badan loyo. Dalam kondisi tubuh yang letih, virus pun mudah menyerang. Dampaknya, banyak orang terinfeksi Covid-19.

Itulah gambaran pemudik ke Jawa, yang ramai-ramai naik sepeda motor, sejak awal pekan keempat Bulan Ramadhan. Ratusan ribu, bahkan jutaan orang bersepeda motor (bikers) nekad menerobos barikade polantas, tentara, dan provost yang menghadang mereka, agar tak melanjutkan perjalanan mudik ke Jawa. Ke Jawa maksudnya, daerah atau kampung di Jawa Tengah dan Jawa Timur --  tempat lahir mayoritas penduduk Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). 

Para bikers ini, punya cara untuk menghindari blokade petugas keamanan di setiap persimpangan. Caranya mencari jalan tikus yang menuju ke timur. Sekecil apa pun jalan tikus itu. Toh nanti jalan tikus akan bermuara ke jalan besar. Prinsip yang dipegangnya: semua jalan menuju Roma. Semua jalan tikus pada akhirnya bermuara ke jalan raya. Melalui jalan raya ini, bikers berharap sampai ke rumahnya di suatu daerah. Di Jateng, Jogya,  atau Jatim. 

What next? Ternyata, banyak yang tak menikmati mudik untuk bercengkerama dengan orang tua, saudara, dan handaitolan. Baru datang dari Jakarta, langsung diminta ketua RT agar ia dikarantina selama 14 hari di kampungnya. Empat belas hari adalah masa inkubasi virus corona untuk menggerogoti tubuh.

Itu masih mendingan. Karena banyak bikers yang belum sampai ke tujuan, sudah harus diisolasi dan dirawat. 

Terinfeksi di jalan? Entahlah. Yang jelas,  belum sampai rumah, ribuan bikers sudah terinfeksi virus corona. Entah virus itu menyerangnya kapan. 

Airlangga Hartarto, ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dalam laporannya di Youtube Senin (10/5/2021) menjelaskan, dari 6.472 pemudik di 381 titik pengetatan atau penjagaan Operasi Ketupat, diketahui 4.123 orang yang terinfeksi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.686 di antaranya langsung menjalani isolasi mandiri. Kemudian, kata Airlangga, ada 75 orang yang dirawat di rumah sakit.  

Saat itu, kata Airlangga, ada sekitar 41.000 kendaraan yang telah ditindak petugas, lalu  diminta memutar balik ke tempat asal keberangkatan.

"Dalam Operasi  Ketupat, jumlah kendaraan yang distop 113.694; diminta putar balik 41.097, dan pelanggaran travel gelap 306 kendaraan," tutur Airlangga.

Tentu saja, jumlah kasus positif yang ditemukan pada para pemudik, terutama bikers, sangat mencengangkan. Karena positivity rate-nya mencapai 63,7 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sampling di indonesia. Saat grafik kasus positif mencapai puncak, setelah ada libur panjang, paling tinggi sekitar 30 persen angka pisitivity rate-nya. Tapi sekarang, pada samping terhadap pemudik, pisitivity ratenya mencapai 63,7 persen. Ini sangat besar. Bayangkan, positivity rate dalam pengendalian Covid-19, standar WHO adalah 5 persen. 

Lalu, apa kata dunia bila positivity rate dari sampling acak pemudik mencapai 12 kali lipat lebih dari standard WHO? Jelas mengerikan sekali. Karena, ternyata kondisi penyebaran covid di Indonesia sudah sangat luas. Tapi, selama ini tertutupi pemodelan statistik dengan data minim dari sampling mini. Maka itulah yang tersaji di papan pengumuman Satgas Pengendalian Covid Nasional yang kemudian diberitakan tivi dan sosmed. Faktanya jauh panggang dari api.

Haruskah kita heran dengan pisitivity rate sangat tinggi itu? Ternyata tidak. Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dr. Dicky Budiman, misalnya, tak heran mengapa positivity rate dari tes acak pemudik melampaui kasus positif  harian Indonesia. Sebab, menurutnya, angka harian kasus positif di Indonesia, sebetulnya 10 kali lipat dari yang dilaporkan. Wow. Saat ini, tanggal 11 Mei 2021, kasus positif harian Indonesia mencapai 11.278 orang. Ini kasus positif tertinggi sejak Januari 2021. 
Hampir pasti, ini akibat klaster pasar, mudik, dan kerumunan lain jelang Idul Fitri. 

"Sebetulnya kasus yang terjadi di masyarakat lebih banyak, lebih tinggi, dari pemodelan epidemiologi itu. Setidaknya 10 kali dari yang dilaporkan pemerintah melalui Satgas Covid-19," jelas Dicky.

Kita tahu, kasus positif  harian yang terpampang di pengumuman pemerintah berkisar 5-11 ribuan hingga hari ini. Jumlah tersebut sangat kecil untuk negara dengan populasi 270 juta. Banyak pakar epidemiologi mempertanyakan, apa benar kasus positif tersebut serendah itu? 

Para pakar tersebut meragukan informasi resmi pemerintah. Alasannya karena jumlah tracing dan testingnya minim. Jauh dari prosentase jumlah penduduk Indonesia. 

Lalu, kenapa demikian parah kondisi Indonesia? Kata Dicky, karena level corona di Indonesia sudah masuk tahap 'community transmission' (CT). Tahap tersebut, kata WHO, menandakan kondisi yang parah. Dan keparahan itu penyebabnya adalah minimnya tracing, testing, dan treatment (3T). Indonesia, termasuk negeri yang menerapkan 3T jauh di bawah standar WHO. 

Dari perspektif inilah kita memahami kenapa pemerintah melarang mudik. Bahkan mudik dalam satu wilayah kota  yang sama atau kota satelit terdekat (aglomerasi). 

Masyarakat hendaknya sadar bahwa kondisi covid di Indonesia sebetulnya sudah parah. Apalagi sekarang, banyak orang India yang berdatangan ke Indonesia. Sebab sangat mungkin orang India yang datang ke Indonesia ini membawa virus mutan B.I. 617 asal India yang daya tularnya sangat tinggi dan tingkat infeksinya sangat memberatkan.

Kita harus ingat,  apa yang terjadi saat ini di India berawal dari klaster-klaster yang tidak terdeteksi sehingga kemudian menjadi bom waktu dan tsunami Covid-19. Kondisi tersebut kini sedang berlangsung di Indonesia. 

Di antara salah satu klaster yang mobilitasnya tinggi jelas adalah pemudik. Kita harus mengingatkan mereka, bahwa jalan tikus yang ditempuhnya, sesungguhnya jalan menuju kematian. Ingat klaster pemudik ini jumlahnya lebih banyak dari klaster Kumbh Mela, mandi di sungai Gangga ramai-ramai, yang kemudian memicu tsunami Covid-19 di India. Klaster Kumb Mela hanya berkisar ratusan ribu orang. Sedangkan klaster pemudik jutaan orang.

*H.M. Amir Uskara, Anggota DPR RI Fraksi PPP