Jaksa Segera Hadirkan Azis Syamsuddin Jadi Saksi Sidang Walkot Syahrial

Jaksa Segera Hadirkan Azis Syamsuddin Jadi Saksi Sidang Walkot Syahrial
Azis Syamsuddin

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Jaksa penuntut umum pada KPK mengungkap awal mula Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin mengenalkan Wali Kota (Walkot) Tanjungbalai nonaktif M Syahrial ke AKP Stepanus Robin Pattuju saat masih menjadi penyidik KPK. Jaksa menyebut bakal berupaya menghadirkan Azis di persidangan sebagai saksi kasus tersebut.

"Ya sesuai dengan BAP nanti kita upayakan. Jadi memang si terdakwa ini sebelum bertemu dengan Stepanus Robin Pattuju, itu bertemu dulu, melakukan pertemuan di rumah Pak Azis Syamsuddin. Jadi perkenalannya di situ," kata JPU pada KPK, Budhi S, usai sidang di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (12/7/2021).

Budhi menyebutkan sesuai dakwaan yang telah dibacakan, Syahrial selaku Walkot Tanjungbalai memberikan uang sebesar Rp 1,6 miliar ke Stepanus Robin Pattuju yang saat itu masih menjadi penyidik KPK. Suap itu diberikan kepada AKP Robin agar perkara jual-beli jabatan yang tengah diselidiki oleh KPK kala itu tidak diproses.

"Jadi kan kita sudah dengar dakwaan yang kami bacakan sesuai dengan apa yang diminta oleh majelis hakim bahwa dakwaan M Syahrial selaku Wali Kota Tanjungbalai itu sudah memberikan uang sebanyak Rp 1, 695.000 kepada Stepanus Robin Pattuju selaku penyidik KPK," katanya.

"Jadi pemberian uang tersebut dimaksudkan agar Stepanus Robin Pattuju bisa membantu terdakwa agar perkara dugaan jual-beli jabatan di Pemerintah Kabupaten Tanjungbalai itu tidak dinaikkan ke tingkat penyelidikan. Karena memang pada saat itu, KPK sedang melakukan proses penyelidikan atas perkara tersebut," imbuh Budhi.

Selain itu, jaksa juga sedang menyiapkan berkas kasus Stepanus Robin Pattuju untuk disidangkan. Dia menyebut kemungkinan besar Stepanus bakal disidangkan di Medan.

"Ini kan pemberi, pemberi kan penahanannya lebih singkat, jadi duluan disidangkan untuk penerima masih dalam pemberkasan. Ya kita sesuai dengan tempus, perbuatan kemungkinan besar di Medan," sebut Budhi.

Jaksa penuntut umum pada KPK mengungkap awal mula Azis Syamsuddin mengenalkan Walkot Tanjungbalai nonaktif M Syahrial ke AKP Robin. Azis disebut mengenalkan Syahrial ke Robin pada Oktober 2020 di kediaman Azis di Jakarta Selatan.

"Pada pertemuan itu, terdakwa dan Muhammad Azis Syamsuddin membicarakan mengenai Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) yang akan diikuti oleh terdakwa di Kota Tanjungbalai, lalu Muhammad Azis Syamsuddin menyampaikan kepada terdakwa akan mengenalkan dengan seseorang yang dapat membantu memantau dalam proses keikutsertaan terdakwa dalam Pilkada tersebut," ujar jaksa.

Setelah Syahrial setuju, Azis kemudian meminta Robin yang saat itu merupakan penyidik KPK menemuinya dan selanjutnya memperkenalkan Robin ke Syahrial. Dalam perkenalan itu, kata jaksa, Robin menyebut bahwa dirinya merupakan penyidik KPK dan menunjukkan tanda pengenal.

"Pada pertemuan itu, terdakwa menyampaikan kepada Stepanus Robinson Pattuju akan mengikuti Pilkada periode kedua Tahun 2021 sampai dengan Tahun 2026, namun ada informasi laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai pekerjaan di Tanjungbalai dan informasi perkara jual beli jabatan di Pemerintahan Kota Tanjungbalai yang sedang ditangani oleh KPK, sehingga terdakwa meminta Stepanus Robin Pattuju selaku Penyidik KPK supaya membantu tidak menaikkan proses penyelidikan perkara jual beli jabatan di Pemerintahan Kota Tanjungbalai yang melibatkan terdakwa ke tingkat penyidikan agar proses Pilkada yang akan diikuti oleh terdakwa tidak bermasalah. Atas permintaan terdakwa tersebut, Stepanus Robinson Pattuju bersedia membantu," ucap jaksa.

Keduanya kemudian saling bertukar nomor ponsel. Beberapa hari kemudian, Robin menghubungi rekannya yang merupakan seorang pengacara, Maskur Husain, terkait permintaan bantuan perkara di daerah Tanjungbalai. Maskur Husain disebut sepakat membantu asalkan ada dana Rp 1,5 miliar.

Singkat cerita, Syahrial juga setuju dan mulai mengirimkan uang ke Robin dengan harapan agar penyelidikan terkait dirinya tidak naik ke penyidikan. Total suap yang diberikan ke Robin berjumlah Rp 1,6 miliar yang diberikan secara bertahap, baik secara transfer maupun tunai.

"Pemberian uang yang dilakukan oleh terdakwa kepada Stepanus Robinson Pattuju yakni melalui transfer bank sejumlah Rp 1.475.000.000 dan secara tunai sejumlah Rp 220.000.000. Sehingga jumlah seluruhnya Rp 1.695.000.000," ucap jaksa.

Atas perbuatannya itu, Syahrial didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.