Ekonomi

Jajaki Bisnis Baru, Pertamina Bakal Produksi Baterai Kendaraan Listrik

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pertamina tengah menjajaki bisnis baru yaitu menjadi produsen baterai guna mendukung elektrifikasi otomotif.

Vice President R&T Planning & Commercial Research & Tehcnology Center Pertamina, Andianto Hidayat, menjelaskan, strategi baru itu untuk menanggapi pergeseran pasar dan juga kebutuhan produsen baterai di dalam negeri.

‘Pertamina bakal menggarap bisnis pabrik baterai lithium di Indonesia,” kata Andianto, saat ditemui di Indonesia Electric Motor Show di Jakarta, Rabu (5/9/2019).

Realisasinya, tambahnya, pada 2021 dan lokasi pabriknya di Jawa Barat. Dia mengatakan akan ada perusahaan baru yang khusus menangani itu, namun ia enggan menjelaskan soal investasi.

“Saya belum bisa ngomong sekarang, tapi ya kita satu line dulu. Kami terbuka, sinergi BUMN juga ada, karena ada beberapa BUMN yang juga mau kerja sama,” katanya.

Suplai produksi baterai Pertamina bakal didukung pabrik bahan baku baterai di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah, yang pernah diklaim bakal menjadi terbesar di dunia.

“Kelanjutan dari proses di Morowali, karena di sana kan punya Inalum (Indonesia Asahan Alumunium) akan bikin komponen baterai. Kami ga masuk di sana (Morowali), Kami cuma ambil hasil dari sana untuk menjadi anoda dan katoda,” ucap Andianto.

Produk baterai yang diproduksi Pertamina dikatakan bakal menyesuaikan permintaan, di antaranya jenis NMC (Lithium Nickel Manganese Cobalt Oxide) dan LFP (Lithium Ferrophosphate).

Andianto juga mengakui peralihan ke model bisnis baru ini buat menanggapi redupnya bisnis perminyakan. Pertamina dikatakan kesulitan menemukan sumber minyak bumi terbaru yang pas untuk dieksplorasi.

“Ya kalau sampai 2035 masihlah, kan mobil-mobil tua masih ada. ‘Sampai titik minyak penghabisan’. Sekarang itu (sumber minyak bumi) sudah kecil, daerahnya sudah terpencil, atau di dalam laut, makin mahal. Ada tetapi makin sulit diperoleh, eksplorasinya mahal. Mungkin di laut, atau mungkin juga tidak terkonsentrasi dalam satu cekungan. Tidak ekonomis untuk diproduksi,” kata Andianto. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close