Mutiara Hikmah

Jagalah Diri Kalian dari Prasangka!

Jagalah Diri Kalian dari Prasangka!

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

SUATU saat ‘Umar bin Al-Khaththab, selepas menjadi penguasa, melakukan perjalanan jauh, untuk ukuran masa itu, dari Madinah Al-Munawwarah ke Homs, Suria: sekitar 1.500 kilometer. Kala itu, perjalanan dengan naik unta antara dua kota itu, memerlukan waktu sekitar 40 hari. Duh, lama dan jauh betul!

Kemudian, ketika penguasa yang bernama lengkap Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza Al-Qurasyi dan lahir 13 tahun selepas kelahiran Rasulullah Saw., atau sekitar 584 M, di Makkah itu  tiba di Homs, kepada warga Homs yang ia temui ia menanyakan perihal gubernur mereka: Sa ‘id bin ‘Amir.  Ternyata, semua warga wilayah itu menyenangi Sa‘id bin ‘Amir sebagai gubernur mereka. Akan tetapi, ada tiga hal yang kurang mereka senangi pada diri sang gubernur.

Mendengar keluhan yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab pun menyuruh Sa‘id bin ‘Amir untuk  mengumpulkan warga Homs. Mereka diminta berbicara langsung dengan ‘Umar dan gubernur mereka. Selepas semua warga Homs berkumpul, ‘Umar bin Al-Khaththab lantas bertanya kepada mereka, “Apa yang tidak kalian senangi pada diri gubernur kalian?”

“Amir Al-Mukminin! Gubernur kami ini aneh! Ia, setiap kali menemui rakyatnya, selalu siang hari saja,” keluh mereka. Berbarengan.

“Sa‘id! Kini jelaskan kepada rakyatmu, apa alasanmu berlaku demikian,” ucap sang penguasa.

“Sejatinya saya enggan mengemukakan hal itu, Amir Al-Mukminin. Namun, karena mereka menanyakan hal itu, saya akan menjawabnya. Keluarga saya tidak memikiki pembantu. Karena itu, setiap pagi saya  membantu mereka memasak, kemudian menyajikan masakan itu kepada mereka. Lalu, saya makan pagi bersama mereka. Selepas  itu, saya berwudhu dan keluar untuk melihat keadaan warga yang saya pimpin,” jawab Sa‘id bin ‘Amir pelan dan kemudian menundukkan kepala.

Hadirin pun tercengang mendengar jawaban gubernur mereka. Yang tidak mereka sangka sebelumnya.  Kemudian, suami Ummu Hakim binti Al-Harits, Ummu Kultsum binti ‘Ali bin  Abu Thalib, dan ‘Atikah binti Zaid itu bertanya kembali kepada hadirin, “Apalagi yang tidak kalian senangi pada diri Sa‘id bin ‘Amir?”

“Amir Al-Mukminin! Sa‘id juga tidak mau menemui orang yang mau menghadap kepadanya di malam hari!” jawab mereka. Serentak dan penuh semangat.

“Sai‘d! Kini tolong jelaskan, mengapa kau berlaku demikian?” ucap sang khalifah. Dengan nada lebih kencang.

“Sejatinya saya juga enggan mengemukakan hal itu, Amir Al-Mukminin. Akan tetapi, demi kebaikan, hal  itu akan saya jelaskan juga. Amir Al-Mukminin, memang hanya pada waktu siang saya mau mengurusi rakyat. Sedangkan waktu malam hari senantiasa saya gunakan untuk beribadah kepada  Allah. Karena itu, saya tidak mau menemui orang yang datang kepada saya pada malam hari,” jawab Sa‘id bin ‘Amir. Tetap dengan suara pelan.

Kemudian penguasa yang terkenal pemberani dan ikut terlibat dalam sederet pertempuran dan peperangan yang terjadi di masa Rasulullah Saw. itu kembali bertanya kepada warga Homs, “Apalagi yang tidak kalian senangi pada diri pemimpin kalian ini?”

“Dalam satu bulan, selalu ada satu hari di mana gubernur kami  ini tidak mau ditemui siapa pun,” jawab mereka. Serempak.

‘Umar bin Al-Khaththab pun berpaling ke arah Sa‘id bin ‘Amir seraya berucap, “Sa‘id! tolong kini jelaskan  kepada rakyatmu, apa yang engkau kerjakan pada satu hari itu!”

“Amir Al-Mukminin, sejatinya saya malu sekali mengemukakan hal itu di hadapan khalayak ramai. Akan tetapi, demi kebaikan, akan saya kemukakan juga. Sejatinya, saya tidak mempunyai pakaian yang pantas dikenakan kecuali yang melekat di tubuh saya ini. Pada satu hari itu saya mencuci pakaian saya ini, kemudian saya tunggu sampai kering, lalu saya pakai kembali. Itulah yang saya lakukan setiap bulan,” jawab Sa‘id bin ‘Amir. Pelan dan seraya menundukkan kepalanya.

Mendengar jawaban dan penjelasan gubernur mereka yang demikian itu, hadirin banyak yang tak kuasa menahan lelehan air mata mereka. Termasuk ‘Umar bin Al-Khaththab yang sehari-harinya sangat   disegani rakyatnya dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.  Akhirnya,  sebelum pertemuan itu ditutup, penguasa yang berpulang pada Ahad, 1 Muharram 24 H/7 November 644  M itu  berucap, “Alhamdulillâh,  segala prasangka kita tidak terjadi  pada dirimu, Sa‘id! Dan, kalian, warga Homs, jagalah diri kalian dari prasangka!”

“Jagalah diri kalian dari prasangka!”. Itulah pesan pendek ‘Umar bin Al-Khaththab kepada warga Homs, Suriah. Ya, pesan yang pendek, tapi mengena di hati!