Konsultasi Hukum

Itsbat Nikah Dimata Hukum

Pertanyaan :

Tetangga saya pernah cerita, menikah secara agama islam dan telah melibatkan PPN dan telah memperoleh akta nikah, tetapi akta nikanya hilang, lalu sudah menanyakan ke KUA tetapi datanya tidak tercatat.. Dalam keadaan seperti tersebut, bagaimana caranya agar perkawinan nya dapat tercatat di KUA dan untuk kepastian hukum serta melindungi anak-anak di masa depannya.

Munarto, Tanggamus.

Jawabannya

Bukti otentik sebuah perkawinan adalah akta nikah yang diterbitlah oleh Kantor Urusan Agama, dengan demikian perkawinan sudah dicatat sebagaimana amanat  Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan. Jo. Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 sebagai peraturan pelaksananya

Bahwa terkait akta nikah yang hilang dapat dibuat kembali dengan syarat mengajukan Isbat Nikah di Pengadilan Agama bukan ke Kantor Urusan Agama, yang dimaksud isbat nikah adalah permohonan pengesahan pernikahan dimata hukum agar memiliki kekuatan hukum dalam hubungan suami istri dalam membina rumah tangga.

Disamping untuk mengurus akta nikah yang hilang, isbat juga dapat digunakan untuk keperluan lainnya misalnya, juga untuk pengesahan perkawinan yang dahulu melakukan pernikahan secara agama (pernikahan dibawah tangan), juga meneguhkan adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan.

Pentingnya perkawinan didaftar atau dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA), untuk menghindari kesulitan ketika ada ada masalah dikemudian hari misalnya apabila akan melakukan perceraian pendaftaran ibadah haji, penetapan ahli waris, dan lainnya.

Bahkan dalam Kompilasi hukum Islam untuk melindungi hubungan perkawinan dalam sebuah rumah tangga sebagai mana diatur dalam pasal 6 ayat (2)  menyatakan Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan Hukum. Karena dihadapan hukum bukti satu-satunya adanya hubungan perkawinan adlah akta nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.

Untuk itu bagi yang tidak memiliki akta nikah dapat mengurus dengan cara Itsbat Nikah yang harus diajukan ke Pengadilan Agama, tetapi tidak semua itsbat nikah dikabulkan oleh pengadilan, tapi dibatasi sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam ; Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan :

(a) Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;

(b) Hilangnya Akta Nikah;

(c) Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawian;

(d) Adanyan perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang No.1 Tahun 1974 dan;

(e) Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang No.1 Thaun 1974;

Sedangkan ayat  (4) Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.

Demikian jawaban ini semoga bermanfaat.

Supriyadi Adi / LKBH INTAN Bandarlampung

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close