Opini

Isra’ Mi’raj Bukan Sekadar Traveling di Malam Hari

Oleh: Prof.Dr. Syihabuddin Qalyubi, Lc.,M.Ag

DALAM Sirah Nabawiyah atau lazim disebut Sejarah Nabi Muhammad saw disebutkan bahwa ada beberapa kejadian yang melatarbelakangi peristiwa Isra’ Mi’raj. Antara lain Abu Thalib yang senantiasa membela dan melindungi Rasulullah saw dari ejekan dan serangan orang kafir Quraisy meninggal dunia. Beberapa hari kemudian Khadijah binti Khuwailid, isteri tercinta yang banyak mendukung dakwah Nabi saw pun meninggal dunia. Sejak ditinggal kedua orang tercintanya itu, posisi Rasulullah semakin terjepit karena kaum kafir semakin berani mengintimidasi sehingga kegiatan dakwah di Mekkah pun semakin sulit dilakukan. Karena itu Rasul pergi ke Thaif untuk berdakwah, namun penduduk Thaif justru mengusirnya dan melempari batu hingga menyebabkan kaki beliau berdarah. Rentetan peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh dari kenabian. Para sejarawan menamai masa itu ‘Am al-Huzn (tahun berkabung tahun penuh kesedihan)

Dalam konteks seperti itulah Allah swt. memerintah Rasul-Nya untuk untuk Isra’ Mi’raj sebagai tasliyah atau refreshing setelah didera berbagai kejadian yang memilukan. Namun refreshing ini bukan hanya sekedar traveling di malam hari, tetapi ada misi yang diembannya yang kelak harus dilaksanakan oleh semua umat Islam. Peristiwa Isra diabadikan dalam firman Allah:
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar, Mahamelihat.” (al-Isra’: 1)

Pernah terjadi polemik di antara para ulama tempo dulu tentang peristiwa Isra’ Mi’raj ini, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Tafsir al-Maraghi, buah karya Syaikh Muhammad Musthafa al-Mara>ghi. Sebagian ulama berpendapat bahwa Isra’ Mi’raj itu adalah terjadi dalam mimpi Rasulullah saw. Pendapat ini merujuk kepada pendapat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Pendaapat ini didasarkan pada analisis teks ayat di atas dan konteks kesaksian para sahabat.

Dalam tradisi orang Arab (sebagimana terjadi juga pada tradisi umat Islam di Indonesia) ada beberapa ungkapan yang lazim mereka ungkapkan secara spontan, yaitu jika mereka mendapatkan nikmat secara spontan diucapkan hamdalah/ alhamdulillah, dan jika mereka mendapatkan malapetaka diucapkan tarji’/ inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Di samping itu jika mereka melihat atau mengetahui berita yang besar dan menakjubkan mereka mengucapkan tasbih /subhanallah. Ayat di atas dimulai dengan kata subhana, hal ini mengandung arti taqdis yaitu pensucian Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya juga sebagai ungkapan bahwa dalam ayat itu ada informasi yang hebat dan menakjubkan yaitu informasi Isra’ Mi’raj Rasulullah saw yang dilaksanakan secara riil, karena jika kejadian itu hanya mimpi bukanlah peristiwa yang menakjubkan, karena siapa saja bisa bermimpi apa saja.

Pendapat tersebut diperkuat lagi dengan kejadian yaitu sekembali Rasulullah saw dari Isra’ Mi’raj beliau menceritakan pengalamannya kepada penduduk Mekah. Orang Quraisy pada umumnya tidak percaya cerita itu malahan memperolok-olokkannya. Respon mereka seperti itu sebagai bukti bahwa Isra Mi’raj itu dilakukan secara riil, karena jika peristiwa itu terjadi dalam mimpi niscaya orang Quraisy menganggap biasa saja dan tidak akan merespon secara negatif. Kala itu hanya Abu Bakr yang membenarkannya, seraya ia berkata: “Jika Muhammad saw berkata seperti itu, sungguh dia telah berkata jujur.” Abu Bakr mempercayai Isra Mi’raj tanpa keraguan sedikitpun, dia berkata: “Sungguh aku tidak ragu sedikit pun apa yang dikatakan Muhammad. Bahkan lebih dari pada itu aku membenarkannya atas warta-warta langit yang datang pada waktu pagi atau pun sore hari.” (HR Imam Al Hakim, al-Mustadrak No 4407). Atas kejadian inilah Abu Bakar mendapat panggilan Ash-Shiddiq (orang yang membenarkan).
Bukti lain yang memperkuat pendapat Isra’ Mi’raj riil secara fisik bukan mimpi adalah pilihan diksi asra yang bermakna Allah memperjalankan Muhammad saw di waktu malam bukan sara yang berarti Muhammad berjalan di tengah malam. Pada kalimat kedua bermakna Nabi Muhammad sendiri berjalan di tengah malam, sedangkan dalam kalimat pertama berimplikasi makna ada keterlibatan Allah secara langsung untuk memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan Sidratul Muntaha, lalu kembali ke Mekah dengan waktu tempuh perjalanan dalam satu malam. Padahal jarak kedua masjid sesuai informasi dari Google sekitar 2780 KM yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 560 jam (sekitar 24 hari dan 24 malam) tanpa berhenti.
Jika Allah swt sudah berkehendak tidak ada suatu pun yang imposible. Alquran sebetulnya juga sudah menginformasikan perjalanan yang super cepat yang pernah dilakukan oleh nabi Sulaiman as. Sebagaimana diinformasikan dalam surat Saba: 12

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula).”

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz “Allah mengabarkan bahwasanya sebagaiamana dikaruniakan sebagian mukjizat kepada Dawud; Begitu juga dikaruniakan kepada anaknya yaitu Sulaiman yang memiliki kerajaan dan kenabian. Allah tundukkan bagi Sulaiman angin yang membawa pasukan Sulaiman, yang berjalan sejak awal siang yang perjalanannya sama dengan satu bulan, begitu juga berjalan di sore hari yang perjalanannya sama dengan satu bulan, yang semestinya sampai dalam waktu dua bulan, maka cukup bagi Sulaiman dengan satu hari saja.” Informasi ini menunjukkan betapa cepatnya perjalanan nabi Sulaiman.

Selanjutnya missi Rasulullah saw. dalam Isra’ Mi’raj adalah untuk menerima titah Allah swt kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Banyak hadits yang meriwayatkan tentang peristiwa penting ini, antara lain hadits riwayat al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, 3674. Disebutkan bahwa pada awalnya Rasulullah mendapat perintah shaalat sebanyak 50 waktu, lalu beliau dialog dengan Musa as., hasil dialog itu dikomunikasikan lagi kepada Allah swt. pada akhirnya Rasulullah saw dan umat Islam semuanya mendapat kewajiban shalat sehari lima waktu. Mungkin muncul pertanyaan mengapa Allah swt tidak langsung mewajibkan shalat lima waktu. Dalam hikmah al-tasyri’ disebutkan bahwa hikmah adanya dialog itu untuk mengilustrasikan betapa kasih sayang Allah yang Rahman dan Rahim kepada umat Muhammad saw. beserta umatnya. Sekalipun pada akhirnya kewajiban shalat itu lima waktu tapi pahalanya sama seperti shalat lima puluh waktu. Hiya khamsun wa hiya khamsun (Lima waktu itu setara dengan lima puluh waktu) sebagaimana bunyi hadits riwayat al-Bukhari dalam Kitab ash-Shalah 342 dan Muslim dalam Kitab al-Iman 163.

Ditinjau dari prosedur dan proses kewajiban shalat lima waktu ini sangat berbeda dengan prosedur dan proses kewajiban ibadah yang lainnya. Kalau dalam kewajiban ibadah lainnya Allah swt cukup berfirman kepada Nabi Muhammad saw di bumi ini, tetapi perintah kewajiban shalat lima waktu Muhammad saw diminta menghadap ke Sidratul Muntaha, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Najm dan diilustrasikan betapa dekatnya baginda Rasul saw dengan Jibril yang sedang mengemban perintah Allah:
“sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (al-Najm: 7-10)

Pada bulan Rajab ini, sebetulnya, umat Islam diingatkan untuk semakin memperhatikan shalat lima waktu, dalam pengertian pelaksanakan shalat bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, tetapi juga untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah swt sehingga pelaksanaan shalat menjadi suatu kebutuhan, dengan mengabaikan perdebatan hal-hal yang tidak diperlukan.

Prof.Dr.Syihabuddin Qalyubi, Lc.,M.Ag, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close