Iran Tangkap Pimpinan Kelompok Teroris yang Didukung AS

Iran Tangkap Pimpinan Kelompok Teroris yang Didukung AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Iran mengaku menangkap kepala “kelompok teroris” yang bermarkas di AS yang dituduh berada di balik pemboman di kota Shiraz pada 2008 dan serangan-serangan lainnya.

“Jamshid Sharmahd, yang memimpin operasi bersenjata dan menyabotase di dalam negeri Iran, sekarang berada di tangan yang kuat dari pasukan keamanan Iran,” kata televisi pemerintah, mengutip pernyataan kementerian intelijen, dikutip dari AFP.

Namun, pernyataan itu tidak menjelaskan di mana atau kapan pemimpin kelompok oposisi yang dikenal sebagai Majelis Kerajaan Iran, atau Tondar (bahasa Farsi untuk halilintar), itu ditahan.

Pernyataan ini tak menjelaskan bagaimana Iran menangkap Sharmahd. Kementerian intelijen hanya menyebutnya sebagai “operasi rumit”.

Menurut laman asosiasi terkait, Sharmahd lahir di Teheran pada tahun 1955 dan tumbuh dalam keluarga Iran-Jerman sebelum pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2003. Saat itu, ia mulai menyuarakan pernyataan anti-republik Islam.

Tondar menolak sistem politik Iran dan memulai kampanye untuk menggulingkan republik Islam dengan membangun kembali monarki atau kerjaaan yang mirip dengan Cyrus Agung.

Iran kemudian mengecam musuh bebuyutannya, Amerika Serikat, yang menjadi tuan rumah bagi Sharmahd dan “mendukung para teroris terkenal yang mengklaim bertanggung jawab atas beberapa aksi teroris di Iran”.

“Rezim ini harus menjawab atas dukungannya terhadap kelompok teroris ini dan kelompok-kelompok lain serta para penjahat yang mengatur operasi-operasi bersenjata, sabotase, dan teroris terhadap rakyat Iran dari dalam Amerika dan menumpahkan darah Iran,” kata pernyataan kementerian luar negeri Iran.

Kementerian intelijen mengatakan Sharmahd telah mengatur pemboman di sebuah masjid yang penuh dengan jemaah di Shiraz yang menewaskan 14 orang dan melukai 215 lainnya, 12 April 2008.

Pernyataan itu juga menyatakan para teroris menerima perintah dari “agen CIA” yang didukung AS yang saat itu diidentifikasi Iran sebagai “Jamshid”. Mereka disebut mencoba membunuh seorang pejabat tinggi di Iran.

Kelompok ini terdiri dari Mohsen Eslamian (21) dan Ali Asghar Pashtar (20), yang keduanya merupakan mahasiswa, serta Rouzbeh Yahyazadeh (32). Ketiganya dinyatakan bersalah dengan tuduhan “mohareb” (musuh Tuhan) dan “korupsi di bumi” oleh pengadilan revolusioner di Teheran.

Iran menggantung dua anggota lain kelompok itu pada 2010, yang “mengaku telah mendapatkan bahan peledak dan berencana untuk membunuh para pejabat”. Pernyataan yang dikeluarkan pada hari Sabtu mengatakan bahwa Tondar telah merencanakan beberapa “operasi besar” lainnya yang gagal.

Dikatakan bahwa Tondar telah merencanakan untuk meledakkan sebuah bendungan di Shiraz, menggunakan “bom sianida” di sebuah pameran buku Teheran, dan menanam alat peledak di makam pendiri Republik Islam itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Kementerian intelijen Iran menerbitkan sebuah gambar seorang pria berambut abu-abu dalam sebuah penutup mata yang katanya adalah Sharmahd. Namun, tidak disebutkan di mana atau kapan foto itu diambil.

Sebelumnya, Iran juga mengumumkan penangkapan mantan tokoh oposisi, Ruhollah Zam, lewat “operasi yang canggih dan profesional”. Zam, yang dituding Pengawal Revolusi Iran sebagai “kontra-revolusioner yang diarahkan oleh dinas intelijen Prancis”, dijatuhi hukuman mati pada bulan Juni karena “korupsi di bumi”.

Diketahui, hubungan Iran dan Amerika terus memanas akibat tudingan kepemilikan senjata nuklir dan sanksi ekonomi. AS kerap menuding Iran sebagai negara teroris.

Hubungan keduanya makin memanas usai pembunuhan terhadap komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Qasem Sulaemani oleh drone Amerika. PBB menyebut hal itu melanggar hukum internasional.