Serial Detektif (4)

Invisible Hands

Invisible Hands

Oleh Joko Sriyono

SINOPSIS

Untuk mendukung Priyo Sejati menjadi presiden di periode kedua, Rahmad Hidayat dan tim sukses harus bisa mengalahkan Sekjen Partai Buruh, Ekadasa, dan menggiring masuk ke dalam partai koalisi. 

Bukan hanya itu, tim sukses juga harus mencari ATM baru untuk membiayai banyaknya ormas-ormas, pendukung dan simpatisan Priyo Sejati yang mulai bermunculan di semua wilayah.

Bagaimana cara menaklukkan politisi bersih seperti Ekadasa? Seberapa kuat peran Muhammad Hasyim sebagai Ketua Parlemen? Dan mengapa polisi membiarkan para bandar narkoba kelas kakap seperti Jimmy berperang dengan bandar-bandar lainnya?

Ikuti ceritanya secara berurutan: 

**********

JOGJAKARTA. Bandara Adisutjipto, pukul 23.45. Nampak sebuah pesawat jet pribadi Beechcraft King Air-260 berpenumpang tujuh orang mendarat di landasan pacu. Terlihat dua unit mobil Toyota Fortuner hitam mendekat ke arah pesawat. Ternyata itu utusan Rahmad Hidayat yang akan menjemput Joe dan ajudannya.

Saat pintu pesawat dibuka, satu orang penjemput memberikan hormat kepada Joe dan mempersilakan masuk ke dalam salah stau mobil. Sedangkan ajudan Rahmad sambil meneteng sebuah tas kecil mengikuti langkah di belakang Joe, namun ia diarahkan ke mobil lainnya.

Petugas penjemput menyampaikan bahwa ada laporan terbaru yang berada di mobil dan bisa langsung dibaca Joe. Mereka juga menyampaikan akan langsung menuju hotel, di sana ada anggota tim yang selama ini sudah menunggunya.

Iring-iringan kendaraan ini meninggalkan landasan pacu dan kemudian menuju pintu keluar kendaraan VIP bandara untuk langsung menuju jalan raya. Setelah membelah jalan Kota Jogjakarta, dua unit kendaraan ini langsung masuk ke halaman hotel.

Joe meminta coffee corner hotel yang sudah tutup untuk dibuka kembali, karena mereka akan menyewa untuk meeting mendadak. Sambil menikmati kopi dan pisang goreng dadakan, semua anggota tim Joe berkumpul. Anggota tim sesuai tugas dan spesialisasinya sudah membawa laporan masing-masing.

Di atas meja besar di ruangan itu terlihat beberapa lembar foto Ekadasa dan Indriyani, telihat juga print out beberapa kertas lain, nampak juga alat-alat komunikasi canggih. Bahkan ada blue print denah bangunan diskotek dan ruang hotel.

"Tolong informasi dari rekan di penyadapan," tanya Joe, meminta laporan.

Anggota tim bagian penyadapan mengungkapkan, komunikasi antara Ekadasa dan Indriyani terjadi sejak sebulan lalu. Namun mulai intens dalam seminggu terakhir ini. Komunikasi terbaru, keduanya menginformasikan sama-sama sudah berada di Jogjakarta. Mereka merencanakan akan bertemu, namun belum menentukan lokasi secara pasti.

Ia menambahkan, ada beberapa foto yang mereka saling kirimkan, dugaan awal tim penyadapan, itu akan dijadikan lokasi untuk pertemuan keduanya. 

"Setiap ada komunikasi yang mengarah ke pertemuan keduanya, akan kami laporkan ke komandan lapangan," kata anggota tim penyadapan.

Joe dan semua anggota menyimak laporan itu. Kemudian ia melirik ke anggota tim penyamaran yang dikomandoi seorang polisi wanita (polwan). 

"Bagaimana, mbak? Kemudian tim taktis lapangan juga laporan," kata Joe.

Polwan itu menjelaskan, tim sudah berada di sekitar lokasi yang dicurigai. Setiap lokasi ada dua hingga tiga personel. Mereka hanya butuh waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk menjangkau target. "Sampai saat ini, semua dalam kendali kita," kata polwan itu.

Kemudian komandan tim taktis lapangan melaporkan, tim mereka dipecah menjadi empat bagian sesuai dugaan pergerakan target. Anggota tim taktis akan terus membuntuti target. "Setiap pergerakan target akan selalu dalam monitor kami," katanya.

Kemudian Joe meminta laporan terakhir dari komandan lapangan. Dijelaskan bahwa semua personel sudah siap dan tinggal menunggu perintah pergerakan dari Bang Joe. 

"Oke, meeting selesai. Kita istirahat, siapkan fisik dan mental," kata Joe menutup pertemuan malam itu.

*************

JAKARTA. Kawasan Depo Kereta Api Manggarai, pukul 03.00. Sekitar 10 orang anak-anak muda hilir mudik di sekitar Depo. Semua akses jalan menuju bangunan itu mereka kuasai. Tidak ada satu orang pun yang berani lewat. 

Penjagaan oleh pria-pria kekar dan nampak kasar, juga terlihat di gang lainnya. Mereka mengusir siapa pun yang berusaha masuk ke dalam.

Hingga akhirnya Jimmy, Sofyan dan anak buahnya muncul. Semua penjagaan langsung dibuka. Mereka mengantar dan mengawal Jimmy hingga masuk ke bangunan Depo yang penuh bangkai-bangkai kereta api dan truk-truk besar. Depo yang awalnya hanya diterangi beberapa lampu besar, kini terang benderang.

Joe memerintahkan Sofyan untuk mencari dan memanggil rekannya yang disandera. "Sinyo, di mana kau?" teriak Sofyan. Teriakannya menggema di dalam bangunan besar ini. 

Tak ada jawaban. Namun terdengar bunyi ketokan besi yang dipukul dengan besi lain. Suara itu awalnya hanya satu di ujung bangunan, lama kelamaan terdengar dari berbagai sudut.

Jimmy, Sofyan dan sekitar 15 anak buahya yang masuk ke dalam bangunan itu kebingungan. Ada ketegangan, kemarahan dan kekhawatiran di wajah-wajah mereka. Semuanya memegang senjata masing-masing.

Saat ketegangan memuncak, tiba-tiba terdengar teriakan keras dari atas sebuah lokomotif yang sudah tidak terpakai. Gelap. Tidak bisa dilihat. Tapi itu jelas suara Sinyo.

"Woe, aku di sini. Di atas. Selamatkan aku!" teriaknya. 

Semua mata mencari-cari asal suara Sinyo. Setelah beberapa saat, tiba-tiba sebuah lampu menyorot posisi Sinyo. Ia dalam posisi tangan terikat ke atas yang diikatkan ke besi selasar atap. Kakinya menginjak dua kotak kayu yang sengaja disusun di atas atap lokomotif di bawahnya. Susunan kotak ini sengaja dibuat sangat labil. Jika ada pergerakan mendadak, kayu akan terjatuh dan Sinyo akan tergantung.

"Setan!! Dimana kalian? Lepaskan anak buahku. Hadapi aku kalau berani!!" teriak Jimmy.

Keberanian Jimmy menantang penyandera Sinyo, membuat Sofyan lebih berani lagi. "Kalian pengecut, beraninya sama satu orang. Keluar kalian semua," kata Sofyan sambil melempar sepotong besi ke lantai di tempat yang luas. Lemparan besi yang sejak tadi dibawa Sofyan itu menimbulkan suara keras.

Terdengar tepuk tangan dari belakang posisi Sinyo yang sedang digantung. Muncul Bagyo dan tiga anak buahnya yang bertubuh kekar dan berotot.

"Gue suka sama gaya kalian. Kalian lebih berani dari cerita yang gue dengar," kata Bagyo.

"Setan, apa mau kalian?" bentak Sofyan, sambil melangkah ke depan mengikuti langkah Jimmy. Ada sekitar lima anak buah mereka juga maju ke depan. Sedang yang lainnya tetap pada posisi di belakang sambil mengamati situasi.

"Jakarta ini pasarku, siapa yang masuk ke sini, harus tunduk pada aturanku. Kalau tidak mau, kalian akan mampus di sini," kata Bagyo.

Jimmy marah. Dia langsung memerintahkan anak buahnya menyerang duluan. "Serang!!!" teriak Jimmy, sambil lari merangsek ke posisi Bagyo yang berada sekitar 20 meter darinya. 

Terjadilah baku pukul yang sangat ramai. Jimmy dengan gigih melawan Bagyo. Keduanya memiliki kemampuan bela diri yang hebat. Sofyan dan hampir semua anak buahnya juga terlibat perkelahian sengit. 

Saat perkelahian berlangsung, ada seorang anak buah Jimmy yang menyusup dan membebaskan Sinyo. Dia langsung diamankan ke mobil yang berada di luar bangunan Depo.

Perkelahian ini berlangsung sekitar setengah jam. Bagyo mulai tersudut. Dalam berkelahi tangan kosong, Jimmy tidak mudah dikalahkan. Namun Jimmy kalah dalam jumlah personel.

Ia harus menyelamatkan diri dan anak buahnya. Ia perintahkan semua anggotanya mundur. "Kita mundur. Kembali ke mobil," teriaknya. 

Semua anggotanya mundur, Jimmy bisa mencapai mobil dan langsung meninggalkan lokasi bentrokan. Ia mencari-cari seseorang. "Eh, Bang Sofyan dimana?" tanya Jimmy ke sopirnya.

"Bang Sofyan sudah duluan balik kanan, bang. Udah lama. Kita disuruh siaga di kendaraan," jawab driver itu, sambil ngebut membelah jalanan Kota Jakarta yang sudah mulai ramai kendaraan.

Setelah Jimmy pergi, polisi datang ke lokasi bentrokan. Terlihat polisi mengamankan beberapa orang, mobil dan juga narkoba.

Kendaraan Jimmy dan dua unit lainnya membelah kota dengan kecepatan tinggi. Mereka mengarah ke Jakarta Utara. Sekitar setengah jam kemudian, ketiga mobil ini masuk ke dalam rumah berpagar tinggi yang jadi markas mereka.

Jimmy melompat turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah itu. Beberapa anak buahnya yang tidak terluka membantu anggota lain yang luka dalam bentrokan tadi. Ada yang mengobati luka pukulan di wajah Jimmy.

Sambil diobati, Jimmy mengamati sekitarnya. Ia tidak melihat tampang Sofyan sejak tadi. Ia curiga. "Bang Sofyan dimana?" tanya Jimmy ke anak buahnya.

"Bang Sofyan ada di ruangan bawah tanah, sudah dari tadi," jawab anggota yang ditanya. Jimmy langsung meminta pengobatannya dihentikan. Ia melangkah ke ruang bawah tanah secara perlahan. 

Ruang bawah tanah itu digunakan untuk menyimpang narkoba yang baru datang dari pengiriman atau yang akan didistribusikan ke bandar-bandar kecil. Jumlah narkoba yang tersimpang di situ sangat banyak. Selain itu, di ruangan itu juga ada laboratorium mini narkoba. Termasuk ruang penyimpanan uang hasil transaksi.

Jimmy melangkah pelan. Ia kaget melihat pemandangan yang ia saksikan di dalam ruang penyimpanan narkoba. Sofyan terlihat tengah terburu-buru berusaha memasukkan kotak-kotak narkoba ke dalam tas ransel miliknya.

"Hai setan! Ngapain kamu!" bentak Jimmy. Ia sudah menduga, Sofyan akan memanfaatkan suasana bentrokan untuk mencuri narkoba. 

Sofyan kaget bukan kepalang, sampai ia terlonjak jatuh. Ia tidak mengira kalau Jimmy akan bisa kembali ke markas mereka, setelah bentrok besar dan terkepung polisi. Ia menduga, Jimmy mati karena dikeroyok atau ditembak polisi. Ternyata dugaannya salah. Jimmy kini berdiri tegap di hadapannya dan semakin mendekat. 

"Kamu setan!" kata Jimmy sambil menendang perut Sofyan. Ia langsung terjungkal dan mengaduh. Jimmy semakin kesetanan. Ia berulangkali menendang dan memukul Sofyan hingga babak belur.

Ternyata Sofyan bukan laki-laki lemah, meski sudah setengah mati, ia tetap membuat perlawanan. Ia keluarkan sebuah pisau lipat, ia balas menyerang Jimmy. Ia berusaha menusukkan dan menyabetkan pisaunya. Jimmy sempat lengah dan lengan kirinya terluka. 

Melihat lengannya terluka, kemarahan Jimmy semakin memuncak. Ia keluarkan pistol dan akan menembak Sofyan dari jarak dekat. Rupanya Sofyan masih memiliki kekuatan, ia sempat menendang lengan kanan Jimmy yang memegang pistol hingga pistol terlepas. 

Keduanya kembali bergulat sambil berusaha menjangkau pistol itu. Di saat tangan kanan Jimmy berupaya menjangkau pistol itu, Sofyan lebih dulu menemukan pisau lipatnya yang tadi terjatuh. Ia berusaha menikam Jimmy, namun Jimmy berhasil mengelakkan perutnya dari tikaman pisau. Tapi sayang, pisau itu mengenai lengan kanannya. Sofyan juga sempat menusuk paha kanan Jimmy hingga dia kesulitan memberikan perlawanan dengan tendangan.

Jimmy yang sudah tidak memiliki kekuatan di kedua lengan dan kakinya mulai pasrah. Apalagi Sofyan berhasil mengambil pistolnya yang tadi terlepas. 

"Hahahaha, ternyata kemampuanmu cuma segitu, Jim? Mana kekuatan yang kau agung-agungkan dulu? Mana? Lihat nih, satu tas isi narkoba penuh, ini duit di tas satunya. Belum lagi yang di brankas. Semua bakal jadi milikku. Kau bakal mampus hahahhaa..," kata Sofyan, dengan tawa kemenangan sambil mengacungkan pistolnya ke arah Jimmy.

Jimmy sudah benar-benar kehilangan perlawanan dan pasti akan kalah melawan Sofyan. Ia pasrah dan siap ditembak kapanpun.

Tiba-tiba pintu ruangan didobrak dari luar. Nampak dua orang mengenakan penutup wajah dan menggunakan rompi anti peluru masuk. "Polisi, angkat tangan semuanya!" kata salah seorang, sambil mengacungkan pistol.

Jimmy dan Sofyan kaget. Keduanya tidak mengira polisi akan menemukan tempat persembunyiaannya. Jimmy yang terluka parah memilih angkat tangan menyerah. Namun berbeda dengan Sofyan. Ia melawan dan langsung menembak ke salah satu polisi. Namun karena dia tidak pernah memegang senjata api, tembakannya meleset. Saat itu juga salah seorang polisi menembak tepat di kepala Sofyan.

Akibat tembakan itu, Sofyan terpental sekitar satu meter dan jatuh terjerembab dengan kepala tertembus peluru. Tepat di dekat Jimmy. Sofyan tewas dengan tangan kanan masih memegang pistol dan tangan kiri menenteng dua tas isi narkoba dan uang hasil curian.

Jimmy masih terdiam sambil menatap tubuh Sofyan yang terbujur kaku. Saking sakit hatinya, Jimmy menyempatkan menendang muka Sofyan yang sudah tewas. "Dasar setan kau!" katanya.

Polisi memborgol Jimmy dan mengamankan tempat kejadian perkara. (bersambung)