Serial Detektif (1)

Invisible Hands

Invisible Hands

Oleh Joko Sriyono

SINOPSIS
Untuk mendukung Priyo Sejati menjadi presiden di periode kedua, Rahmad Hidayat dan tim sukses harus bisa mengalahkan Sekjen Partai Buruh, Ekadasa, dan menggiring masuk ke dalam partai koalisi. 

Bukan hanya itu, tim sukses juga harus mencari ATM baru untuk membiayai banyaknya ormas-ormas, pendukung dan simpatisan Priyo Sejati  yang mulai bermunculan di semua wilayah.

Bagaimana cara menaklukkan politisi bersih seperti Ekadasa? Seberapa kuat peran Muhammad Hasyim sebagai Ketua Parlemen? Dan mengapa polisi membiarkan para bandar narkoba kelas kakap seperti Jimmy berperang dengan bandar-bandar lainnya?

Ikuti ceritanya secara berurutan: 

***

JAKARTA. Lantai 32 di salah satu gedung di Kawasan Segi Tiga Emas, pukul 15.45. Nampak tiga orang sedang menikmati kopi dan kudapan sore di sebuah ruang santai berukuran cukup luas. Terdengar alunan musik  instrumen saksofon yang diputar dengan suara perlahan. Lembut, tepat untuk menemani suasana ngobrol sore yang santai.

"Kuncinya ada pada kita. Pokoknya kita dorong Presiden Prio Sejati untuk maju mengikuti pilpres periode kedua," kata Rahmad Hidayat, jenderal tentara yang juga mantan kepala intelijen negara sekaligus penasihat kepresidenan di bidang keamanan.

"Tapi kan presiden sudah menyatakan tidak mau maju lagi," sahut Leonard Nizola, mantan jenderal tentara yang juga menjadi penasihat di bidang makro ekonomi.

Memang, kata Rahmad, Presiden Prio  pernah menyatakan tidak tertarik untuk maju pilpres kedua. Tapi itu kan pernyataan politis dan tidak disampaikan secara langsung. Presiden hanya menjawab secara tersirat pertanyaan wartawan. Bisa saja presiden merubah sikap politiknya kapan pun. "Tinggal kita dorong saja," kata Rahmad menambahkan.

"Begini, bung," kata Bob Raharjo, mantan jenderal polisi, yang kini menjadi tim ahli bidang sosial politik dan hukum. "Soal nama besar Presiden Priyo dan peluang kemenangan, aku yakin 90 persen sudah di tangan kita. Aku cuma memikirkan soal pendanaan. Karena biaya akan membengkak cukup besar. Kita butuh ATM baru," katanya. 

Kalimat Bob ini langsung disambar Rahmad, "Aku setuju sama kamu, Bob. Apa pun yang kita lakukan, presiden bakal setuju. Menurut aku, kita masih butuh pendanaan dan dukungan politis dari partai politik," katanya.

"Bagaimana kalau kita fokuskan langkah kita di dua hal itu saja, cari dana baru dan tambah dukungan partai politik. Biar kita bisa bergerak lebih cepat," kata Leonard. 

Ketiga jenderal ini akhirnya menyetujui keputusan bersama. Mereka akan mendorong dan mendukung Prio Sejati masuk ke pilpres periode kedua. Ketiganya juga memaparkan rencana dan strategi. Selanjutnya mereka dengan timnya masing-masing akan mulai bergerak dalam minggu ini. 

Leonard dan Bob juga menyetujui satu langkah yang diusulkan Rahmad. Langkah itu masih rahasia dan butuh tim khusus untuk menanganinya. Namun diyakini langkah ini akan langsung mengenai dua sasaran tembak. Yaitu dukungan politis dari partai politik dan juga pendanaan. 

"Bob, bagaimana peluang orang kita masuk di Partai Buruh dan Partai Maju? Kalau memang lambat, kita gelar saja Konggres Luar Biasa. Kita lakukan kudeta. Kita dudukkan orang-orang kita yang lain," tanya Rahmad.

"Partai Maju sudah aman, Bung. Tinggal eksekusi saja. Biar aku yang menyelesaikan. Coba kau tangani Partai Buruh, itu agak alot," kata Bob kepada Rahmad.

Bob menjelaskan, orang-orang binaannya belum bisa mengendalikan sepenuhnya Partai Buruh, meski sudah mampu menduduki posisi strategis di partai itu. Karena dihalang-halangi Ekadasa yang terkenal sangat protektif dan hati-hati dalam melangkah. 

Menurut Bob, jika Ekadasa bisa dikuasai, saat itu juga Partai Buruh akan menyatakan berkoalisi dengan parpol pendukung Presiden Prio Sejati. Karena ketua umum partai itu sangat segan sama Ekadasa. Tapi permasalahannya, Ekadasa terlalu baik dan tidak memiliki cacat sedikitpun, baik itu cacat dari sisi politik maupun cacat dari sisi hukum. Ekadasa terlalu bersih untuk ukuran seorang politisi.

Setelah beberapa saat mereka berdiskusi sambil menikmati kopi dan kudapan sore, Rahmah memanggil ajudannya dan meminta untuk menelepon seseorang. Setelah telepon tersambung, handphone diserahkan kepada Rahmad.

"Halo, ini Rahmad Hidayat. Tolong cari data siapa itu Ekadasa, Sekretaris Jenderal dari Partai Buruh. Dan semua anggota keluarganya. Apa pun tentang dia. Laporan aku tunggu sebelum jam tujuh malam. Satu lagi. Mulai besok pagi, ikuti semua pergerakan dia. Buat foto atau video pendek. Laporkan ke ajudan saya setiap tiga jam sekali. Uang operasional untuk Anda dan tim, akan langsung ditransfer ke rekening Anda. Aku tunggu laporan secepatnya," kata Rahmad dengan nada tegas, sambil mematikan handphone. 

Rahmad kemudian memencet nomor tertentu di handphonenya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya tersambung. Ia mendengar suara seorang pria dengan logat Tiongkok. 

Keduanya ngobrol ringan dan diwarnai tawa-tawa kecil serta sesekali terdengar pembicaraan serius. Kemudian Rahmad masuk ke inti pembicaraan mereka.

"Begini, Koh. Ini ada yang harus diselesaikan untuk mendukung program kita. Kita perlu tambahan dana operasional. Tolong ditransfer ke rekening ini. Nanti saya kasih dua nomor rekening dan berapa nilai yang harus ditransfer," katanya.

Rahmad juga memastikan proyek yang sedang mereka garap akan mendapatkan tambahan pagu anggaran dari pemerintah karena ada kenaikan harga bahan baku. 

"Gak usah khawatir, Koh. Proyek kita bakal dapat tambahan dana karena dampak perubahan harga material sesuai keputusan resmi pemerintah. Aku lagi mainkan sama orang-orang di kementerian, mereka menjanjikan bisa menambah pagu anggaran sampai 40 persen dari nilai total proyek, asal mereka kebagian 10 persennya. Menurut aku, Koh, angka 30 persen untuk kita sudah cukup bagus," kata Rahmad.

"Haiya, owe setuju-setuju saja," kata suara dari seberang.


*******

JAKARTA. Kawasan Kota Tua, pukul 02.15 dini hari. Joe duduk bersandar di sofa. Wajahnya tegang. Tangan kanannya memegang pistol yang siap ditembakkan kapanpun. Sedang tangan kirinya memegang sebatang rokok yang masih mengeluarkan asap.

Suasana dalam ruangan berukuran sekitar 15 meter persegi itu nampak tegang. Ada Bagyo sedang berdiri di ujung ruangan, ia diam terpaku sambil memegang sesuatu di balik jaket kulitnya, sepertinya pistol.

Sedang di depan meja pendek yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Joe, nampak dua orang pria dengan tampilan amburadul, rambut berantakan, muka babak belur, seperti habis dihajar. Baju sobek, penuh keringat dan ada bercak darah di baju keduanya. Nampak juga darah segar masih menetes di bibir dan pelips mata salah satunya. Sedang satu orang lainnya nampak memegangi perutnya, seperti habis ditendang.

Joe berdiri, masih sambil menenteng pistolnya. Ia banting dan menginjak puntung rokok di lantai. Ia dekati salah satu pria itu dan menempelkan moncong pistol ke kepalanya.

"Dengar baik-baik!," kata Joe dengan nada tegas sambil menekan kepala pria itu dengan pistol, seperti akan menembak kepalanya. Pria itu ketakutan setengah mati dan berkali-kali minta ampun, agar jangan disiksa lagi.

"Katakan pada bosmu. Siapa pun dia. Jangan coba-coba masuk ke wilayahku tanpa permisi. Di sini ada aturan, di sini ada hukum. Aturan dan hukum itu adalah aku. Siapa pun harus tunduk padaku. Dengar kau!" bentak Joe, sambil menarik tangan kanan yang memegang pistol dari kepala pria itu, namun tangan kirinya secepat kilat memukul wajahnya.

Pria itu jatuh terjerembab ke belakang sambil mengerang kesakitan. Ia berkali-kali meminta ampun. Belum selesai pria itu meminta ampun, Joe yang memang menguasai berbagai jenis bela diri itu, menendang dua kali berturut-turut ke perut pria yang satunya lagi. Ia mengaduh kesakitan dan jatuh ke lantai sambil memegangi perutnya. Ada muntahan sedikit dari mulutnya. Ia juga berkali-kali meminta ampun seperti teman satunya.

Joe mengatur posisinya dan memasukkan pistol ke sela-sela sabuk celana jeans. Ia menyuruh kedua pria yang sudah babak belur dan lemah itu untuk berdiri lagi. Setelah mereka berdiri tegak di hadapannya, Joe kembali mengintrogasi keduanya.

"Berapa banyak barang yang kau bawa? Siapa yang ngasih kamu?" tanya Joe, sambil menepuk-nepuk pipi salah satu pria yang sudah pucat karena ketakutan.

"Saya bawa seperempat kilo, bang. Dikasih langsung dari bos," kata seorang pria, dengan nada ketakutan.

Joe melangkah menjauh dari keduanya dan menuju ke sebuah meja. Ia mengambil sebuah pisau bayonet di atas meja dan kembali mendekat ke arah keduanya. Joe menempelkan ujung pisau bayonet yang tajam itu di pipi kedua pria yang sudah setengah mati ketakutan secara bergantian. "Kamu?" bentak Joe kepada pria lainnya. 

"Sama, bang. Kita satu tim," jawabnya. Ia sangat ketakutan. Keringatnya nampak semakin deras mengalir di leher. Bajunya yang sudah basah, nampak semakin basah.

"Siapa bos kalian?" tanya Joe lagi.

"Kita hanya dapat barang dari kurir, bang," jawab keduanya.

Mendengar jawaban itu, Joe tertawa ngakak. Dan langsung menempeleng pipi kedua pria itu dengan tangan kiri secara bergantian. Keduanya kaget dan berteriak kesakitan. Mereka tidak menyangka kalau akan menerima tempelengan yang keras dan cepat.

"Aku tanya siapa bos kalian. Siapa kurirnya dan uangnya kamu setor kemana?" tanyanya lagi.

Keduanya terdiam, mereka memilih tidak menjawab. Karena takut dianiaya lagi. Ternyata diamnya keduanya justru membuat Joe semakin marah.

"Oke, kalau kalian gak mau jawab. Aku gak akan maksa," kata Joe mencoba mengalah. Ia kembali ke mejanya. Ia letakkan pisau bayonet dan mengambil  air minum berupa dua botol kecil air mineral dan melemparkannya kepada kedua pria itu. "Minum ini," kata Joe.

Keduanya dengan sigap langsung menangkap botol minuman yang dilemparkan ke arahnya. Mereka tergesa-gesa meminumnya. Air dalam botol itu langsung ludes dan tinggal botol kosong.

Sesaat Joe diam. Ia sengaja memberi kesempatan kedua orang yang diinterogasinya untuk menarik napas sebentar dan beristirahat. Setelah dirasa cukup istirahatnya, Joe kembali mendekati keduanya dengan sebuah tang penjepit kecil di tangan. 

"Mana tangan kalian, buka jari-jarinya!" bentak Joe. 

Kedua pria itu ketakutan setengah mati, tapi mereka juga terpaksa mengikuti perintah Joe sambil berkali-kali meminta ampun. Ia jepit salah satu jari pria itu dengan tang. Pria itu berteriak kesakitan. Joe memencet lebih kuat, seperti remuk saja jari pria itu dijepit tang.

Joe melepaskan jepitan tang di jari tangan salah satu pria itu. Ia berganti ke pria lainnya. Ia tidak menjepit jari tangan. Tapi ujung daun telinga sebelah kanan. Pria itu berteriak-teriak kesakitan dan kembali meminta ampun.

"Siapa bos kalian?" bentak Joe.

"Namanya Sinyo, bang. Nomor kontaknya ada di handphone," kata salah seorang pria itu. Sepertinya ia sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diterimanya.

Joe tersenyum penuh kemenangan. Ia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memeriksa handphone kedua pria itu. Anak buah Joe  mengcopy semua data di handphone mereka.

"Ingat, hari ini kalian aku lepaskan. Sampaikan salamku, Bang Joe, ke bosmu. Kalau dalam seminggu ini, kalian dan bosmu masih di Jakarta, kalian semua akan aku habisi. Dengar?" kata Joe setengah membentak.

"Iya bang, dengar bang. Kami dengar bang," kata keduanya terbata-bata, sambil menahan sakit. Keduanya berkali-kali minta ampun. 

Kedua orang itu kemudian diseret dua anggota Joe yang lain ke luar ruangan yang jadi markas besar peredaran narkoba di Jakarta. 

Joe memerintahkan kepada Bagyo untuk melepaskan kembali kedua orang itu di tempat dia menangkapnya. "Perintahkan anak buahmu untuk mengawasi mereka. Pantau semua pergerakannya," katanya. (bersambung)