Investasi Besar, Bos Hyundai Optimistis RI Bisa Jadi Juara Mobil Listrik di ASEAN

Investasi Besar, Bos Hyundai Optimistis RI  Bisa Jadi Juara Mobil Listrik di ASEAN
Mobil Listrik Hyundai (foto Liputan6.com)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Hingga saat ini, Thailand masih menjadi Raja produsen mobil di ASEAN. Negeri gajah putih ini memproduksi mobil per tahun lebih banyak dari negara lain di Asia Tenggara, sebagian besar untuk kebutuhan ekspor.

Namun untuk pengembangan mobil listrik dunia saat ini, Indonesia masih berpotensi bisa menyalip Thailand, dengan memposisikan sebagai raja produsen mobil listrik di kawasan ini. Hal ini turut disumbang oleh adanya investasi besar dari sejumlah produsen mobil listrik dunia, termasuk Hyundai.

VP Hyundai Motor Asia-Pacific Head Quarter, Lee Kang Hyun mengungkapkan alasan Hyundai berani untuk menginvestasikan dana besar pada pengembangan mobil listrik di Indonesia. Padahal, jika dibandingkan negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia masih kalah oleh dalam hal produksi mobil setiap tahunnya.

"Di dalam ASEAN, Indonesia memang negara yang cukup berpotensi dan cukup punya pasarnya. Di ASEAN, Thailand bisa memproduksi 2 juta unit, Indonesia juga 1 juta lebih. Jadi di ASEAN, Thailand dan Indonesia bisa bikin pasar mobil. Makin lama Indonesia pasti bisa jadi juara di mobil listrik di ASEAN," kata Lee kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2020).

Ia pun menjelaskan kenapa lebih memilih Indonesia sebagai tujuan investasi utama dibanding negara Gajah Putih tersebut.

"Thailand arahnya ICE (internal combustion engine/konvensional bensin) lalu hybrid baru Electric Vehicle atau mobil listrik. Tapi kelihatannya dari pemerintah Indonesia benar-benar berusaha keras dari ICE langsung ke mobil listrik. Jadi dari Hyundai cukup percaya pemerintah dalam waktu cepat membangun infrastruktur termasuk charging station segala macam," jelas Lee.

Sebagai bukti nyata, Hyundai sedang membangun pabrik di kawasan industri Delta Mas, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Lee menyebut prosesnya sudah 60%. Investasinya pun mencapai US$ 1,5 miliar.

"Buat mobil ini kira-kira rencana 150 ribu unit dalam satu tahun selanjutnya 250 ribu unit per tahun. Kalau bisa tambah investment jadi di atas 300 ribu dalam 1 tahun. Tapi mobil listrik tergantung market size," paparnya.