Insan Cendekia Pencipta Bom (?)

Insan Cendekia Pencipta Bom (?)

SEJAK awal September, saya mengalami gelombang persekusi besar-besaran dari civitas kampus saya sendiri: dari alumni, pegawai, rekan dosen sampai guru besar. Mereka mengecam status-status Facebook di wall pribadi saya.

Postingan-postingan FB saya mereka screenshoot lalu diviralkan dan dihujat secara serentak di berbagai kanal grup medsos alumni dan civitas, termasuk di WAG berbagai departemen (jurusan) di kampus. Bahkan beberapa alumni menebar ancaman verbal lewat inbox FB.

Saya adalah dosen yang aktif memperjuangkan nilai-nilai yang saya yakini di platform media sosial. Nilai-nilai yang saya perjuangkan lewat platform media sosial adalah Indonesia yang pluralis, sekuler, moderat dan progresif, sesuai dengan garis ideologi yang telah dirumuskan oleh The Founding Fathers. Tentu saja, semangat anti-radikalisme, anti-sektarianisme dan anti-primordialisme juga menjadi spirit postingan-postingan saya.

Maka tentu saya tidak habis pikir, bagaimana bisa, opini-opini pribadi saya yang misalnya mengkritisi fenomena pengkultusan penceramah kontroversial yang sudah jelas-jelas dinyatakan bersalah oleh NU dan Muhammadiyah, bahkan upaya saya melakukan edukasi literasi anti-hoax kepada mahasiswa, malah dihujat habis-habisan oleh para rekan sejawat yang mana adalah komunitas “insan cendekia pencipta jaya”.

Alhamdulillah, masih ada beberapa rekan dosen dan cukup banyak alumni yang segaris-perjuangan dengan saya, menyemangati saya agar tidak gentar dengan hempasan gelombang mainstream tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan dengan gagah berani memajang foto pertemuan dengan saya di laman Facebook pribadi mereka (terima kasih Bapak-Ibu, that means a lot to me…)

Gusti Allah mboten sare

Kemarin malam saya menemukan jawabannya. Salah satu dosen senior bergelar doktor di kampus saya ditangkap Polda Metro Jaya dan Densus 88 karena diduga merencanakan kerusuhan dalam Aksi Mujahid 212 serta membuat dan menyimpan bahan peledak.

Langkah pertama dari upaya penyembuhan pemyakit adalah dengan cara mengakuinya, dan bukannya menutup-nutupi atau bahkan menyangkal penyakit tersebut. Saya dan seluruh civitas nasionalis-moderat-pluralis berharap kejadian ini benar-benar dimanfaatkan oleh para pimpinan institusi untuk upaya-upaya kongkrit “bersih-bersih kampus” sebagaimana yang telah dicontohkan oleh UI dan ITB.

Semoga…

Sydney, 30 September 2019

Oleh: Meilanie Buitenzorgy, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Penulis pengajar di sebuah universitas di Indonesia tengah berada di Sydney, Australia.