Ini Kisah Mengharukan Dosen PTIK saat Detik-detik Gempa Mamuju Sulbar

Ini Kisah Mengharukan Dosen PTIK saat Detik-detik Gempa Mamuju Sulbar

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Gempa bumi yang mengguncang Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) menyisakan banyak derita bagi para korban. Saat ini, pemerintah terus berupaya meringankan beban penderitaan warga yang memang membutuhkan penanganan secara cepat.

Saat gempa terjadi, seorang dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) DR Yundini, sedang pulang kampung. Ia menceritakan detik-detik saat gempa terjadi kepada Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara dan Sekolah Tinggi Hukum Militer AM Hendropriyono, Kamis (21/1/2021).

Berikut ini penuturannya: Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang saya amat hormati, Jendral AM Hendropriyono, kebanggaan saya, terimakasih atas doanya. 

Hidup saya serasa berhenti di detik ketika gempa 6,2 persis melintasi kamar saya di Hotel Maleo, Mamuju. Sebetulnya saya  sudah kena gempa juga di kabupaten Polman, Sulbar, pada Kamis tanggal 14 Januari pukul 14.35 Wita. Ketika itu saya dalam perjalanan ke Mamuju lewat darat. Tapi ketika itu saya di mobil, sedang berhenti sebentar karena menunggu paman yang akan menemui saya di daerah Kuningan, Polman. 

Ketika itu saya merasa ada hentakan dua kali tapi saya mengira driver sedang memainkan mobil dengan mengunjak rem. Saya baru tahu kalau itu gempa 5,9 Richter setengah jam kemudian ketika makan siang di Kabupaten Majene.

Saya lalu melanjutkan perjalanan, tapi kemudian terhenti di Majene karena jalanan tertutup longsor. Kakak sepupu saya yang saat itu sedang menelpon, menyarankan agar saya putar balik saja, menginap ke Kota Majene. 

Tapi karena saya hendak ke Mamuju, saya menunggu dengan santai di mobil saat jalanan sedang dibersihkan. Sekitar pukul 21.00 malam, saya masuk ke Kota Mamuju dan tiba jam 21.30 malam. Pukul 22.00 malam saya mulai masuk kamar hotel. 

Sebetulnya ada satu tanda di kamar hotel  tersebut yang nampaknya diberikan kepada saya untuk pindah kamar. Tapi karena saya tidak mau dianggap rewel, saya tetap saja di kamar tersebut, kamar 502. 

Saya lalu mandi, sholat, menelpon anak-anak di Jakarta dan tidur. Pukul 02.28 saya bangun oleh suara ledakan besar, dan ternyata suara ledakan tersebut langsung menyebabkan semuanya  luluh lantak, ambruk. Posisi saya di tempat tidur, tertutup plafon, dan sekeliling saya, semuanya sudah hancur tertimbun reruntuhan bangunan. 

Saya sedang tidur nyenyak, ketika terdengar suara  ledakan tersebut. Ya Allah, tentu saja saya kaget sekali, gelap, air mengucur deras, yang ada hanyalah reruntuhan bangunan sekeliling. 

Momen pertama, saya tentu tak bisa berbuat apa-apa. Saya berusaha menenangkan diri, berusaha bertahan, tapi tdak bisa berpikir apa-apa. Di satu sisi saya dilanda kekhawatiran tentang anak-anak saya di rumah, anak-anak yang masih pada remaja. Mereka saya pamiti, hanya untuk pergi beberapa hari saja.
 
Namun saya tiba-tiba berada di situasi ini, di reruntuhan gempa, gelap, air mengucur deras membasahi badan dan  di depan saya adalah pantai. Dan tidak tahu lagi apa yang berikutnya terjadi. 

Saya lalu berteriak meminta tolong. Dan seketika itu juga ada suara. Saya lalu melihat ada sosok yang tinggi besar berambut gondrong di kegelapan tersebut. Yang memperkenalkan diri sebagai tamu yang rupanya menginap persis di sebelah kamar saya. 

Bapak itu posisinya duduk di atas reruntuhan di depan saya. Dia lalu pindah posisi ke dekat saya, yang justru mengakibatkan plafon runtuh yang melindungi saya jadi mulai menggencet, walau masih ada sedikit space uuntuk saya.  

Saya lalu meraba-raba, mencari HP, karena saya pikir HP adalah media saya terhubung ke dunia luar. Saya meraba ke nakas di sebelah kiri saya, tempat saya charge HP. Kabelnya masih ada tapi HP rupanya sudah berada di dalam bebatuan. Saya tetap meraba-raba.

Alhamdulillah, tangan kanan saya tiba-tiba menyentuh HP saya yang satu lagi, yang posisi ada di sebelah kanan. Dengan itulah saya mulai menghubungi beberapa orang. Namun sinyal sulit sekali.

Saya coba saja WA ke anak saya. Namun huruf yang saya ketik, beda keluar tampilannya di HP. Mungkin karena tangan saya basah, juga mungkin karena tangan saya gemetar. Saya beritahukan kondisi saya.  

Lewat WA itu saya menyampaikan ke anak-anak tentang plan A dan plan B sekiranya ada apa-apa dengan saya. Minimal mereka punya cash sementara, sampai kakak mereka, anak saya yang sulung bisa menemui mereka. Anak sulung saya berada di Makasar. 

Dalam kondisi kesulitan sinyal, saya kemudian juga menghubungi Gubernur memberitahu posisi saya, juga kepada Kepala BNPB daerah. Tapi jawaban Kepala BNPD daerah justru membuat saya lemes. Dia tidak bisa membantu saya, karena tidak ada orang dan jalanan tidak bisa ditembus. Ya Allah. Hmm......

Saya dan bapak gondrong yang men ginap di kamar sebelah saya, lalu berteriak-teriak meminta tolong. Kami memukul-mukul besi agar terdengar suaranya. Melalui jendela yang sudah hancur, saya melihat ke bawah, tidak mungkin  kami meloncat turun, kami di lantai 5. Kami melihat orang-orang di bawah, mereka melihat kami, kami berteriak-teriak meminta tolong, orang-orang di bawah yang sedang berjalan berhenti sejenak dan menengadahkan kepala melihat ke arah kami, hanya sebentar, kemudian orang-orang itu pergi. 

Saya hanya melihat pantai yang sepi dan gelap. Ya Allah. Kami lalu berdoa. Walau bapak gondrong tersebut beragama Nasrani, kami lalu berdoa. Cukup lama kami dalam kegelapan. Saya sungguh tak dapat berpikir apa pun. Sekeliling runtuhan bebatuan, besi, rangka-rangka baja yang mencuat. 

Lalu ada beberapa orang lagi yang lewat, mereka membawa senter. Kami lalu melambaikan tangan, dan berteriak. Mereka menyampaikan ke kamu agar jangan bergerak. Tapi mereka lalu pergi meninggalkan kami begitu saja, kami hanya dapat melihat pantai yang sepi dan gelap. Bapak gondrong tersebut mengatakan, khawatir ada gempa susulan. 

Namun demikian saya sudah agak lega karena sudash memberitahu kondisi saya ke anak-anak. Jadi kalau ada apa-apa, minimal mereka bisa agak sedikit lega terlebih dahulu, sampai kakaknya datang. 

Dalam hati saya menenangkan diri, tapi di sisi lain, saya justru tidak berpikir apa pun. Dengan badan basah kuyup, ini membuat saya sedikit khawatir. Tapi kemarin-kemarin saya saya cukup mengkonsumsi vitamin-vitamin, jadi saya merasa bahwa saya masih oke untuk bertahan.  

Kemudian, ada lagi orang yang lewat, tapi seperti sebelum-sebelumnya, kami dibiarkan dan ditinggal begitu  saja. Dalam gelap, basah kuyup di reruntuhan di lantai 5, tanpa kejelasan apa pun.

Di sini saya lalu berpikir, mestinya dalam kondisi seperti ini, ketika korban masih belum tertolong, ada satu oranglah yang menemani. Janganlah kami ditinggal. Minimal menyemangati kami jadi kami tidak kebingungan. 

Kami hanya bisa terdiam. Detik berganti menit. Hanya hening. Tentu kami tidak bisa duduk, posisi yang memungkinkan hanya berdiri dengan air yang mengucur deras membasahi tubuh. 

Tapi perasaan saya tenang saja, entah kenapa perasaan saya baik-baik saja. Saya hanya berdoa dan menyebut nama Allah.

Beberapa saat kemudian, dari arah pintu kamar terdengar suara. Tapi lalu hilang lagi. Ya sudah. Saya pasrah. Saya kemudian mengirim WA ke kakak sepupu saya yang mantan Wakapolri/Menpan, walau dia ada di Jakarta. Tapi saya hubungi saja. Minimal saya menghubungi orang. Sinyal sulit sekali. Sesekali saja nyambung, tapi lebih banyak tidak tersangnya.

Sepertinya lebih darti 1,5 jam kami di situ. Lalu kemudian terdengar lagi suara dari pintu yang mengarahkan kami keluar. Dengan bantuan senter dari pintu (yang posisinya lebih tinggi dari kamar kami yang jatuh), kami lalu memanjat ke atas ke arah pintu. 

Saya diingatkan untuk hati-hati terhadap paku-paku. Bapak gondrong itu naik duluan. Saya mengikuti arahnya. Saya menaiki lagi reruntuhan, tiba-tiba saya merasa seperti kena setrum listrik. 

Ah, iya. Saya baru sadar, badan saya basah. Saya lalu menghindari kabel, dan perlahan naik ke arah pintu. Pas di depan pintu saya sudah tidak bisa lagi naik, tangan saya diangkat, dan saya pun bisa keluar pintu. 

Begitu keluar pintu rupanya koridor aman, tidak rubuh, tidak apa-apa. Sy dikasih handuk dan sandal. Lalu kami turun lewat tangga.

Begitu turun di tempat aman, saya melihat korban lain, seorang ibu-ibu yang nampak pucat, terduduk. Rupanya asmanya anfaal. Kebetulan ibu tersebut komandan di Sandi Negara yang sedang bertugas ke Sulbar dengan anak-anak buahnya. Anggotanya tidak apa-apa, hanya ibu tersebut yang kamarnya ambruk seperti kamar saya. 

Wah saya lihat kondisinya berat. Asma kalau anfaal jadi mengkhawatirkan. Kata anggotanya, tadi mereka sudah ke rumah sakit terdekat, tapi tidak ada orang, lalu kembali ke hotel.

Dengan kondisi badan basah dan masih gemetar, saya lalu berangkat ke RS tsb, RS Bhayangkara. Suasananya gelap, jalanan gelap, ruang IGD gelap, tidak ada orang. Lalu saya keluar dan mencari ruangan lain. Saya bertemu dengan satu orang anggota polisi dan satu  petugas saja. 

Kami lalu ke apotik yang gelap dan mencari-cari obat, namun tidak kami temukan. Lalu petugas minta izin ke kamar obat. Saya bilang silakan, nanti saya sampaikan ke Kapolda. Jendela lalu dibuka paksa disaksikan polisi, kami mencari obat di kegelapan, berpacu dengan waktu karena itu sudah sangat megap-megap. Asmanya kambuh karena terkena debu reruntuhan. 

Anggota ibu tersebut ikut mencari, dia dapat oksigen, tapi saya bilang kalau oksigen saja tidak bisa membantu, perlu obat inhaler ventolin. Lalu kami mencari lagi di tengah ruang obat yagn sudah berantakan juga.

Untung ketemu, lalu kami bergegas ke hotel. Ibu itu segera saya beri ventolin dan oksigen, badannya saya gosok dan pijat sebentar. Lalu pakaikan jaket. Alhamdulillah ibu tersebut jadi mendingan. Bapak gondrong juga saya periksa, rupanya dia ada luka-luka, yang lalu saya berikan obat jodium. 

Saya lalu mau sholat Subuh, ya Allah, bagamaina mau sholat? Saya lalu diberi baju dan sarung. Handuk hotel jadi penutup kepala saya. Lalu sholat menghadap kiblat yang posisinya menghadap ke laut. 

Pas saya selesai sholat dan salam ke kiri, ada Kepala Dinas Pemprov Sulbar menjemput saya. Juga staf ahli gubernur datang memberikan jaketnya ke saya. Saya lalu membawa ibu tersebut dan anggotanya, menemui gubernur. 

Rupanya gubernur ada di depan reruntuhan kantor pemprov. Di situ ada Ustadz Dasaad Latif, yang mestinya malam itu juga menginap di Hotel Maleo. Tapi beliau masuk Mamuju 20 menit setelah gempa. Ustadz Dasaad langsung memfoto saya, rupanya WA saya ke Kak Syafrudin, membuat beliau juga langsung menghubungi sejumlah orang, sehingga sejumlah kerabat dan sahabat mengetahui kalau saya ada di reruntuhan Maleo. 

Foto saya yang memakai handuk dan sarung lalu disebarkan sekaligus menyampaikan kalau saya selamat. Saya dan bubernur lalu ke rumah jabatan (rujab). Saya minta celana panjang ke salah seorang pengurus rujab. Dan dengan modal baju, celana, jaket pemberian orang dan sandal karet di rujab, saya lalu mendampingi gubernur menerima sejumlah pejabat. Tamu pertama adalah Gubernur Sulsel, Kapolda Sulsel yang langsung datang dari Makassar dan Kapolda Sulbar. 

Lalu kemudian Kepala BNPB Pusat, dan Mensos. Lalu Pangdam, Menkes, Kepala BMKG, MenPUPR. 
Sungguh, hidup ini begitu dahsyat, begitu luar biasa. Sebagaimana sungguh luar biasa kebesaran Illahi, Allah SWT yang Maha Agung.

Ya Allah, kami adalah milikMu, sepenuhnya, kami datang dari Mu, dan memohon kasih sayangMu, selamanya. (*)