Ekonomi

Ini Jawaban Kemenkeu kepada Rizal Ramli soal Utang RI

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kementerian Keuangan menjawab sindiran yang disampaikan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli terkait utang negara. Kemenkeu pun mempertanyakan tudingan lampu kuning utang negara saat lembaga pemeringkat internasional, seperti Moody’s S&P, JCRA menyatakan bahwa Indonesia investment grade.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti menjelaskan, bila membandingkan antar negara-negara di dunia, rasio utang Indonesia relatif kecil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Disebut gali lubang tutup jurang? Bukankah pemerintah terus menurunkan defisit APBN dan primary balance. Sejak 2012, pemerintah sudah mengalami defisit keseimbangan primer,” paparnya melalui laman Facebook, Minggu (8/4/2018).

Jika dirinci, keseimbangan primer dalam lima tahun terakhir, yakni minus Rp98,6 triliun pada 2013, minus Rp93,3 triliun pada 2014, minus Rp142,5 triliun pada 2015, minus Rp125 triliun pada 2016, dan minus Rp121,5 triliun pada akhir tahun lalu.

“Bukankah pak RR (Rizal Ramli) adalah bagian dari pemerintah pada periode 2015-2016, dimana keseimbangan primer justru mengalami kenaikan tinggi,” katanya

Menurut Nufransa, Menteri Keuangan Sri Mulyani mulai mengendalikan tren negatif keseimbangan primer secara hati-hati, agar tidak mengganggu pemulihan ekonomi.

Makanya, dalam beberapa tahun ke depan, defisit diproyeksikan semakin menciut dan keseimbangan primer semakin membaik.

“Mengapa arah yang baik dan hati-hati tersebut justru dikritik dan dituduh ugal-ugalan? Bukankah yield surat utang pemerintah pada 2016-2017 terus turun sewaktu Fed Rate (bunga acuan The Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat) meningkat tiga kali? Fakta ini tidak disebutkan,” ujarnya.

Selanjutnya, terkait Debt Service Ratio (DSR) atau rasio pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor suatu negara, ia merinci posisinya 19 persen pada 2013 lalu, 23,9 persen pada 2014, dan terus meningkat mencapai 34,2 persen pada 2017.

Namun, peningkatan DSR bukan karena biaya bunga yang tinggi, melainkan cicilan pokok utang jatuh tempo yang besar pada tahun ini. Pemerintah berupaya menurunkan beban bunga utang dengan mengembangkan instrumen utang jangka pendek di dalam negeri.

“Langkah itu pun dilakukan dengan hati-hati dengan menjaga rata-rata jatuh tempo utang agar tidak menurun secara drastis. Itu adalah sikap kehati-hatian dan jelas bukan ugal-ugalan. Makanya, peringkat negara mendapat investment grade,” tandas Nufransa. (MU)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close