Opini

Indonesia, Terserah…

Oleh: Elfa Tsuroyya

BEBERAPA hari terakhir ini viral di masyaakat tagar Indonesia Terserah, bahkan sempat menjadi tranding topik di beberapa media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, konten Youtube, serta dapat pula dinikmati sajian video nya melalui WhatsApp. Ada nada pesimis juga masa bodoh dari tagar tersebut, tersirat dengan jelas pesan yang ingin disampaikan bahwa siapapun boleh melakukan apapun di negeri bernama Indonesia ini.

Menurut salah satu sumber berita di www.kompas.com tagar tersebut pertama digaungkan oleh para tenaga kesehatan di sela-sela tugas beratnya menjadi garda terdepan penanganan Covid-19. Tagar tersebut akhirnya dipopulerkan oleh sejumlah pihak dan menjadi viral dengan berbagai kreatifitasnya. Bukan tanpa alasan jika para nakes menuliskan kalimat terserah dalam videonya, Sejumlah pihak menilai warga kini seolah tak lagi peduli dengan upaya pemberantasan untuk menekan penyebaran Covid-19.

Pasar-pasar kembali ramai, jalanan kembali macet dan pusat perbelanjaan penuh sesak oleh pengunjung. Keadaan ini tentu berbanding terbalik dengan kerja keras para nakes dalam membantu penanganan Covid-19. Mereka telah banyak menyampaikan imbauan dan juga edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Covid-19. Tagar tersebut juga merupakan kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai banyak masyarakat belum secara maksimal menanggulangi wabah Covid-19 ini. Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) yang diberlakukan di sejumlah wilayah dinilai kurang maksimal karena pelaksanaanya tidak serentak, sehingga hanya menimbulkan efek penundaan penyebaran wabah saja tanpa mampu membawa kurva penyebaran menjadi landai, bahkan di beberapa wilayah kurva penyebaran semakin meningkat.

Tagar Indonesia terserah seharusnya menjadi pijakan kita semua untuk kembali sadar bahwa Covid-19 masih ada di sekitar kita, jika kita lengah sedikit saja maka fatal akibatnya. Upaya yang dilakukan pemerintah dengan mengganti cuti lebaran di akhir tahun mempunyai tujuan salah satunya adalah menekan arus mudik yang sangat berpotensi membawa virus ke pelosok daerah. Namun ternyata mendekati lebaran justru terjadi penumpukan warga di sejumlah pusat perbelanjaan.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan, apalagi kita sebagai umat Islam menyakini harus terus berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat). Kita harus mengedukasi diri kita sendiri dan menjadi contoh di lingkungan kita. Pada bulan Mei ini kita memperingati dua moment penting yaitu Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang jatuh pada tanggal 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) yang jatuh pada tanggal 20 Mei, spirit hardiknas dan harkitnas hendaknya kita implementasikan dalam lingkungan kita sekarang.

Jika biasanya kita memperingati HARDIKNAS dengan ritual ceremony di sekolah-sekolah serta pemberian penghargaan bagi guru-guru berprestasi, tidak ada salahnya semangat HARDIKNAS kali ini kita wujudkan dalam lingkungan terkecil kita, dengan mendisiplinkan diri mengikuti anjuran pemerintah. Jika biasanya moment HARDIKNAS dijadikan moment menggelorakan pembelajaran yang bermutu, mengajarkan kepada anak didik kita akan kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka tidak ada salahnya semangat tersebut kita jadikan sebagai semangat mengedukasi diri dan lingkungan kita untuk disiplin mengikuti protokol kesehatan, mengingatkan kembali peran kita sebagai masyarakat dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

Semboyan “Ing Ngarsa sung tulodha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” yang berarti “di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, dan di belakang memberi dorongan” adalah semboyan yang di gaungkan oleh tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara. Semboyan tersebut sangat relevan untuk digaungkan saat sekarang ini. Jika biasanya semboyan itu digunakan dalam ranah pendidikan, yang berarti seorang pendidik harus mampu menjadi teladan sekaligus motivator bagi anak didiknya, maka dalam keadaan sekarang ini semua harus berperan menjadi teladan bagi diri dalam lingkungan terkecilnya. Teladan bagi diri sendiri artinya ia harus konsisten melakukan new normal life, serta mengedukasi dan mendorong orang lain berperan serta melakukan new normal life.

Demikian juga dengan semangat HARKITNAS, kita semua harus mampu memiliki visi bersama untuk mengatasi Covid-19 yakni mewujudkan solidaritas sosial dan persaudaraan sejati. Solidaritas sosial bisa kita mulai dengan melakukan gerakan peduli tetangga, menengok tetangga kanan kiri kita dengan menawrkan dan memberikan bantuan kepada mereka yang terdampak secara ekonomi dengan adanya pandemi ini. Gerakan memberikan bantuan merupakan salah satu kegiatan positif wujud dari gotong royong dalam komunitas. Inilah sesungguhnya yang menjadi modal sosial dan budaya dalam mengatasi Covid-19.

Jika semua individu melakukan hal demikian, maka tidak akan ditemukan lagi masyarakat yang kelaparan maupun terpuruk secara ekonomi. Hari Kebangkitan Nasional seharusnya dapat menjadi momentum mewujudkan solidaritas di masyarakat serta membina kembali persatuan dan kesatuan bangsa untuk optimis bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit selama pandemi ini.

Paling tidak dengan viralnya tagar Indonesia Terserah, bukan pesimistis atau masa bodoh yang kita viralkan, tetapi semangat untuk kembali menyadarkan masyarakat bahwa kita harus kembali bersatu dan mengesampingkan ego sesaat yang akan sangat membahayakan kesehatan kita semua, mengingatkan kembali
akan bahaya Covid-19 dan harapannya masyarakat kembali disiplin dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

*Elfa Tsuroyya, Alumni PP Raudlotut Thalibin Sirau Banyumas, Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Guru pada MAN 3 Sleman Yogyakarta

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close