Ekonomi

Indonesia Peroleh Pendapatan Rp 2.142 Triliun Dari Blok Masela

JAKARTA,SENAYANPOST.com – Keberhasilan Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memulai pengerjaan proyek Blok Masela patut diacungi jempol. Investasi di Blok Masela adalah investasi asing terbesar di Republik Indonesia setelah PT Freeport Indonesia. Indonesia diperkirakan meraup pendapatan sampai dengan US$ 153 miliar atau setara Rp 2.142 triliun!

Seperti dikutip jokowiapp, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan total biaya pengembangan lapangan Proyek LNG Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, mencapai US$ 18,5 miliar hingga US$ 19,8 miliar.

“Ini adalah investasi asing terbesar sejak 1968 dan simbol pembangunan di Indonesia Timur yang berskala global setelah Freeport Indonesia,” kata Jonan usai melaporkan secara persetujuan Rencana Pengembangan (Plan of Development atay PoD) Proyek LNG Lapangan Abadi di Blok Masela kepada Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka, seperti dilansir dari keterangan di laman resmi Sekretaris Kabinet, setkab.go.id, Rabu (17/7/2019).

Jonan memperkirakan pembangunan proyek Blok Masela dapat menyerap 30 ribu tenaga kerja langsung maupun pendukung. Bahkan pada kilang gas Blok Masela mulai beroperasi, akan menyerap tenaga kerja antara 4.000 – 7.000 orang termasuk untuk pembangunan industri petrokimia.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/7/2019), CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menuturkan, Inpex mengklaim proyek Lapangan Abadi di Blok Masela akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi pendapatan Indonesia sampai dengan US$ 153 miliar. Jumlah ini setara dengan Rp 2.142 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga akhir fase produksi pada 2055 mendatang.

Klaim tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Universitas Pattimura Ambon (UNPATTI). “Dampak terhadap ekonomi nasional ini diperkirakan berasal dari investasi dan pengembangan Blok Masela. Dampak tersebut bersifat langsung dan tidak langsung,” kata Takayuki.

Dengan dimulainya proyek ini, hitungan yang sudah pasti Indonesia akan menerima sekitar US$ 39 miliar dan Inpex sekitar US$ 37 miliar. Angka tersebut sudah termasuk 10% milik daerah, sehingga Inpex dan Shell hitungannya bisa terima US$ 33,3 miliar. Porsi RI tersebut dinilai cukup signifikan.

Belum lagi dampak berganda yang akan timbul, seperti industri petrokimia dan potensi investasi US$ 1,5 miliar hingga US$ 2 miliar di daerah tersebut. SKK menargetkan blok Masela akan mulai produksi pada 2027, sehingga proyek dikebut sampai 2026.

Keberhasilan ini menjadi sebuah sejarah bagi Pemerintahan Jokowi. Ferdy Hasiman, peneliti Alpha Research Database, mengatakan proyek Blok Masela telah terkatung-katung begitu lama. Selama lebih 20 tahun, proyek pengembangan Blok Masela mangkrak. Akhirnya proyek ini bisa mulai dikerjakan setelah Pemerintah Indonesia, melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), bersama dengan Inpex menandatangani plan of development (PoD) Blok Masela.

“Bahkan selama periode kedua pemerintahan SBY-Boediono, revisi Pod Blok Masela bolak-balik antara pemerintah dengan Inpex. Prosesnya begitu lambat,” kata Ferdy saat dihubungi oleh Jokowi App, Kamis (18/7/2019).

Namun Ferdy mengingatkan pemerintah jangan cuma berpuas diri dengan bertambahnya kapasitas produksi gas nasional seiring beroperasinya Blok Masela. Ia meminta Kementerian ESDM melakukan sinergi secara optimal dengan Kementerian Perindustrian. Tujuannya agar beroperasinya Blok Masela disertai desain atau rencana pengembangan industri turunan yang tepat di Blok Masela.

“Karena keputusan Presiden Jokowi agar dibangun dengan skema kilang darat alias onshore akan memberikan efek berganda yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi di Maluku maupun Indonesia Timur,” jelasnya.

Selain itu, Ferdy meminta Presiden Jokowi memikirkan apakah gas yang dihasilkan oleh Blok Masela akan diprioritaskan untuk eskpor, ataukah sebagai sumber pasokan bahan baku industri di Indonesia yang membutuhkan gas. Ini bergantung kondisi gas yang dihasilkan pasca beroperasi.

Menurutnya, ada banyak industri turunan yang bisa dikembangkan di Blok Masela, seperti industri pupuk dan industri petrokimia. Dengan demikian, beroperasinya Blok Masela tak Cuma sekedar memperkuat pasokan gas nasional, tetapi juga mendongkrak pertumbuhan industry dalam negeri. “Tinggal pemerintah membujuk mereka yang semula memiliki pabrik di Jawa untuk berani masuk ke Maluku,” tutup Ferdy.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close