Lintas Daerah

Indonesia Pasca Orde Baru Alami Radikalisasi Politik

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Guru Besar Fakultas Isipol Universitas Gadjah Mada, Mohtar Mas’oed, mengatakan Indonesia pasca-Orde Baru mengalami radikalisasi politik memakai simbol agama, yang mencoba masuk ke arena politik umumnya dengan menyerang demokrasi.

Pada Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda: Estafet Kepemimpinan Era Milenial di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Sabtu (27/10/2018), Mohtar Mas’oed mengungkapkan radikalisasi politik berbasis agama ini merupakan ancaman yang semakin serius terhadap upaya bina bangsa dan bina demokrasi.

Ia kemudian mengingatkan, pada 1999-an Indonesia berhasil menghidupkan kembali demokrasi.

“Walaupun demikian ada yang mengritik dan menganggap lamban, tidak memenuhi janji reformasi dan masih ada kelompok yang ingin memakai cara nondemokratik,” katanya.

Lebih lanjut Mohtar Mas’oed mengingatkan, kelompok-kelompok radikal berbasis agama ini memiliki kemampuan menggalang dukungan dari kalangan fanatik dan memiliki kemampuan membangun sekutu dengan kelompok-kelompok yang berada di lingkaran kekuasaan.

Mohtar Mas’oed juga mengingatkan adanya Konsensus Nasional 1945. Dalam konsensus itu antara lain negara didasarkan moralitas religius dengan menekankan ke-esa-an Tuhan tetapi menolak confessional politics atau politik berbasis agama, multikulturalisme bukan asimilasi, peri-kemanusiaan atau internasionalisme sebelum kebangsaan kewarganegaraan Republican atau WNI adalah aktif terlibat membentuk masa depan masyarakatnya, bukan sekadar berdarah Indonesia atau lahir di Indonesia dan kesejahteraan sosial atau social welfarism.

Ia juga mengingatkan, sejak Indonesia merdeka, sumber pokok sengketa politik adalah kesukuan atau etnisitas, agama dan kelas sosial. (JS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close