Teknologi

Indonesia Belum Aman dari Jatuhnya Satelit Tiangong-1

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Hanya dalam beberapa hari lagi,┬ástasiun antariksa milik China, Tiangong-1, dikabarkan akan masuk ke lapisan atmosfer Bumi. Hanya saja masih belum diketahui di mana stasiun antariksa itu bakal mendarat.

Namun, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memberikan informasi terbaru mengenai posisi terkini satelit tersebut.

Dalam akun Twitternya, LAPAN menjelaskan bahwa penurunan orbit melambat dan ketinggian satelit sekitar 187 km dari Bumi.

“Update info jatuhnya stasiun antariksa RRT Tiangong-1: Penurunan orbit melambat. Saat ini ketinggian sekitar 187 km (turun hanya 3 km/hari). Perkiraan jatuh (memasuki ketinggian 120 km) sedikit bergeser menjadi 1-3 April,” tulis @LAPAN_RI, Jumat (30/3/2018).

Berdasarkan data yang dipublikasikan LAPAN per tanggal 29 Maret 2018 pukul 16:15 WIB, diprediksi waktu jatuh Tiangong-1 adalah pada 1 April 2018 pukul 00:52 UT +/- 15 jam.

Peta lintasan orbit Tiangong-1 (37820) selama 1 hari saat beredar mengelilingi Bumi yang ditunjukkan oleh garis berwarna putih. (Sumber: LAPAN)

Dengan rentang ketidakpastian sebesar ini, Tiangong-1 masih mungkin jatuh di daerah mana saja di antara lintang 43 LU hingga 43 LS. Saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi lokasi atmospheric reentry secara lebih akurat.

Kesimpulan sementara yang bisa ditangkap oleh LAPAN yaitu Indonesia masih belum aman dari kejatuhan Tiangong-1.

Jika dibandingkan dengan minggu lalu, Tiangong-1 sudah turun 20 kilometer. Kala itu, stasiun antariksa tersebut masih ada di ketinggian 220 kilometer.

Berdasarkan pemantauan terkini LAPAN melalui laman http://orbit.sains.lapan.go.id (yang selalu update setiap jam) dikatakan bahwa sejak 1 jam yang lalu hingga 1 jam ke depan tidak ada benda antariksa buatan yang melintasi Indonesia dengan ketinggian kurang dari 200 km.

Pada umumnya suatu benda dikatakan jatuh (mengalami atmospheric reentry) jika ketinggiannya mencapai 122 km.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, memperkirakan bahwa sampah angkasa tersebut akan baru jatuh ke Bumi ketika sudah ada di ketinggian 120 kilometer. Ini berarti waktu dari kejatuhan tersebut sudah bisa diprediksi.

Akan tetapi, Thomas mengatakan, ada beberapa faktor yang harus dipastikan untuk menebak dengan pasti kapan benda antariksa ini akan jatuh. Hingga saat ini, keakuratan dari penentuan tanggal masih +/- 7 hari.

“Kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara kerapatan atmosfer sendiri dipengaruhi aktivitas Matahari dan medan magnet Bumi,” tulis Thomas dalam akun Facebook pribadinya.

Akan tetapi, Thomas menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir. Hal ini dikarenakan Tiangong-1 akan hancur sebelum menyentuh Bumi. Dengan bobot 8,5 ton, Tiangong-1 dipastikan hancur sebelum mendarat.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close