India Resmi Resesi

India Resmi Resesi
Resesi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Bank Sentral India melaporkan negara itu memasuki resesi teknis pada paruh pertama tahun fiskal 2020-2021 (April 2020-Maret 2021) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Menurut laporan yang dirilis oleh tim yang dipimpin oleh Michael Patra, wakil gubernur di Reserve Bank of India (RBI), ekonomi terbesar ketiga di Asia itu mungkin telah menyusut untuk kuartal kedua berturut-turut (Juli-September). Sehingga mendorong negara itu ke dalam resesi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Melansir Xinhua, Jumat, 13 November 2020, sesuai laporan, produk domestik bruto India akan mengalami kontraksi 8,6 persen pada Juli-September. Setelah merosot sekitar 23,9 persen pada April-Juni, meskipun statistik resmi akan dirilis akhir bulan ini pada 27 November.

Bank sentral menyatakan tentang hidup di masa-masa sulit, laporan itu mengatakan, "stres yang meningkat di antara rumah tangga dan perusahaan yang telah ditunda tetapi tidak dikurangi, dapat meluas ke sektor keuangan."

Memperhatikan tentang risiko penurunan dan inflasi, khususnya, menyusul covid-19, laporan itu mengatakan, "(Risiko) utama adalah tekanan inflasi yang tak henti-hentinya, tanpa tanda-tanda covid-19 akan memudar. Kemudian pembatasan pedagang bawang merah, impor kentang, dan bawang (tanpa pengasapan), serta pengurangan sementara bea masuk untuk kacang-kacangan."

Pengaruh gelombang kedua covid-19 ke ekonomi global dapat berdampak pada pemulihan ekspor baru-baru ini, karena permintaan eksternal mengancam jatuhnya harga komoditas.

Namun, dengan catatan optimistis, laporan RBI mengatakan bahwa ekonomi India akan keluar dari kontraksi dalam enam bulan dan kembali ke pertumbuhan positif pada kuartal Oktober-Desember 2020-2021. Data yang masuk untuk Oktober 2020 telah mencerahkan prospek dan meningkatkan kepercayaan konsumen dan bisnis.\