EkonomiInternasional

IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Global 2019 dari 3,9% Jadi 3,7%

NUSA DUA, SENAYANPOST.com – Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tidak akan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada 2019 atau cenderung stagnan dari pertumbuhan-pertumbuhan yang telah terjadi sebelumnya.

Dana Moneter International dalam World Economic Outlook Oktober 2018, memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi global pada 2019 akan cenderung lebih lambat 0,2 persen dari proyeksi yang dikeluarkan pada Juli 2018, yakni dari 3,9 persen, menjadi 3,7 persen. Sedangkan, hingga akhir 2018, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia masih sebesar 3,7 persen.

Kepala Ekonom IMF, Maurice Obstfeld menjelaskan, proyeksi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh downside risk atau risiko yang menurunkan pertumbuhan ekonomi itu semata, melainkan dipengaruhi oleh adanya peningkatan tekanan-tekanan negatif lanjutan yang terus terjadi di 2019.

“Terlebih, di beberapa negara ekonomi utama, pertumbuhan ekonominya didukung oleh kebijakan yang tampaknya tidak berkelanjutan untuk jangka panjang. Kekhawatiran ini meningkatkan urgensi bagi para pembuat kebijakan untuk bertindak,” tutur dia saat konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018).

Dia mencontohkan, pertumbuhan di Amerika Serikat, ditopang oleh kebijakan fiskal yang procylical, sehingga menyebakan keberlanjutan pertumbuhan ekonominya dengan kecepatan yang kuat dan mendorong suku bunga AS menjadi lebih tinggi.

Akan tetapi, menurut dia, pertumbuhan ekonomi AS cenderung akan jatuh jika sekali saja ada bagian-bagian dari kebijakan stimulus fiskalnya yang seketika berubah menjadi kebalikannya.

Karena itu, menurut dia, meskipun ada momentum permintaan saat ini, dia menegaskan, IMF telah menurunkan perkiraan pertumbuhan AS 2019 karena kebijakan pengetatan tarif yang baru-baru ini diberlakukan terhadap berbagai barang impor dari Tiongkok dan pembalasan Tiongkok.

“Secara keseluruhan, dibandingkan dengan enam bulan lalu, proyeksi pertumbuhan 2018-2019 di negara maju adalah 0,1 persen lebih rendah, termasuk penurunan peringkat untuk kawasan euro, Inggris, dan Korea. Revisi negatif untuk emerging market dan negara berkembang lebih parah, di negatif 0,2 persen dan -0,4 persen. Masing-masing, untuk tahun ini dan tahun depan,” ungkapnya.

Dengan demikian, secara rinci, pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, dikatakannya akan sebesar 2,4 dan 2,1 persen di 2018 dan 2019. Sementara itu untuk negara-negara berkembang di masing-masing tahun akan berada di angka 4,7 persen. Di mana untuk lima negara ASEAN utama, termasuk Indonesia akan sebesar 5,3 dan 5,2 persen di 2018 dan 2019.

“Dengan tingkat inflasi inti mereka yang sebagian besar tidak bergerak, ekonomi negara maju akan terus menikmati kondisi keuangan yang mudah. Namun ini tidak berkolerasi di negara emerging market dan berkembang, di mana kondisi keuangannya telah diperketat secara nyata selama enam bulan terakhir,” ungkapnya.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close