Opini

“Imagine”

Oleh: Trias Kuncahyono

Tanggal 11 Oktober 1971, lagu Imagine dirilis. Lagu yang dikemas dalam albun yang bernama sama “Imagine” dan dinyanyikan John Lennon itu, dengan cepat populer, dan menempati peringkat atas pada charts lagu-lagu di AS, Kanada, Inggris, dan Australia serta diputar di radio seantereo dunia (“The Beatles,” 2001. The Rolling Stone).

Ketika itu, lagu karya John Lennon tersebut dipandang sebagai salah satu singles terbaik sepanjang masa. Meskipun, sukses dalam blantika musik dunia, tetapi Imagine dikelilingi oleh kontroversi.

Sangat masuk akal kalau Imagine dikelilingi kontroversi. Dalam lagu itu, John Lennon meneriakkan pendapat yang menentang arus; menentang kewajaran; melawan pikiran waras yang menjadi pandangan dunia. Pandangan John Lennon dianggap tidak masuk akal; bukan hanya tidak masuk akal melainkan bahkan sangat utopis, sangat tidak bisa diterima orang bernalar sehat.

Bagaimana tidak. John Lennon lewat lagunya menawarkan dunia tanpa surga, tanpa neraka, tanpa negara, tanpa politik, tanpa kelaparan, dan tanpa dilema sosial lainnya. Bagaimana mungkin dunia tanpa negara? Bagaimana mungkin dunia tanpa agama? Bagaimana mungkin juga tidak ada neraka dan surga? Kalau tidak ada kelaparan, itu yang sangat baik dan diinginkan semua orang. Tetapi, kalau tidak ada politik, apakah mungkin?

Coba simak sebagian lirik lagu Imagine-nya John Lennon:

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

Tentu, kaum agamis yang masuk dalam kategori fanatik, buru-buru menentang gagasan John Lennon itu. Sebab, bagaimana mungkin bahwa surga itu tidak ada. Ini jelas bertentangan dengan ajaran agama. Lalu apa gunanya berbuat baik dan hidup baik, kalau tidak ada surga? Kira-kira demikian, suara yang muncul. Kalau tidak ada neraka, akan enak mereka yang dikala hidup di dunia berbuat jahat, banyak dosa. Enak kalau begitu mereka itu.

Apakah benar bahwa John Lennon anti-agama, dengan melemparkan lagu itu? Atau justru sebaliknya, ia menggugat agama. Mengapa ada agama, tetapi orang saling membunuh, saling memfitnah, saling mencaci, saling mencerca, saling menghancurkan, senang menyebarkan berita bohong, senang menyebarluaskan berita tanpa dasar kebenaran. Bukankah, semua agama mengajarkan tentang kebaikan, tentang hidup baik, tentang saling menghargai dan menghormati? Tetapi, lihat apa yang terjadi di banyak negara di Timur Tengah atau belahan dunia lainnya, orang saling membunuh, orang dengan enteng tanpa merasa berdosa mencabut kehidupan orang lain dengan menjadi, misalnya, pengebom bunuh diri.

Karena itu, benarlah yang dikatakan oleh penyair dan dan filosof Romawi, Lucretius Carus, tantum religio potuit suadere malorum, betapa hebatnya agama sampai bisa mendorong berbuat jahat. Kejahatan karena agama dalam sejarah manusia banyaka terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, juga termasuk di negeri kita. Dunia pernah diwarnai dengan Perang 30 Tahun (1618-1648) antara Katolik dan Protestan di wilayah yang sekarang menjadi Jerman, perang di Irlandia Utara antara Protestan dan Katolik, Perang Salib, konflik Sunni dan Syiah di Irak, konflik Hindu dan Muslim di India, dan masih banyak lagi kalau kita sebut semua.

Fanatisme agama yang berlebihan, yang kelewat batas, yang bablasan, telah meruntuhkan toleransi antarmanusia yang aneka ragam ini. Agama, tidak jarang, digunakan sebagai senjata untuk melegalkan semua cara, termasuk untuk tujuan-tujuan politik. Atas nama agama, orang dapat menyakiti orang lain, bahkan membunuh, seperti yang terjadi, misalnya di Suriah, Nigeria, Pakistan, Afganistan, Somalia, Myanmar, AS, di sejumlah negara Eropa, dan juga di Indonesia. Dan, perlu diingat pula, Presiden AS Donald Trump ketika kampanye pemilu presiden juga meneriakkan slogan-slogan rasialis, kebencian agama dan ras.

Dalam banyak kisah, terbukti bahwa di tangan penguasa atau politikus yang ambisius, agama yang lahir untuk membimbing ke jalan yang benar, disalahfungsikan menjadi alat legitimasi kekuasaan, untuk merebut kekuasaan dan meraih kekuasaan. Agama yang semestinya bisa mempersatukan umat manusia, malah dijadikan alat untuk mengotak-ngotakkan umat manusia atau bahkan dijadikan dalil untuk memvonis pihak-pihak lain yang tidak sejalan atau dianggap tidak sejalan.

Maka itu wajar kalau ada yang bertanya, lalu apa sumbangan agama terhadap peradaban manusia? Bukankah toleransi, saling menghormati, saling menghargai, persaudaraan, belarasa, tenggang rasa merupakan ungkapan peradaban manusia? Dan, semua itu pula yang diajarkan agama.

Akan tetapi, John Lennon, mungkin melihat lain. Ia, barangkali, masih merasakan bahwa semua itu baru sebatas mimpi. Ia ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Maksudnya, bagaimana caranya agar agama kita tidak berhenti dalam mimpi, tetapi membuat mimpi menjadi nyata? (A Sudiarja: 2018). Karena itu, John Lennon lebih membayangkan semua orang hidup dalam damai, tanpa perang, tanpa saling membunuh, tanpa kelaparan, tanpa kebodohan. Apakah itu hanya terwujud kalau dunia tanpa agama, tanpa negara, tanpa politik, misalnya? Tentu tidak!

Yang pasti dalam Rolling Stone’s “500 Greatest Songs of All Time”, lagu Imagine disebut sebagai lagu kebangsaan universal bagi perdamaian dunia yang merasuki setiap generasi. Bahkan, ada yang menyebut sebagai lagu kebangsaan humanis internasional. Wajar kalau begitu, Stevie Wonder menyanyikannya pada Olimpiade 1996, Peter Gabriel menyanyikannya pada Olimpiade 2006, dan paduan suara anak-anak menyanyikan lagu itu pada upacara penutupan Olimpiade 2012. Dan, Shakira sebagai Goodwill Ambassador UNICEF, menyanyikan Imagine di PBB.

Tentu, mereka, para penyanyi kondang itu memimpikan agama, negara, politik, dan sebagainya benar-benar menghadirkan perdamaian dan kedamaian dan berharap mimpi itu menjadi nyata.

*Dikutip dari https://triaskun.id/2018/12/06/imagine/

KOMENTAR
Tags
Show More
Close