Internasional

Ilmuwan Palestina yang Dibunuh di Malaysia Sudah Direncanakan 4 Bulan

KUALA LUMPUR, SENAYANPOST.com – Kepolisian Diraja Malaysia membeberkan jika pembunuhan terhadap ilmuwan Palestina Dr Fadi al-Batsh sudah direncanakan setidaknya dalam empat bulan.

Al-Batsh yang juga ahli roket Hamas itu ditembak di Kuala Lumpur, Malaysia pada Sabtu , 21 April lalu.

Menurutu polisi, salah satu dari dua tersangka pembunuh al-Batsh telah berada di Malaysia sejak akhir Januari 2018. “Kami berhasil mendapatkan gambar tersangka berdasarkan keterangan saksi mata,” kata Kepala Polisi Diraja Malaysia Jenderal Polisi Tan Sri Mohamad Fuzi Harun.

“Kami percaya dia menggunakan dokumen identitas palsu untuk masuk ke negara ini,” lanjut Mohamad Fuzi, yang dikutip The Star, Kamis (26/4/2018).

“Dia mungkin mengubah penampilannya tapi setidaknya kita punya fotonya. Kami berharap masyarakat dapat membantu kami melacak tersangka,” ujar Mohamad Fuzi.

Al-Batsh ditembak mati saat hendak pergi ke sebuah masjid di Kuala Lumpur untuk salat Subuh pada Sabtu pekan lalu. Menurut rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, dua tersangka beraksi dengan menaiki sepeda motor.

Keluarga al-Batsh menuduh agen Mossad Israel sebagai pelaku. Sedangkan Hamas menyalahkan Israel. Namun, Tel Aviv membantah terlibat dalam pembunuhan ilmuwan muda Palestina tersebut.

Meskipun pembunuhan sudah berselang lima hari, polisi Malaysia meyakini para tersangka masih berada di negara tersebut. “Kami telah memperketat keamanan di sepanjang perbatasan nasional kami,” ujar Mohamad Fuzi.

“Kami juga bekerja dengan lembaga penegak hukum lainnya, termasuk Departemen Imigrasi, untuk memperketat jaringan di sekitar tersangka,” imbuh dia.

Ditanya apakah para tersangka adalah agen asing, Mohamad Fuzi mengatakan dia tidak bisa mengonfirmasi atau membantahnya.

“Kami masih menyelidiki. Namun, kami percaya mereka sangat terlatih karena serangan itu dilakukan secara profesional,” katanya, yang menambahkan bahwa 14 peluru dikumpulkan dari lokasi kejadian.

Sementara itu, istri korban, Enas al-Batsh, 31, mengatakan dia dan tiga anaknya yang masih kecil akan kembali ke tanah air mereka di Palestina untuk selamanya. Tapi, dia bertekad melanjutkan studi PhD-nya.

Enas menggambarkan almarhum suaminya sebagai seorang pria yang bersemangat tentang pendidikan.

“Saya ingat suami saya berkata, ‘Anda telah bersabar menunggu saya untuk menyelesaikan PhD saya, dan saya akan menunggu Anda untuk melanjutkan tugas Anda’,” katanya mengingat ucapan korban saat masih hidup. (WW)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close