Mutiara Hikmah

Ilmu Adalah Jalan Menuju Surga

Ilmu Adalah Jalan Menuju Surga

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“OH. Ini kan pesan untuk dua putriku yang kutulis awal tahun ini dan belum sempat kukirimkan kepada mereka berdua!” 

Demikian gumam pelan bibir saya ketika membaca tulisan tersebut dini hari itu. Sekitar empat tahun yang lalu. Dini hari itu, selepas melaksanakan shalat malam, mentadarus Al-Quran, dan menanti waktu shalat Shubuh tiba, saya sejenak “berenang dan mengembara”. Ya, “berenang dan mengembara” di antara tulisan-tulisan yang sedang saya siapkan.

Ketika sedang asyik “berenang dan mengembara” demikian, tiba-tiba saya menemukan “pesan terlupakan”. Yang belum saya sampaikan kepada dua putri saya. Pesan itu pun, kemudian, saya simak. Lama. Usai membaca pesan tersebut, segera pesan itu pun saya tulis ulang pelan. Biar tidak terlupakan lagi:  

Nduk. Dua putriku tercinta. Sebentar lagi Bapak berusia 64 tahun (empat tahun yang lalu). Insya Allah, saat tepat usia itu, Bapak sedang sowan kepada Kanjeng Nabi Muhammad  Saw. Ya, sowan kepada beliau di sebuah Kota Suci: Madinah Al-Munawwarah. Usia Bapak saat itu telah melampaui usia beliau ketika berpulang. Dengan kata lain, sudah selayaknya Bapak harus ‘bersiap-siap’. Namun, sebelum ‘berpulang’, Bapak ingin menuturkan sebuah kisah indah. Pendek saja kok. Boleh kan. Kiranya kisah ini dapat menjadi sedikit pegangan bagi kalian berdua. Dalam meniti hidup yang fana ini.

Nduk, sejak kalian berdua masih kecil, Bapak dan Ibu mendambakan memiliki anak-anak yang shalihah, bertakwa, dan berilmu. Dambaan itu senantiasa Bapak dan Ibu tuangkan dalam doa yang tidak pernah henti Bapak dan Ibu panjatkan kepada Allah Swt. Tentu, disertai usaha dan perjuangan. Tanpa henti pula. Menjadi shalihah dan bertakwa, tentu saja kedua hal itu merupakan dambaan setiap Muslim dan Muslimah. Namun, mengapa Bapak beri tambahan berilmu? 

Kalian berdua tentu menyadari, betapa Bapak dan Ibu sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan kalian berdua. Sampai pun ketika kalian menempuh program s-2 yang kalian ambil, Bapak dan Ibu senantiasa berusaha mendampingi kalian berdua. Tentu, tidak mendampingi secara harfiah. Namun, mendampingi lewat doa yang tanpa henti.  Memang, Bapak dan Ibu tidak pernah memanjakan kalian dengan hal-hal yang bercorak duniawi. Yang dapat membuat kalian ‘lupa diri’. Namun, bila berkaitan dengan keinginan untuk menimba ilmu yang bermanfaat, Bapak dan Ibu tidak pernah ragu. Untuk mendampingi kalian.

Mengapa ilmu penting bagi kalian berdua? 

Nduk, dua putriku. Simaklah sebuah kisah indah berikut. Semoga kisah indah itu dapat menjadi pegangan kalian berdua tentang pentingnya senantiasa menimba ilmu. Alias senantiasa belajar, belajar, dan belajar. Hingga akhir hayat.

Suatu ketika Kanjeng Nabi Muhammad Saw. mengemukakan di Madinah Al-Munawwarah, di hadapan para sahabat, bahwa beliau laksana Kota Ilmu. Sedangkan menantu kinasih beliau, Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib, laksana gerbang kota itu. Mendengar pernyataan Kanjeng Nabi Saw. yang demikian, sekelompok orang tidak memercayai pernyataan beliau. Mereka tidak percaya, sang menantu tercinta tersebut cukup layak mendapatkan sebutan sebagai “Gerbang Ilmu”. 

“‘Ali gerbang ilmu? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidak mungkin!” protes keras mereka. Diam-diam. Karena itu mereka, yang terdiri dari 10 orang, kemudian bertukar pandangan. Dalam perbincangan itu, akhirnya, mereka seiring pendapat: mereka akan menguji kebenaran pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. tersebut.

“Ayo kini kita tanyakan kepada ‘Ali tentang suatu masalah saja dan bagaimana jawabannya tentang masalah itu. Lewat jawaban yang ia berikan, kita dapat menilai seberapa jauh kepintarannya. Bagaimana, apakah kalian setuju?” ucap salah seorang di antara mereka.

“Setuju!” jawab mereka. Serentak dan kompak.

“Sebaiknya kita bertanya secara bergantian saja,” ucap yang lain. “Dengan demikian, kita dapat mencari titik kelemahan ‘Ali. Bila jawaban ‘Ali nanti selalu tidak ada yang sama, barulah kita percaya bahwa ‘Ali memang orang pintar dan layak mendapatkan sebuatan sebagai ‘Gerbang Ilmu’.”

“Baik juga saranmu itu. Ayo kita laksanakan!” sahut yang lain.

Ketika saat yang telah ditentukan tiba, selepas berbagi sapa dengan Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib, orang pertama di antara 10 orang itu tersebut lantas bertanya, “‘Ali. Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

“Saudaraku. Tentu saja ilmu lebih utama,” jawab Sayyidina ‘Ali. Lugas dan tegas. “Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul mulia. Sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir‘aun, Namrud, dan lain-lainnya.” 

Selepas mendengar jawaban Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib yang demikian, orang itu lantas mohon diri. Tidak lama selepas itu datang orang ke-2 dan bertanya kepada Sayyidina ‘Ali. Dengan pertanyaan yang sama. “‘Ali. Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

“Saudaraku, ilmu lebih utama ilmu ketimbang harta,” jawab Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib.

“Mengapa?”

“Saudaraku, ilmu akan menjaga diri Anda. Sedangkan harta malah sebaliknya. Anda malah harus menjaganya.” 

Selepas mendengar jawaban Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib yang demikian, orang itu lantas mohon diri. Tidak lama selepas itu datang orang ke-3. Seperti halnya orang pertama dan ke-2, ia pun bertanya, “Bagaimana pendapat Tuan, bila ilmu dibandingkan dengan harta?”

“Harta lebih rendah ketimbang ilmu,” jawab Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib. Santun.

“Mengapa demikian, Tuan?” tanya orang itu. Penasaran.

“Orang yang memiliki banyak harta biasanya akan memiliki banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan menghormatinya.”

Selepas mendengar jawaban Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib yang demikian, orang itu lantas mohon diri. Tidak lama selepas itu datang orang ke-4. Seperti halnya orang pertama, ke-2, dan ke-3, dia pun bertanya, “Bagaimana pendapat Tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?”

“Tentu lebih utama ilmu,” jawab Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib.

“Mengapa demikian?” desak orang itu.

“Ketika harta didayagunakan,” jawab Sayyidina ‘Ali, “kerap kali harta itu kian berkurang. Sebaliknya, bila ilmu dimanfaatkan, ilmu kian berkembang.” 

Tidak lama selepas itu datang orang ke-5. Seperti halnya empat orang sebelumnya, ia pun bertanya, “Bagaimana pendapat Tuan, bila ilmu dibandingkan dengan harta?”

Menjawab pertanyaan demikian, Sayyidina ‘Ali bin Abu  Thalib pun berucap, “Terhadap pemilik harta ada yang menyebutnya pelit. Sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani.”

Orang ke-5 itu pun segera berpamitan. Dan, tidak lama kemudian, datang orang ke-6.  Orang terakhir itu kemudian  menjumpai Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Jawab Sayyidina ‘Ali, “Saudaraku. Harta akan senantiasa memerlukan penjagaan dari tindak kejahatan. Sedangkan ilmu tidak memerlukan penjagaan dari tindak kejahatan. Lagi pula, ilmu akan menjaga Anda.” 

Usai menerima jawaban demikian, orang ke-6 itu pun segera berpamitan. Dan, tidak lama kemudian, datang orang ke-7. Pertanyaan yang sama kemudian diajukan orang ke-7 tersebut.  Pertanyaan itu kemudian dijawab Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib, “Saudaraku. Kelak, di Hari Kiamat, pemilik ilmu akan dianugerahi Allah Swt. syafaat. Sedangkan pemilik harta, kelak di akhirat, akan dihisab Allah Swt.”

Usai menerima jawaban demikian, orang ke-6 itu pun segera berpamitan dan menemui teman-temannya yang sedang menunggu dirinya. Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Tujuh orang yang telah bertanya kepada Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib pun mengutarakan jawaban yang diberikan menantu Rasulullah Saw. tersebut. Mereka tidak menduga, ternyata jawaban yang diberikan Sayyidina ‘Ali selalu berbeda. Kini, tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugas mereka. Dan, ketiga orang itu merasa percaya diri akan mampu mencari celah kelemahan Sayyidina ‘Ali. Sebab, ketiga orang itu dianggap yang paling pintar di antara 10 orang itu.

Segera, orang ke-8 datang menemui menghadap Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib dan bertanya, “’Ali. Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama?”

“Ilmu, tentu, lebih utama dan lebih penting,” jawab Sayyidina Ali.

“Mengapa demikian?”

“Dalam waktu yang lama,” ucap Ali bin Abu Thalib, “harta akan habis. Sedangkan ilmu malah sebaliknya. Ilmu akan abadi.”

Orang ke-8 itu pun segera berpamitan. Tidak lama kemudian, datang orang ke-9.  Orang terakhir itu kemudian  menjumpai Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib dengan mengajukan pertanyaan yang sama. “Seseorang yang memiliki banyak harta,” jawab Sayyidina ‘Ali kepada orang itu, “akan dihormati hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dihormati sebagai intelektual.”

Kini, tibalah giliran orang ke-10, orang yang terakhir. Ia pun bertanya kepada Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib mengenai yang sama. Jawab Sayyidina ‘Ali, “Harta akan membuat Anda tidak tenang. Dengan kata lain, harta akan membuat kalbu Anda membatu. Ilmu sebaliknya. Ilmu akan memendari kalbu Anda. Hingga kalbu Anda akan menjadi berpendar cemerlang dan tenteram karenanya.”

Usai menerima jawaban demikian, orang ke-10 itu pun segera berpamitan dan menemui teman-temannya yang sedang menunggu dirinya. Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Tiga orang terakhir yang telah bertanya kepada Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib itu pun mengutarakan jawaban yang diberikan menantu Kanjeng Nabi Muhammad Saw. tersebut. Mereka tidak menduga, ternyata jawaban yang diberikan ‘Ali selalu berbeda. Kesepuluh orang itu akhirnya percaya, apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Saw. adalah benar adanya bahwa ‘Ali bin Abu Thalib memang pantas mendapatkan sebutan sebagai “Gerbang Ilmu”.

Nduk, putri-putriku. Demikian kisah indah itu. Singkat, tapi sarat hikmah. Dengan kata lain, bekal ilmu  itu sangat penting. Meminjam ungkapan Mbah K.H. Maimoen Zubair (Almaghfurlah), Sarang, Rembang, Jawa Tengah, “Dalane suargo iku ilmu. Isone entuk ilmu iku ngaji. Ngaji sing coro ulama utowo kiai. Modern yo modern. Tapi, ojo lali ngaji senajan seminggu sepisan. Jalan menuju surga adalah ilmu. Ilmu dapat diperoleh dengan mengaji. Mengaji sebagaimana yang diteladankan para ulama  atau kiai. Modern ya modern. Namun, jangan lupa mengaji, meski hanya seminggu sekali.”

Nduk, dua putriku, pesan Bapak sekali lagi, jangan pernah lelah dalam menimba ilmu. Yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Itulah pesan Bapak untuk kalian berdua. Dan,  tengah malam ini,  Insya Allah Bapak akan meninggalkan Tanah Air tercinta, menuju Tanah Suci termulia. Selepas itu, Insya Allah Bapak akan menimba ilmu di sebuah negeri jauh. Ya, ke negeri jauh yang pernah dipendari  ilmu, Andalusia: tempat kelahiran sederet ulama dan ilmuwan raksasa yang ilmu mereka bermanfaat bagi umat manusia. Antara lain Ibn Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn ‘Arabi. 

Doakan, kiranya perjalanan Bapak ini menjadi perjalanan yang sarat kebaikan, ketakwaan, dan amal-amal yang diridhai Allah Swt., âmîn yâ Rabb al-‘âlamîn.”