Mutiara Hikmah

Ijtihad ala Seorang Mufti Mesir

Ijtihad ala Seorang Mufti Mesir

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“SAYA AKAN DATANG! Sejak lama, selepas pulang dari Jerman, saya ingin mendengarkan kuliah mufti kita yang satu ini.”

Demikian ucap seorang jurnalis kondang Mesir,  suatu hari, kepada seorang sahabatnya. Jurnalis yang satu ini terkenal gemar menggeluti dunia filsafat dan pemikiran. Perhatian  jurnalis yang jebolan sebuah universitas kondang di Jerman itu, sejak muda usia, memang tercurah pada dua dunia itu, selain menggeluti profesinya sebagai seorang jurnalis. Karena itu, ketika ia mendengar mufti negerinya, kala itu, akan memberikan “studium generale” kepada para mahasiswa program pascasarjana di sebuah institut di Zamalek, Kairo, ia pun dengan penuh semangat menyiapkan dirinya. Ya, menyiapkan dirinya  untuk menghadiri kuliah yang akan diberikan sang mufti yang mantan rektor sebuah universitas yang telah berusia sekitar 1.000 tahun: Universitas Al-Azhar, Kairo.

Sebelum sang mufti yang menantu seorang ulama kondang Al-Azhar Al-Syarif, Syeikh Muhammad ‘Abdul Lathif Darraz, tiba di tempat, sore itu sang jurnalis sudah berada di auditorium institut tersebut. Sekitar 150 mahasiswa program pascasarjana  telah hadir di situ. Tidak lama kemudian, sang mufti tiba. Datang sendirian tanpa pengawal atau pun pengiring. Ya, datang sendirian tanpa pengawal atau pun pengiring!

Melihat wajah sang mufti, sejenak sang jurnalis terpana: betapa wajah itu memendarkan kewibawaan yang diwarnai kerendahan dan kedamaian hati. Wajah sang mufti, dalam pandangannya, tampak memendarkan cahaya ilmu dan teladan yang menawan. Jenggot panjangnya yang memutih membuat kewibawaannya kian “bercahaya”, ditopang dengan serban putihnya dan jubah panjangnya yang berwarna hitam. Waktu saat itu menjelang saat shalat Maghrib.

Segera, sang mufti duduk di hadapan para mahasiswa. Mereka, ada yang masih mengenakan seragam  militer. Ada pula yang masih mengenakan baju dinas. Juga, ada pula mahasiswa yang mengenakan baju harian. Tidak lama kemudian, sang mufti memberikan kuliah tentang Perikehidupan Nabi Muhammad Saw. (Sîrah Nabawiyyah). Fase demi fase kehidupan Nabi Saw. pun dipaparkan sang mufti demikian menawan. Dengan bahasa fushah (baku) yang indah dan nada suara yang santun namun meyakinkan. 

“Tidak salah aku hadir pada sore hari ini. Betapa menawan kuliah yang diberikan mufti yang satu ini. Ilmu beliau memang luas sekali,” demikian gumam pelan bibir sang jurnalis mendengar kuliah yang diberikan sang mufti. “Semestinya, demikian inilah gambaran seorang ulama: rendah hati, berwibawa, berilmu, dan berwawasan luas.”

Tidak lama kemudian saat shalat Maghrib tiba. Tidak lama selepas itu,  salah seorang mahasiswa berucap kencang, “Ash-shalâh, ya syaikh! Saatnya shalat (maghrib), Tuan Guru!” Ternyata, sang Tuan Guru tetap melanjutkan kuliah yang ia berikan. Malah, paparannya perikehidupan Rasulullah Saw. kian menawan. Paparan demi paparan menawan disampaikan sang mufti. Sehingga, waktu bergulir cepat mendekati saat shalat Isya’.  Menyadari hal itu, seorang mahasiswa berteriak kencang, “Ash-shalâh, ya syaikh! Shalat (Maghrib dulu), Tuan Guru!”

Meski ada teriakan kencang demikian, sang mufti tetap tidak menghentikan kuliah yang ia sampaikan. Karena itu, sejumlah mahasiswa pun keluar dari ruang kuliah untuk melaksanakan shalat Maghrib. Dan, ketika saat shalat Isya’ tiba, sang mufti berucap, “Demikianlah kuliah tentang sirah nabawiyyah yang dapat  saya sampaikan hari ini. Betapa banyak pelajaran dan teladan indah yang dapat kita ambil. Kiranya kuliah yang saya paparkan bermanfaat. Bagi kalian semua.”

Usai berucap demikian, mufti yang bernama Syeikh Ahmad Hasan Al-Baquri itu lantas diam sejenak. Kemudian, ucapnya selanjutnya, “Para mahasiswa sekalian. Tadi, ketika waktu shalat Maghrib tiba dan salah seorang di antara kalian berucap, “Ash-shalâh, ya syaikh,” tentu saya mendengarnya dan menyadarinya. Kemudian, ketika waktu shalat Isya’ menjelang masuk, saya juga mendengar teriakan salah seorang di antara kalian. Namun, saya tetap tidak menghentikan kuliah yang saya berikan.

Mengapa? 

Saya ingin memberikan wawasan kepada kalian, hendaknya kita memahami Hukum Islam dengan pandangan dan tinjauan yang luas. Saya ingin memberikan pandangan kepada kalian, suatu kegiatan ilmiah seperti ini dapat dijadikan landasan untuk menjama’ dua shalat. Memang, bisa saja ijtihad saya salah. Namun, ijtihad yang demikian ini kita perlukan dalam menghadapi perkembangan zaman yang bergerak demikian cepat. Banyak persoalan yang harus kita hadapi dan pecahkan dengan pandangan dan wawasan yang luas. Kalian sebagai para mahasiswa pascasarjana harus dapat memberikan contoh dalam hal ini. Tentu, hal itu harus bertolak dari niat dan maksud yang bening dan benar. Bukan karena didorong hawa nafsu. Wallâhu a’lam bi al-shawâb, wassalâmu’alaikum.” 

Segera, mantan Mufti Mesir yang lahir di Asyuth, Mesir pada 26 Mei 1926 dan berpulang di London, Inggris pada 27 Agustus 1985 itu berdiri dan meninggalkan auditorium institut tersebut. 

Melihat sang mufti berjalan di depannya, dengan langkah pelan, segera sang  jurnalis pun memburu sang mufti yang penulis sejumlah karya. Antara lain Al-Idrâk Al-Mubâsyir ‘indâ Al-Shûfiyyah, Saikulûjiyyah Al-Tashawwuf, Dirâsat fî Al-Falsafah Al-Islâmiyyah, Ibn ‘Athâ’illah wa Tashawwufuh, Al-Islâm di Afrîqiyâ, Madkhal ilâ Al-Tashawwuf Al-Islâmî, Al-Islâm wa Al-Fikr Al-Wujûdi Al-Mu‘âshir, dan Al-‘Alaqah bain Al-Falsafah wa Al-Thibb ‘indâ Al-Muslimîn

Kemudian, sang jurnalis pun mencium tangan kanan sang mufti seraya berucap, “Terima kasih sekali, Tuan Guru, atas kuliah yang Tuan Guru sampaikan hari ini!”@ru