Ihwal Ajakan Jihad dalam Azan

Ihwal Ajakan Jihad dalam Azan
NU Online

MUNCULNYA seruan “haiiyaa alal jihad”  (ajakan berjihad) dalam azan di beberapa masjid di Jakarta baru-baru ini menimbulkan kegaduhan. Tidak ada satu pun dasar dari pengucapan kalimat itu. Apalagi dilakukan di dalam masjid. Kreativitas?, inovasi? atau dalam bahasa agamanya ijtihad? Tentu untuk berijtihad tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang dan untuk semua hal. Ada syarat bagi orang yang berijtihad dan bagi masalah yang diijtihadkan.

Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, sama-sama mengakui belum menemukan hadist Nabi yang melandasi seruan “hayya alal jihad” itu. Sementara itu azan yang sebenarnya (tanpa hayya alal jihad) sangat jelas sejarah dan dasar hukumnya. Munculnya azan sebagai penanda masuknya waktu shalat bermula ketika Nabi Muhammad berkeinginan mencari cara dalam memberitahukan waktu salat. Tetapi, beliau belum juga menemukan cara tersebut. Banyak usulan dari para sahabat, seperti bunyi lonceng seperti yang berlaku di gereja atau suara terompet yang dilakukan orang Yahudi, dan lainnya, diajukan kepada Nabi Muhammad, tetapi tidak ada yang diterima Nabi. Padahal Nabi berkeinginan untuk mencari cara pemanggilan masuk waktu shalat yang pas saat itu, agar para sahabat dan keluarga yang rumahnya jauh dari masjid mengetahui masuknya waktu shalat.

Mengutip dari Sirah Nabawi (Ibnu Hisyam, 2018), diketahui seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid menghadap pada Nabi Muhammad SAW. Abdullah bercerita bahwa ia baru saja bermimpi melihat seruan azan pada malam sebelumnya. Dalam mimpinya tersebut, Abdullah bin Zaid didatangi oleh seorang berjubah hijau yang membawa lonceng. Abdullah bin Zaid berniat membeli lonceng miliki seorang berjubah hijau tersebut untuk memanggil orang-orang agar salat. Tetapi, seseorang yang berjubah tersebut memberikan saran padanya untuk mengucapkan serangkaian kalimat sebagai penanda waktu salat tiba.

Serangkaian kalimat azan yang dimaksud yaitu: Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya 'alash sholah hayya 'alash sholah, Hayya 'alal falah hayya 'alal falah, Allahu Akbar Allahu Akbar, dan La ilaha illallah. Mendengar cerita tersebut, Nabi Muhammad SAW lantas meminta Abdullah bin Zaid untuk mengajari Bilal bin Rabah cara melafalkan kalimat-kalimat tersebut. Ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan azan, sahabat nabi, Umar bin Khattab yang sedang berada di rumah mendengarnya.

Umar bin Khattab kemudian segera menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan bahwa dirinya pun bermimpi tentang hal yang sama dengan Abdullah bin Zaid. Umar bin Khattab bermimpi azan sebagai tanda masuknya waktu salat. Dalam satu riwayat, Nabi Muhammad disebutkan telah mendapat wahyu tentang azan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad membenarkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Zaid.  Sejak saat itu, azan resmi dijadikan penanda masuknya waktu salat untuk umat Islam. Menurut pendapat yang lebih sahih, azan pertama kali disyariatkan di Kota Madinah di tahun pertama Hijriyah. Sahabat Bilal bin Rabah pun kemudian dikenal sebagai muazin yang andal, suaranya lantang membahana.

Sedangkan hukum mengumandangkan azan menurut sebagian ulama adalah sunnah muakkad bagi shalat fardhu, baik dikerjakan berjemaah maupun sendirian atau munfarid. Sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Dari Malik bin al-Huwairits, Rasulullah SAW bersabda: "Jika telah tiba (waktu) shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan untuk kalian. Dan hendak-lah yang paling tua di antara kalian mengimami kalian" (Muttafaq alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631)], Shahiih Muslim (I/465 no. 674).

Pendapat yang lain yang dianggap lebih kuat, mengatakan hukum azan adalah fardhu kifayah. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya: "Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersama kami untuk memerangi sebuah kaum, tidaklah beliau berperang hingga datangnya pagi. Beliau menunggu, jika mendengar azan, beliau tidak memerangi mereka. Sebaliknya, jika tidak mendengar azan, maka beliau menyerang mereka". (Muttafaq alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/89/610)], ini adalah lafaznya, dan Shahiih Muslim (I/288 no. 382).

Hukum ini berlaku khusus laki-laki saja, wanita tidak melakukan azan, karena suara lantang bisa menjadi auratnya. Sesuai dengan sabda Nabi SAW, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Sahabat Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda "Tidak ada adzan dan iqomah bagi wanita".

Sepengetahuan penulis hanya ada dua kalimat yang lazim diselipkan dalam seruan azan. Pertama “asshalatu khoirum minan naum” (shalat itu lebih baik daripada tidur) dan seruan untuk sahalat di rumah pada saat ada pandemi wabah berbahaya, termasuk pandemi Covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia saat ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian mengeluarkan edaran dibolehkannya mengganti narasi itu berdasarkan qiyash (analogi) terhadap hadist Nabi.

Penyelipan narasi ajakan shalat di rumah pun ada sejarah dan dasarnya. Kebijakan sholat di rumah ternyata sempat terjadi di zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW. Hujan dan jalanan berlumpur berisiko menyulitkan para muslim yang hendak menunaikan sholat bersama-sama di masjid. Ajakan menunaikan shalat di rumah itu konsekuensinya harus dengan mengubah bunyi azan yang semula mengajak shalat di masjid menjadi shalat di rumah.

Seperti dinarasikan Abdullah bin Harith: "Hari itu sedang hujan dan berlumpur saat Ibnu Abbas hendak shalat bersama kami. Ketika muazin yang mengumandangkan azan berkata Hayyaa 'alas Shalaah, Ibnu Abbas mengatakan untuk mengubahnya menjadi As Shalaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibny berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada masa Rasulullah SAW) dan ini terbukti." (HR Bukhari).

Jadi narasi “hayya alal jihad” sama sekali tidak ada dasar historisnya dalam Islam. Mari beragama secara benar.