Ekonomi

IHSG Menguat dan Rupiah Terbaik Asia Jelang New Normal

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pekan depan, Indonesia siap menyongsong era baru. Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) akan mengakhiri masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga dimulailah masa kenormalan baru alias new normal.

Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat apa yang normal pada masa lalu belum bisa dilakukan lagi sekarang.

Norma yang baru adalah wajib menggunakan masker, rajin cuci tangan, pengukuran suhu tubuh saat ingin memasuki gedung, pembatasan penumpang angkutan umum, dan sebagainya. Ini adalah the new normal, cara berkompromi dengan virus corona yang belum ada vaksin maupun obatnya.

Walau demikian, new normal membawa harapan bahwa nestapa bisa segera diakhiri. Ya, gara-gara virus corona semua memang berantakan. Termasuk ekonomi.

Pada kuartal I-2020, aktivitas masyarakat yang terbatas membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sampai 3%, terendah sejak 2011.

Kemungkinan besar ekonomi Tanah Air akan mencatatkan kontraksi (pertumbuhan negatif) pada kuartal II, karena PSBB berlaku penuh pada kuartal ini.

Jika new normal sukses, artinya aktivitas masyarakat bisa pulih (walau belum 100%) tanpa ada risiko gelombang serangan kedua atau second wave outbreak, maka ada harapan ekonomi Indonesia bisa kembali ke teritori positif pada kuartai III-2020.

Sejumlah kalangan sudah membuat prediksi ke arah sana. Mirae Asset, misalnya, memperkirakan ekonomi pada kuartal III-2020 tumbuh 1,5% setelah kontraksi -1,5% pada kuartal sebelumnya.

Kemudian pada kuartal IV-2020, pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih sangar lagi yaitu 4,5%, hampir kembali ke masa pra-corona.

Sementara Morgan Stanley memperkirakan Indonesia berada di kelompok kedua negara-negara yang pulih dari hantaman virus corona. Morgan Stanley membagi fase pemulihan menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama hanya diisi satu negara yaitu China. Sebagai ground zero penyebaran virus corona, China juga menjadi negara yang paling cepat pulih.

“Ekonomi yang berorientasi kepada permintaan domestik dan pelonggaran pembatasan sosial membuat China sepertinya menjadi negara yang paling awal pulih dan kembali ke masa pra-corona. Mungkin paling cepat terjadi pada kuartal III-2020,” sebut riset Morgan Stanley.

Di kelompok kedua ada Indonesia, Filipina, dan India. Morgan Stanley menilai tiga negara tersebut punya eksposur yang relatif rendah terhadap perekonomian dunia, dengan kontribusi ekspor di bawah 20% dari pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ekonomi Indonesia, Filipina, dan India juga berorientasi kepada kekuatan domestik dan serangkaian reformasi struktural akan terus membuahkan hasil. Namun masih ada risiko, yaitu jika pandemi virus corona tidak memuncak pada kuartal II,” sebut riset Morgan Stanley.

IHSG, Rupiah, Sampai Obligasi Menguat

Harapan akan ekonomi yang lebih baik membuat pelaku pasar bernafsu memburu aset di pasar keuangan Indonesia. Hasilnya, pasar saham, valas, dan obligasi menunjukkan penguatan.

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,79%. IHSG mampu menguat kala sebagian besar indeks saham Asia melemah. Berikut perkembangan indeks saham utama Asia pada pukul 15:16 WIB:

Kemudian rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot dengan penguatan 0,68% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Asia lainnya memang cenderung menguat, tetapi apresiasi rupiah adalah yang terbaik.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah seri acuan tenor 10 tahun turun drastis 32,4 basis poin (bps). Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan.

Tidak cuma yang 10 tahun, penurunan yield terjadi di hampir seluruh tenor. Berikut perkembangan yield Surat Berharga Negara (SBN) pada pukul 15:22 WIB:

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close