Idul Fitri dan Produk  Puasa Ramadhan

Idul Fitri dan Produk  Puasa Ramadhan
M. Saekan Muchith

Oleh : M. Saekan Muchith

IDUL FITRI yang berarti kembali kepada kesucian (fitri) hari raya terbesar bagi umat Islam Indonesia yang dirayakan setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan selama satu bulan penuh. Satu bulan lamanya umat Islam menahan makan, minum dan menahan semua  nafsu yang mengarah kepada perbuatan jahat. Memperbanyak kegiatan ritual (ibadah) seperti sholat tarowih, membaca (tadarus) alqur’an, sholat tasbih dimalam hari ganjil setelah hari ke lima belas, menghadiri majelis ta’lim (pengajian) dan bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.

Merayakan idul fitri berarti kembali kepada  semangat untuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah  seperti yang dilaksanakan selama bulan ramadhan. Kembali meningkatkan semangat untuk menahan semua hawa nafsu yang mengarah kepada sikap dan perilaku negatif (jahat). Meningkatkan frekuensi baik secara kuantitas maupun kualitas dalam bersedekah.  Meningkatkan kualitas membaca dan mengamalkan nilai nilai yang ada di dalam kitab suci al qur’an, dan amalan lain yang mengarah kepada kualitas pribadi yang ideal.  

Banyaknya amal baik yang dilaksanakan selama bulan ramadhan, menjadikan  umat Islam memiliki  sosok pribadi yang bersih, baik dan mulia (bertaqwa) di mata sesama manusai maupun di mata Allah swt. Sesuai firman Allah Swt “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183).

Sosok orang yang bertaqwa (muttaqien) dijelaskan Allah swt dalam Surah Ali Imran : 133-135 "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) sesaama manusai. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Ciri orang yang bertaqwa dapat diilustrasikan dengan sikap dan perilaku sebagai berikut; Pertama, selalu mendorong dan meningkatkan semangat  dalam urusan kebaikan dan berusaha  menghilangkan  semangat  dalam urusan keburukan. Kedua, konsisten dalam bersikap dan  perilaku yang baik dalam segala suasana, artinya pada saat suka maupun duka tetap menjaga idealisme mempertahankan kebenaran yang dimiliki. Tidak akan pernah mau menjual harga diri hanya untuk kepentingan sesaat atau pragmatis. Ketiga, mensikapi segala persoalan dengan kepala dingin (rasional), tidak terburu buru sehingga tepat dalam mengambil keputusan. Keempat, selalu menyadari kesalahan, tidak pernah mencari kambing hitam atas kesalahan yang menimpa dirinya. Dengan kata lain, tidak menyalahkan apa lagi mencari cari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan yang dilakukan.  Kelima, selalu berusaha belajar dari kesalahan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kesalahan atau kegagalan bukan akhir dari usaha melainkan kesuksesan yang tertunda.

Kelima ciri orang bertaqwa tersebut tidak cukup hanya di ucapkan melainkan harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Agama tidak cukup dengan keyakinan dan lesan atau ucapan melainkan perlu diwujudkan dengan tindakan atau perilaku nyata dalam kehidupan sehari hari. Idul fitri adalah hari untuk merayakan atau melaksanakan produk ibadah puasa Ramadan dalam kehidupan. Hari untuk merayakan kemenangan dalam melawan nafsu yang mengajak untuk melaksanakan kejahatan atau pelanggaran (maksiat). Selamat merayakan hari raya idul fitri 1442 H

* Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd Peneliti Yayasan Tasamuh Jawa Tengah, Pemerhati Sosial Politik dan Agama IAIN Purwokerto.