Idul Fitri dan Kesucian Manusia di Era Pandemi

Idul Fitri dan Kesucian Manusia di Era Pandemi

Oleh: H.M. Amir Uskara

IDUL FITRI adalah hari suci. Hari perayaan fitri itu datang setelah umat Islam menyelesaikan puasa Ramadhan. 

Berulangnya Hari Fitri tiap tahun, menunjukkan bahwa Allah tidak pernah berhenti berharap kepada manusia agar selalu memperbaiki dan mensucikan diri. Tidak ada dosa dan kesalahan yang kekal dalam kehidupan. Karena itu, manusia dituntut untuk selalu mensucikan diri. Terutama mensucikan  niat dari tujuan sesat  --  niat melakukan sesuatu untuk berkhianat kepada Allah.

 Allah memberikan "fasilitas dan instrumen" untuk menghapuskan kesalahan manusia  dan kemudian mensucikannya.  Fasilitas dan instrumen tersebut berada dalam bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, Allah berjanji memberikan pahala besar, berlipat ganda, untuk setiap amal baik dari manusia. Sekaligus mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan manusia.  

Itulah fasilitas dan instrumen "pensucian manusia" yang diberikan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan. Di penghujung bulan pensucian itu, umat Islam merayakan Idul Fitri -- hari raya fitrah. Fitrah adalah kesucian asali manusia yang lahir tanpa dosa.

Lalu kenapa manusia hidupnya penuh dosa? Dosa-dosa itu muncul ketika manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Tapi Allah tetap berharap, manusia kembali suci. Dan bulan Ramadhan adalah fasilitas dan instrumen untuk mensucikan manusia yang penuh dosa dalam kehidupan sehari-hari tersebut. 

Nabi Muhammad bersabda, jika umat Islam berpuasa dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadhan, maka di hari Fitri ia akan jadi pemenang --  kembali menjadi suci. Seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Indah sekali.

Manusia adalah makhluk termulia. Bahkan lebih mulia dari malaikat. Ini terjadi karena manusia dihadapkan banyak pilihan. Tidak seperti malaikat yang dalam hidupnya hanya diberi satu pilihan, beribadah dan bersujud kepada Allah. Manusia berbeda: ia diberi pilihan. Mau menyembah Allah, atau mau membenci Allah. Silahkan.

Karena itu Allah dalam Al-Qur'an sangat memuliakan manusia yang berbuat baik. Dalam surat Al Hujarat ayat 13, Allah menyatakan kemuliaan manusia  tergantung seberapa besar taqwanya. Manusia terbaik adalah manusia yang paling bertaqwa.

Takwa adalah perbuatan baik (saleh dan positif memandang kehidupan). Menurut Al-Quran Surah Al-Hujarat 13 itu, Allah menciptakan manusia (pria dan wanita), berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku -- semata-mata untuk saling mengenal. Kata “saling mengenal”  itu perlu digaris bawahi. Ini karena statement “saling mengenal” merupakan dasar dari relationship yang menjadi fondasi penghormatan manusia terhadap manusia lain. 

Dari perspektif humanisme universal, penghormatan manusia terhadap manusia lain merupakan HAM yang hakiki, di mana PBB baru mendelarasikannya pada tahun 1948 setelah selesainya Perang Dunia Kedua.

Konsep dasar HAM yang diinisiasi Islam yang belum pernah ada pada agama dan kepercayaan sebelumnya adalah pengakuan terhadap kesucian manusia. Islam secara tegas menyatakan bahwa manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci. Nabi Muhammad menyatakan, setiap manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan suci tanpa dosa (kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitri). Pendidikan dari orang tua dan lingkunganlah yang merubah anak manusia menjadi apa kelak. Konsep kefitrahan manusia inilah yang menjadikan ajaran Islam sangat progresif, selalu melihat ke depan.

Penegasan Islam terhadap kesucian kelahiran manusia ini, dalam perspektif HAM merupakan sebuah deklarasi kemanusiaan paripurna dari sebuah ajaran agama (tauhid). Kenapa demikian? Karena pandangan kesucian manusia yang lahir di dunia merupakan dasar dari “eksistensi kemuliaan dan HAM" yang harus dijunjung tinggi tanpa sarat. Tanpa sarat berbasis gender, ras, suku, warna kulit, bangsa,  dan asal usulnya. 

Demikian tinggi penghormatan Islam terhadap kemanusiaan, sehingga Al-Qur’an – kitab suci Islam – menyatakan: Barangsiapa membunuh seorang manusia (padahal ia tak bersalah seperti membunuh orang lain atau membuat kerusakan dimuka bumi), maka dia (pembunuh) seakan-akan telah membunuh seluruh umat manusia. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seluruh umat manusia (Al-Quran Surat Al Maidah 32). Makna dari ayat tersebut sangat mendalam dan memperkuat fondasi HAM universal.l

Dari perspektif inilah, kita seharusnya merenungkan kebesaran Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri adalah hari di mana umat Islam diingatkan kembali oleh Allah bahwa manusia pada hakikatnya adalam makhluk yang suci. Kesucian itu akan automatically terinternalisir kepada setiap manusia jika sang manusia mampu mengendalikan nafsu angkara murkanya; nafsu syahwat seksnya; syahwat kuasanya; syahwat hartanya; dan syahwat politiknya.

Untuk dapat mengendalikan semua nafsu syahwat itu, Allah memerintahkan umat Islam melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan (Surah Al-Baqoroh 183). Ramadhan dan Idul Fitri harus dilihat dari perspektif ini. Sehingga umat Islam tidak biased dalam menghayati kedua momen penting tersebut.

Idul Fitri adalah momentum untuk menyadarkan manusia bahwa hidup itu suci, indah, dan sehat. Peristiwa apa pun yang akan mengganggu kefitrahan manusia harus dieliminir. 

Dalam konteks inilah, ketika hari Idul Fitri bersamaan dengan munculnya pandemi Covid-19, manusia harus lebih mementingkan "kesucian, keindahan, dan kesehatan" ketimbang apa pun. Karena tiga hal tersebut merupakan sine qua non dari  eksistensi kehidupan manusia; manusia yang sehat lahir dan batin.

Dengan demikian, dalam Idul Fitri era pandemi, menghindari hal-hal destruktif akibat penularan Covid-19, lebih diutamakan dari yang lain. Tujuannya agar umat manusia kembali menjadi agen yang memelihara rahmat semesta. Bukan sebaliknya.

Pandemi adalah agen yang bisa menghancurkan manusia. Karena itu menghindari invasi pandemi harus diutamakan lebih dari apa pun. Termasuk dalam merayakan Idul Fitri.

Akhirnya berbahagialah  orang yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Anda berhak untuk merayakan kesucian yang diperoleh dari ibadah spesial itu. Selanjutnya, demi kesucian yang maslahat itu, jangan lupa mengikuti protokol kesehatan.

Kali ini, bolehlah dipasang spanduk bertuliskan:  menghindari penularan virus corona adalah amal terbaik di era pandemi. Juga di hari Idul Fitri saat ini. Di 13 Mei 2021.

*Amir Uskara, Anggota DPR RI Fraksi PPP