Opini

Ibunda Membaluri Doa dan Kudangan

Mengenang Almarhumah Ibu Sudjiatmi (2)

DALAM budaya Jawa seorang ibu akan selalu. ngudang anaknya. Saat ia menggendong, memangku, atau kala menyusui. Kudangan adalah harapan orang tua kepada anaknya.

Syair-syairnya adalah lantunan doa yang membaluri sang anak.

Kudangan adalah suara paling merdu seorang ibu untuk anak-anaknya. Isinya serentetan kalimat suci. Kadang tidak indah jahitan kata-katanya tapi itu kalimat jiwa. Jiwa ibulah yang mengaransemen kudangan itu. Pendengarnya adalah seluruh alam seisinya.

Biasanya seorang ibu melantunkan kudangan itu untuk menghentikan tangis anak atau untuk meninabobokan agar segera tidur. Hanya seorang perempuan yang sudah menjadi ibu yang mampu. Ngudang tak mudah dilakukan seorang ayah.

Tak lelo lelo lelo ledung, cep menenga ojo pijer nangis. Anakku sing ayu (bagus) rupane. Yen nangis ndak ilang ayune (baguse). Tak gadhang bisa urip mulyo. Dadio wanita (pria) utama. Ngluhurke asmane wong tuwo , dadiyo pendekaring bangsa. Wis cep menengo ngger anakku. Kae mbulane ndadari kaya buta nggegilani, lagi nggoleki cah nangis.”

(Tak lelo lelo lelo ledhung, segeralah mereda jangan menangis terus anakku yang cantik (tampan). Bila engkau terus menangis bisa hilang kecantikan (ketampanan)nya. Aku memuji engkau agar bisa hidup mulia. Menjadi wanita (pria) utama, meluhurlan nama orang tua, jadilah pendekar bangsa. Sudahlah diam anakku. Lihatlah bulan purnama, seperti raksasa yang menakutkan sedang mencari anak yang menangis).

Ibu Sudjiatmi sangat hapal bershaf-shaf lirik di atas.

BACA JUGA: Mengenang Almarhumah Ibu Sudjiatmi (1)

Ia pun sering rengeng-rengeng senenandungkan kudangan lirih untuk anak-anaknya. Lagu itu sangat populer di Jawa Tengah, Yogyakarta atau sebagian Jawa Timur. Pelantun resminya, Waljinah, Sang Ratu Keroncong Indonesia.

Ia akan tersenyum jika nyanyiannya itu mampu meninabobokan atau membuat tangis anaknya mereda. Saat tangis Jokowi kecil atau adik-adiknya lenyap dan tertidur pulas di gendongannya. Itulah adegan bahagia di atas bahagia yang tak bisa diulang. Hanya bisa dikenang.

Kepasrahan adalah kemuliaan

Kepasrahan diri perempuan Jawa adalah kemuliaannya. Sudut sikap dan pandang pria yang folunglosentris tak membuat perempuan diperbudak. Itu bagian dari pengabdian pada suami.

Apa pun labelnya, kanca wingking atau kawan di belakang diperankan sebagai esensialis suami. Ya sebagai pelengkap pria. Diposisikan sebagai kasur (ditiduri), sumur (airnya digunakan untuk mencuci). Istilah Jawa, ngumbah kerising wong lanang. Mencuci keris artinya seksualitas pria.

Sebagai kanca wingking Ibu Sudjiatmi tidak menyesal terlahir sebagai perempuan. Sebagai muslimah pun tak jauh dari budaya Jawa, perlunya kepasrahan dalam derajat terukur. Toh Tuhan tetap memberi anugerah yang hanya dimiliki wanita dan tidak dimiliki oleh pria, termasuk suaminya sendiri.

Anugerah istimewa itu adanya “surga di bawah telapak kaki ibu”. Hal itu menunjukkan begitu dekat dan kasih Tuhan kepada perempuan yang berbakti. Ibu Sudjiatmi menyiapkan surga untuk anak-anaknya dengan mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak saleh dan salehah.

Mengingatkan dan selalu mengingatkan anak-anaknya adalah tugas mulia Ibu Sudjiatmi yang lahir di Boyolali pada tanggal 15 Februari 1943. Tepatnya di Dusun Gumukrejo, Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Termasuk selalu mengingatkan Jokowi setelah menjadi Presiden.

“Saya cuma mengingatkan saja. Kamu (Jokowi) bukan hanya milik keluarga, sekarang sudah menjadi milik bangsa Indonesia, ” ucap Ibu Sudjiatmo kepada Jokowi usai anak sulungnya itu memenangi pemilihan Presiiden beberapa waktu yang lalu.

(Bersambung)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close