Opini

Ibn Khaldun: Filosuf Sejarah Muslim Cemerlang dan Teori “Pergolakan Zaman”

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

KEDUDUKAN sebagai raja (penguasa) adalah posisi yang terhormat. Juga, didambakan oleh banyak orang. Kedudukan itu memberikan pada pemegangnya segala kekayaan duniawi. Di samping kepuasan lahir dan batin. Karena itu, posisi itu menjadi sasaran perebutan kekuasaan dan langka sekali dilepaskan dengan suka rela. Biasanya, posisi itu baru dilepaskan ketika di bawah tekanan. Perebutan kekuasaan memicu perjuangan dan peperangan serta runtuhnya tahta.”

Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah

“Ibn Khaldun memang seorang pemikir nomor wahid!”

Demikian seru bibir saya. Kembali terkagum-kagum dengan pemikiran ilmuwan Muslim asal Tunisia itu. Beberapa minggu yang lalu. Ya, kembali terkagum-kagum. Ini karena pada 1987, saya selama beberapa bulan, pernah “mendampingi” Ibn Khaldun dan mendalami filsafat sejarahnya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Zainab Al-Khudhairi, Falsafah Al-Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn. Buku itu kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan judul Filsafat Sejarah Ibn Khaldun.

Nah, beberapa minggu lalu, saya menemukan sebuah tulisan menawan David A. Graham. Dalam tulisan yang menawan tersebut, “14th-Century Muslim Philosopher Explains Walmart’s Slide” (www.atlantic.com), David A. Graham, antara lain, mengemukakan:

“Hari Rabu ini, Walmart mengalami hari terburuk. Selama masa hampir 30 tahun. Hal itu selepas perusahaan merilis prediksi mengenai keuntungan (yang akan diraih perusahaan itu). Jika para analis memperkirakan pertumbuhan moderat sebesar empat persen pada tahun fiskal mendatang, peritel raksasa itu memperkirakan terjadinya penurunan enam hingga 12 persen.”

[ads2

Lo, mengapa perusahaan raksasa itu mengalami penurunan drastis profit? Jawab David A. Graham:

“Salah satu cara untuk melihat masalah ini adalah dengan mengemukakan bahwa alasan penurunan Walmart sangat kompleks. Banyak analis memerkirakan, selama bertahun-tahun sebelumnya Walmart, peritel terbesar di dunia, akan goyah. Krisis keuangan sangat menguntungkan bagi Walmart. Ini karena reputasinya sebagai peritel barang-barang murah menjadikannya sebagai hub bagi para pembeli harga murah. Namun, ketika ekonomi dalam pemulihan dalam jangka panjang (andai tetap lambat), ada keinginan yang meningkat, di kalangan para pembeli, untuk menikmati pengalaman yang lebih khusus.

Tidak ada yang tampak lebih berlawanan dengan era barang-barang kecil dan dipesan lebih dahulu dari Walmart, meskipun keju dan keranjang buah, dengan harga hanya 78.99 dolar Amerika Serikat, terlihat cukup bagus. Perdagangan lewat internet telah memotong margin Walmart. Sedangkan kompetitor, seperti Target, sedang menyusul. Meski perusahaan tersebut telah berusaha menghadang tuntutan serikat pekerja, namun akhirnya perusahaan tersebut harus menaikkan tinggi paket gaji mereka. Akibatnya, hal itu kian mengurangi sebagian keunggulan kompetitifnya.

Jadi, itulah salah satu cara untuk memahami apa yang membuat Walmart ‘sakit’. Cara lain adalah melihatnya dari sudut pandang seorang guru manajemen. Bukan Clayton Christensen. Bukan Peter Drucker. Malah, juga bukan Sun Tzu, seorang ahli teori militer Cina, yang baru-baru ini menjadi populer di Wall Street. Tokoh yang perlu dipertimbangkan adalah seorang cendekiawan dan filosuf Muslim Afrika Utara. Dari abad ke-14: Ibn Khaldun. Tokoh ini terkadang dianggap sebagai Bapak Sosiologi. Ia seakan mengatakan, apa yang terjadi pada Walmart praktis tidak terhindarkan.”

Teori Tiga Daur

Kini, apa kaitan antara kisah Walmart dan tokoh kita kali ini: Ibn Khaldun?

David A. Graham, dalam sebuah tulisannya yang sama, lebih jauh mengungkapkan:

“Imperium-imperium (termasuk imperium bisnis) kian menua dan membusuk selama tiga generasi.” Demikian peringatan yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun. Meski teorinya merujuk pada dinasti-dinasti gurun pasir pada awal masa modern, namun teori itu dengan mudah dapat diterapkan pada Walmart. (Ini bukan pertama kalinya) teori Ibn Khaldun dipakai untuk memahami ekonomi Amerika Serikat. Ronald Reagan, salah seorang pengagumnya, mengutip pendapatnya. Untuk mendukung kebijakan yang lebih mendukung aspek supply. Yang tampaknya membuat para ilmuwan kecewa.

Pada generasi pertama, ungkap Ibn Khaldun, sebuah imperium didirikan oleh orang-orang Badui. Mereka berperilaku kasar, haus kekuasaan, memiliki solidaritas yang kuat, dan selalu waspada, ‘Pedang mereka selalu terasah. Serangan yang mereka lakukan senantiasa menimbulkan kekhawatiran (di pihak lawan). Dan, tetangga mereka selalu terkalahkan.’ Generasi kedua, semuanya masih berjalan baik. ‘Mereka berkuasa dan hidup makmur. Mereka beralih dari kehidupan nomaden menuju kehidupan yang menetap serta dari hidup yang penuh kesulitan menjadi menikmati kemewahan dan segala sesuatu tersedia melimpah,’ ungkapnya lebih lanjut. Namun, solidaritas erat di antara kabilah dan keluarga, yang membuat kekuasaan mereka sangat tangguh, mulai memudar. Dinasti yang ada pun mulai merekrut manajer luar, juga tentara bayaran, untuk memertahankan kerajaan mereka. Mereka kian menggantungkan diri pada birokrasi. Generasi ini menikmati puncak kejayaan imperium. Namun, segala sesuatunya cenderung stagnan. Sementara apa yang mereka wariskan kepada para ahli waris terlihat kuat dari luar. Tapi, rapuh di dalamnya.

Pada generasi ketiga, imperium cenderung menjadi runtuh. Generasi kedua dibesarkan dalam kemegahan. Para anggota generasi kedua itu dibesarkan oleh penduduk asli gurun pasir yang sama dan siap mendirikan imperium (baru). Sedangkan generasi ketiga tidak tahu apa-apa. Selain istana. Para anggotanya tidak memiliki semangat juang yang sama. Mereka gagal dalam meneladani model leluhur mereka. ‘Semangat kelompok mereka sepenuhnya padam. Mereka tidak memiliki keinginan untuk melakukan perlawanan, pertahanan, ataupun serangan,’ tulis Ibn Khaldun. ‘Namun, mereka memaksa orang-orang lain untuk mengenakan busana dan seragam mereka, menunggang kuda mereka, dan tempat yang mereka gunakan untuk bermanuver.’

Ini seiring dengan kisah Walmart. Ambil Sam Walton, pendiri dinasti (Walmart). Sebagai contoh. Kini, apa kemiripan antara yang terjadi Amerika Serikat dengan yang terjadi di Semenanjung Arabia modern awal? Salah satu model yang baik adalah Bentonville, Arkansas, sebuah kota pedesaan Ozarks yang berpenduduk sekitar 3.000 orang, ketika Sam Walton membuka toko pertamanya di sana. Walton yang cerdas, bijak, dan energik mampu mengubah toko itu menjadi sebuah rantai besar (toko-toko ritel). Mengalahkan pesaing yang lebih mapan seperti Kmart: perusahaan yang telah merasa puas diri seiring dengan berjalannya waktu. Ketika Walton berpulang pada 1992, Walmart merupakan peritel terbesar di Amerika Serikat.”

Lebih jauh, dalam memaparkan kaitan antara Teori Tiga Daur, yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun, dan Walmart, David A. Graham menulis:

“Di bawah generasi kedua keluarga Walton, Walmart mencapai puncak kejayaan: meraih pemasukan luar biasa. Sekitar 486 miliar dolar AS pada hitungan terakhir. Keluarga tersebut juga telah bertindak dengan baik. Empat anggota generasi kedua yang masih hidup, mereka menikmati kekayaan yang bernilai setidaknya sekitar 30 miliar dolar AS (meskipun ahli warisnya kehilangan sekitar 11 miliar AS ketika terjadi penurunan harga saham Walmart).

Namun, keluarga tersebut,kini, bergantung pada tentara bayaran. Seperti yang diprediksi oleh Ibn Khaldun atau sebagaimana kita menyebutnya dalam bahasa modern: para eksekutif bisnis. Senjata sewaan telah membuat perusahaan memiliki banyak uang. Tetapi, mereka kadang juga mengarah ke arah yang tidak bijak. Walmart mengaku bersalah atas kejahatan lingkungan dan membayar puluhan juta dalam proses penyelesaian. Penyelidikan tentang apakah perusahaan membayar suap di luar negeri telah menelan biaya sekitar 500 juta dolar AS. Beberapa eksekutif level tinggi dipecat selepas penyelidikan itu. Sedangkan anggota keluarga tersebut kini menjadi tertarik untuk mengejar usaha di luar Walmart. Termasuk di bidang filantropi dan seni.

Kini, bersamaan dengan jatuhnya harga saham, generasi ketiga keluarga Walton mengambil kendali. Musim panas ini, Greg Penner-cucu angkat Sam Walton-menjadi chairman perusahaan. Walmart sedang berjuang untuk menjinakkan birokrasinya dan mengurangi lapisan manajemen. Kelompok Serikat buruh terus menyerang Walmart sebagai bahan ejekan, karena memilih para pekerja yang dibayar rendah: sama seperti Ibn Khaldun yang menuduh generasi ketiga sebagai sebagai pelaku parasitisme dan penindasan.”

Gemar Menikmati Pentas Politik
Siapakah sejatinya Ibn Khaldun: ilmuwan Muslim kondang yang disebut David A. Graham tersebut dan yang, menurut Arnold Toynbee, “telah menciptakan dan menyusun filsafat sejarah yang tidak syak lagi merupakan hasil karya terbesar dalam ilmu sejarah” ini?

Ilmuwan yang nenek moyangnya berasal dari Hadhramaut, Yaman dan garis keturunannya berasal dari Wa’il bin Hajar, seorang sahabat Nabi Muhammad Saw. yang terkenal, ini lahir di Tunis pada Rabu, 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M. Namanya panjang: ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Khalid (atau Khaldun). Benar-benar panjang: rangkaian 10 nama. Hafalkah Anda?

Sebutan Ibn Khaldun sendiri dinisbatkan kepada Khalid bin ‘Utsman, salah seorang cucu Wa’il bin Hajar. Keluarga Khaldun ini memasuki Andalusia bersama pasukan kaum Muslim pada awal penaklukan kawasan tersebut. Mereka kemudian menetap di Carmona. Selanjutnya, keluarga itu pindah ke Sevilla. Kemudian, ketika kota itu jatuh ke tangan pasukan Spanyol, keluarga yang berpengetahuan luas dan menduduki jabatan kenegaraan tinggi itu pindah ke Tunis.

Seperti halnya kebanyakan para ilmuwan semasanya, ilmu pengetahuan Ibn Khaldun bercorak ensiklopedis. Ayahnya adalah guru pertamanya. Barulah kemudian ia memelajari tata bahasa Arab pada sejumlah guru di kota kelahirannyqa. Selanjutnya, ia memelajari teologi, ilmu alam, matematika, dan astronomi. Para gurunya kala itu, antara lain, adalah Abu ‘Abdullah Muhammad bin Al-‘Arabi Al-Hashayiri, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Al-Qushshar, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Bahr, Syamsuddin Abu ‘Abdullah Al-Wadiyasyi, Abu ‘Abdullah Muhammad Al-Jiyani, dan Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qashir, dan Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Abili. Ibn Khaldun sangat mengagumi gurunya yang terakhir yang pakar astronomi itu.

Ketika berusia 20 tahun, pesona pentas politik mulai memikat perhatian tokoh yang terkenal cerdas dan cermat ini. Padahal, pentas politik di tempat kelahirannya kala itu sarat dengan pergolakan, intrik, konflik, dan konspirasi. Untuk memenuhi ambisinya tersebut, ia meninggalkan Tunis menuju Biskra. Di tempat baru tersebut, ia diangkat oleh penguasa setempat untuk menduduki jabatan hijâbah (jabatan yang sama dengan jabatan menteri sekretariat negara dewasa ini), di samping tetap menimba ilmu pengetahuan. Tetapi, ia kemudian terlibat dalam coup d’etat, alias perebutan kekuasaan, di Bejayah (kini Bujeiah atau Bugia, Aljazair).

Akibatnya, Ibn Khaldun pun dijebloskan ke dalam bui oleh Sultan Abu ‘Inan Al-Marini, penguasa Maghrib Jauh kala itu, selama sekitar dua tahun, dengan tuduhan berkomplot dengan Pangeran Muhammad. Berkenaan dengan penahanan atas dirinya tersebut, Ibn Khaldun mencatat:

“Kemudian pada akhir tahun (tujuh ratus) lima puluh tujuh sultan gering… Ini membuat penguasa Bejayah berusaha melarikan diri (dari penjara). Untuk merebut kembalinya kekuasaan atas negerinya. Negeri itu, kala itu, berada di bawah kekuasaan menteri utamanya, ‘Abdullah bin ‘Ali. Maka, sultan pun memerintahkan menteri tersebut untuk menangkapnya. Kebetulan, kala itu, saya sedang bekerja sama dengannya. Sultan pun memerintahkan untuk menangkap, menginterogasi, dan menahan saya…”

Kehidupan dalam penjara, ternyata, tidak membuat ilmuwan yang gemar berpetualang ini jera terhadap pentas politik. Selepas keluar dari penjara, pada 759 H/1358 M, karena penguasa yang memenjarakannya berpulang, ia dikembalikan oleh Al-Hasan bin ‘Umar pada jabatannya semula: sebagai sebagai Menteri Urusan Sekretariat Negara (kitâbah). Meski menduduki jabatan yang cukup bergengsi, ia tetap tidak pernah meninggalkan kegiatannya membaca buku, menelaah, menulis, dan mengajar.

Bosan dengan kehidupan di Bejayah, lima tahun kemudian Ibn Khaldun merantau ke negeri seberang: Andalusia. Tepatnya ke Granada. Di kota yang indah itu, ia menjalin persahabatan dengan penguasa kawasan itu, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Isma‘il bin Al-Ahmar, pendiri Istana Alhamra yang terkenal di kota itu hingga kini. Selain itu, ia juga menjalin persahabatan dengan seorang menteri yang sastrawan terkemuka Andalusia kala itu, Lisanuddin bin Al-Khathib.Tidak aneh, karena persahabatan itu, bila pada 765 H/1365 M penguasa Granada tersebut menunjuk Ibn Khaldun sebagai duta kepada Raja Castila, Pedro si Bengis. Untuk membahas perdamaian di antara dua kerajaan.

Tugas itu diselesaikan Ibn Khaldun dengan baik. Berkenaan dengan tugas tersebut, Ibn Khaldun menulis:

“Saya pun menghadap sang raja, si Bengis, di Sevilla. Saya kemukakan kepadanya sederet peninggalan nenek moyang saya di sana. Ia memperlakukan saya dengan penuh hormat. Ia merasa segan terhadap kedudukan saya. Ia tahu asal-usul nenek moyang saya di Sevilla. Dokter pribadinya, Ibrahim bin Zurzur, seorang Yahudi, memuji saya ketika saya menemuinya…Sang raja, si Bengis, kala itu meminta saya supaya tinggal bersamanya. Dengan janji akan mengembalikan harta peninggalan leluhur saya di Sevilla yang ketika itu berada dalam kekuasaan penguasa negeri tersebut. Saya menolak tawaran itu!”

Merindukan Ketenangan dan Kedamaian
Setiba kembali di Granada, Ibn Khaldun tidak bertahan lama di kota yang cantik itu. Segera, akibat konflik dan intrik politik yang membara kala itu, hubungannya dengan Lisanuddin Al-Khathib merenggang. Malah, kemudian juga hubungannya dengan penguasa Granada kala itu. Pada saat yang bersamaan, ia menerima undangan dari Sultan ‘Abu ‘Abdullah, penguasa Bejayah. Karena itu, tahun berikut, ia meninggalkan Granada. Kini, ia pindah ke Bejayah.

Di Bejayah, Ibn Khaldun pun mendapat sambutan yang hangat dari penguasa setempat. Malah, selain mengajar di Masjid Al-Qashbah, ia diangkat untuk menduduki jabatan hijâbah. Namun, di Bejayah pun ia segera terlibat dalam konflik dan intrik politik. Segera, ia meninggalkan Bejayah dan mengungsi ke Biskra.

Di Biskra, Ibn Khaldun dan keluarganya tinggal selama sekitar enam tahun. Selama itu, ia kerap berhubungan dengan orang-orang Badui. Lewat hubungan tersebut, ia akhirnya menjadi seorang pakar tentang watak dan perilaku orang-orang yang hidup nomaden itu. Pengetahuannya tersebut, ternyata, sangat bermanfaat baginya ketika ia menyusun teorinya tentang ‘ashabiyah yang kadang diterjemahkan dengan esprit de corps alias semangat kelompok. Malah, karena pengetahuannya tersebut, ia diminta oleh beberapa penguasa untuk mengarahkan dan mengendalikan kaum nomaden tersebut. Namun, kemudian, pengetahuan dan pengaruhnya atas mereka justru membuat khawatir penguasa Bejayah kala itu. Karena itu, sang penguasa pun berusaha menyingkirkan Ibn Khaldun.

Menyadari gelagat kurang menguntungkan tersebut, Ibn Khaldun dan keluarganya kemudian berusaha pergi ke Tilimsan. Di tengah perjalanan, Ibn Khaldun menerima kabar tentang terjadinya peralihan kekuasaan di Tilimsan dan penguasa baru Tilimsan memindahkan ibu kota pemerintahan ke Fez, Maghrib. Segera, ia dan rombongannya menuju Fez. Namun, ia tidak lama berada di Fez. Granada menjadi kota berikut yang kunjungi. Untuk kedua kalinya. Semula, ia mendapatkan sambutan yang hangat dari penguasa Granada. Namun, atas permintaan penguasa Maghrib, penguasa Granada kemudian memulangkan Ibn Khaldun ke Maghrib: ke kota Tilimsan.

Tidak lama selepas tiba Tilimsan, Ibn Khaldun segera menyadari: kini usianya sudah tidak muda lagi. Kini, usianya telah memasuki lima digit. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, kini ia muak dengan pentas politik. Yang sarat dengan intrik, konflik, dan konspirasi. Kini, ia merindukan kehidupan yang diwarnai dengan ketenangan dan kedamaian: kehidupan yang sarat dengan kontemplasi, pemikiran, dan kreasi.

Akhirnya, Ibn Khaldun memilih jalan hidup yang jauh dari hiruk pikuk pentas politik. Kini, ia hidup menyendiri. Ya, hidup menyendiri. Untuk menyusun karya-karya tulisnya. Karya-karya tulis yang kelak membuat namanya “abadi”. Hidup menyendiri di Benteng Bani Salamah (kini masuk wilayah Aljazair). Tulis Ibn Khaldun tentang jejak langkahnya tersebut:

“Dengan selamat, saya bertemu dengan putera-putera Bani ‘Arif. Mereka menyilakan saya dan keluarga saya untuk tinggal di Benteng Bani Salamah, di negeri Bani Tujin. Di sana, saya tinggal selama empat tahun. Bebas dari hiruk pikuk pentas politik. Saya pun mulai menyusun karya ini. Selama saya tinggal di sana. Dalam mukaddimahnya saya uraikan, dengan cara yang menawan, apa yang saya dapatkan selama dalam pengasingan tersebut. Rasanya, menuliskannya begitu mudah. Pikiran saya begitu bening. Sehingga, substansinya pun matang dan kesimpulannya terikhtisarkan.”

Usai mengasingkan diri selama sekitar empat tahun, hingga 780 H/1378 M, Ibn Khaldun kemudian melanjutkan kelananya. Kini, ia menapakkan kakinya ke Tunis, kota kelahirannya. Kedatangannya ke kota kelahirannya kali ini untuk menelaah karya-karya yang ia perlukan. Di samping itu, juga untuk melepaskan rindu pada kampung halamannya. Juga, untuk menyimak pentas politik di kota itu. Di Kota Tunis itulah ia merampungkannya karyanya dengan judul Al-‘Ibar dengan mukaddimahnya yang terkenal. Karya itu kemudian ia hadiahkan kepada penguasa kota itu. Karena itu, naskah karya tersebut terkenal dengan sebutan “Naskah Tunis”.

Lantas, pada 784 H/1382 M, Ibn Khaldun memohon izin kepada penguasa Tunis untuk menunaikan ibadah haji. Selepas permohonannya mendapat perkenan, ia pun bertolak menuju Mesir. Dengan aik kapal, lewat Alexandria. Ternyata, sejak itu ia membelot. Ia tidak mau kembali lagi ke negeri asalnya. Padahal, di negeri asalnya, ia dan nenek moyangnya pernah memainkan peran politik yang penting.

Setiba di Alexandria, sebuah kota indah di tepi Laut Mediterania dan sekitar 200 kilo meter di sebelah utara Kairo, Ibn Khaldun tidak langsung menuju ke Tanah Suci. Tetapi, meski kemudian ia jadi melaksanakan ibadah tersebut, ia membelokkan perjalanannya menuju ke “Kota Seribu Menara”, alias Kairo. Kota yang terletak di tepi Sungai Nil itu, kala itu, menjadi ibukota Dinasti Mamluk, di bawah pimpinan Sultan Zhahiruddin Barquq Al-Bunduqdari. Karena merasa nyaman tinggal di Kairo, dan enggan kembali ke tempat asalnya, ia pun menetap di “Kota Seribu Menara” itu.

Mengenai “suasana” kota yang didirikan oleh Mu‘iz li Dinillah pada 361 H/972 M ini, Ibn Khaldun menulis sebagai berikut:

“Kini, saya pun melihat kota dunia, taman dunia, tempat pertemuan bangsa-bangsa, tempat titian manusia, pusat Islam, dan tempat tahta raja. Udaranya sarat dengan sederet istana. Di sana-sini banyak terdapat khanqah dan perguruan. Gemerlap para ilmuwannya bagaikan bintang dan rembulan. Sedangkan Sungai Nilnya bagaikan sungai surga dan curahan air langit yang mengairi padang-padang kerontang.”

Belum lama berada di Kairo, Ibn Khaldun kemudian diangkat sebagai guru besar Perguruan Al-Qamhiyah. Selain itu, ia kemudian diangkat sebagai hakim agung Mazhab Maliki. Namun, “karena kerap menolak surat para pembesar negara dan katabelece para tokoh”, akhirnya ia digeser dari jabatan hakim agung pada 7 Jumada Al-Ula 787 H/16 Juni 1385 M: sekitar setahun selepas menduduki jabatan tersebut.

Undangan dari Timur Lenk
Kini, apa yang dilakukan oleh Ibn Khaldun selepas dipecat sebagai hakim agung?

“Sekali lagi Ibn Khaldun mengisi kehidupannya dengan mengajar. Juga, menyusun karya-karyanya. Kala itu, sang sultan mengangkat ia sebagai guru besar fikih Mazhab Maliki di Perguruan Al-Zhahiriyah Al-Barquqiyah yang mulai diresmikan pada 788 H/1386 M. Kemudian, pada Muharram 791 H/1389 M, ia diangkat sebagai guru besar hadis di Perguruan Sharghatmusy. Selepas Sultan Al-Zhahir Al-Barquq berpulang, sekali Ibn Khaldun diangkat sebagai hakim agung Mazhab Maliki oleh putera Sultan Al-Zhahir, Sultan Al-Nashir. Pada pertengahan 803 H ia digeser kembali dari jabatan itu dan kembali lagi mengisi kegiatannya dengan mengajar dan menulis karya-karyanya.” Demikian papar Zainab Al-Khudhairi dalam sebuah karyanya berjudul Falsafah Al-Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn.

Pada saat itu sendiri, Timur Lenk dengan pasukannya sedang menghajar Syam dan di tengah perjalanan menuju Damaskus. Namun, kemudian tercapai perdamaian dengan penguasa Dinasti Mamluk kala itu, Sultan Al-Nashir. Kala itu sendiri, Ibn Khaldun, yang berusia sekitar 70 tahun, sedang berada di Damaskus. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada: di hadapannya kini tegak seorang penakluk yang terkenal ambisius dan brutal.

Ternyata, kesempatan itu terbuka luas bagi Ibn Khaldun. Keinginannya untuk bertemu dengan Timur Lenk terpenuhi. Penakluk berdarah Mongol ini bersedia menerima Ibn Khaldun dengan baik ketika sang sejarawan kondang itu datang menemuinya. Ia tinggal di sebuah kemah, tidak jauh dari kemah sang penguasa, selama 35 hari. Selama itu, ia melakukan banyak pertemuan dan perbincangan dengan Timur Lenk. Dibantu oleh seorang penerjemah, ‘Abdul Jabbar Al-Khwarizmi (meninggal dunia pada 1403 M).

Perbincangan di antara penguasa yang gemar berperang dan sejarawan kondang itu berkisar, antara lain, tentang sejarah wilayah Maghrib, para pahlawan dalam sejarah, prediksi atas sesuatu yang akan terjadi, Dinasti ‘Abbasiyah, amnesti dan jaminan keamanan bagi Ibn Khaldun dan temannya, dan maksud Ibn Khaldun tinggal bersama Timur Lenk. Selain itu, tokoh yang satu ini juga diminta menulis sebuah catatan dan ulasan tentang Afrika Utara.

Berkenaan dengan pertemuan antara sang penakluk dan sang sejarawan tersebut, Frances Carney Gies, dalam tulisannya berjudul “The Man Who Met Tamerlane”, menulis:

“Ketika Ibn Khaldun memutuskan untuk mengunjungi kamp pasukan Mongol, para pemimpin Damaskus sedang berkumpul di Masjid Umawi. Mereka sedang membahas, secara sengit, apakah mereka memercayai janji Timur Lenk atau tidak. Motifnya, sebagian adalah untuk mengamankan dirinya sendiri dan rekan-rekannya, tetapi juga karena faktor ilmiah. Ibn Khaldun sendiri ingin mengamati dan mewawancarai Timur Lenk sebagai bagian dari penelitiannya tentang sebuah proyek yang melibatkan dirinya selama beberapa waktu sebelumnya: sejarah bangsa Tartar dan Mongol. Karena gerbang (Kota Damaskus), tentu saja, dikunci terhadap pasukan penjajah, para penjaga menolak membiarkan ia lewat. Kepergian Ibn Khaldun itu, di sisi lain, dipandang tidak bermartabat oleh seorang sejarawan terkemuka.

Seperti halnya Santo Paulus tiga belas abad sebelumnya, Ibn Khaldun diturunkan dari tembok (dengan dimasukkan) dalam keranjang. Namun, ia berhasil meraih tujuannya: berhasil bertemu dengan Timur Lenk. ‘Di dekat gerbang, saya dijemput oleh beberapa pendamping Timur Lenk,’ tutur Ibn Khaldun kemudian dalam otobiografinya. ‘Juga, wakil yang ia tunjuk untuk memerintah Damaskus. Namanya Syah Malik … Saya pun berkata kepada mereka, ‘Semoga Allah memanjangkan umur kalian.’ Jawab mereka kepada saya, ‘Semoga Allah memanjangkan hidup saya.’ Lalu, ucap saya berkata, ‘Kiranya saya menjadi tebusan kalian.’ Jawab mereka kepada saya, ‘Semoga kami menjadi tebusan Anda.’

Syah Malik kemudian menyilakan Ibn Khaldun untuk naik seekor kuda. Dan, kemudian, Syah Malik mengarahkan salah seorang anak buahnya untuk membawa cendekiawan itu menuju tenda Timur Lenk.”

Berkaitan dengan pertemuan antara Ibn Khaldun dan Timur Lenk tersebut, Frances Carney Gies, dalam tulisannya yang sama, lebih jauh mengemukakan:

“Selepas menunggu beberapa lama di tenda sebelah, sang sejarawan kemudian dipanggil ke hadapan Timur Lenk. ‘Ketika saya memasuki tenda pertemuan, ia sedang berbaring. Bersanggakan sikunya. Sementara piring-piring makanan yang melewatinya ia berikan satu demi satu ke kelompok-kelompok orang Mongol. Yang duduk melingkar di depan tendanya,’ tutur Ibn Khaldun. ‘Setelah masuk (ke dalam tenda), saya berbicara lebih dulu, mengucapkan salam dengan sikap merendah, ‘Assalamu’alaikum.’

Setelah itu, ia mengangkat kepalanya dan mengulurkan tangannya. Tangannya pun saya cium. Ia memberi isyarat supaya saya duduk. Saya pun memenuhi perintahnya: duduk di tempat saya berada. Ia lantas memanggil seorang pendampingnya, seorang ahli hukum terdidik. Untuk menjadi penerjemah di antara kami.’

Timur Lenk, berusia ‘antara 60 dan 70 tahun’, lumpuh karena luka panah di paha kanan yang ia alami dalam sebuah serangan. Sehingga, dalam bahasa Persia, ia diberi sebutan Timurlang (Timur yang Lumpuh), atau Timur Lenk. Menurut Ibn Khaldun, Timur Lenk ‘sangat cerdas dan cerdik, kuat dalam berdebat dan berargumentasi tentang segala sesuatu yang ia ketahui dan tidak dia ketahui’. (Sedangkan penulis biografi Timur Lenk, yang juga merekam wawancara tersebut, mengemukakan bahwa Timur Lenk sangat terkesan dengan wajah terhormat dan penampilan tampan’ sang sejarawan.”)

Timur Lenk membuka perbincangan dengan bertanya kepada Ibn Khaldun: dari mana asalnya dan mengapa. Selepas itu, dua tokoh itu terlibat dalam diskusi lama yang mencakup banyak topik. Timur Lenk tertarik dengan kawasan Maghrib (Afrika Utara), tempat asal Ibn Khaldun. Saat itu sendiri, sang sejarawan sengaja mengenakan kostum tanah air yang telah ia tinggalkan 18 tahun sebelumnya. Penguasa dan jenderal Mongol itu meminta Ibn Khaldun untuk menuliskan baginya paparan tentang seluruh negeri Maghrib. Perintah sang jenderal, ‘Termasuk gunung-gunung, sungai-sungai, desa-desa, dan kota-kotanya sedemikian rupa hingga aku benar-benar untuk meliha semuanya.’ Ibn Khaldun berjanji untuk membuatkannya.

Para pelayan kemudian muncul dengan membawa sup makaroni, yang disebut rishtah. Sedangkan sang tamu terhormat membersihkan piring-piring untuk menyenangkan tuan rumah. Ibn Khaldun menjelaskan bahwa ia telah ingin bertemu dengan Timur Lenk ‘30 atau 40 tahun sebelumnya’, karena ‘Anda adalah sultan semesta alam dan penguasa dunia. Saya tidak percaya bahwa di antara manusia, dari Adam hingga zaman ini pernah muncul penguasa seperti Anda’. Ia kemudian mengenalkan teori favoritnya: ‘ashabiyah, atau solidaritas kelompok, yang diperlukan untuk menegakkan kedaulatan. Semakin besar jumlah orang yang mendukung suatu ‘ashabiyah, semakin besar kekuatan kedaulatan. ‘Paduka tentu tahu, bagaimana kekuatan orang-orang Arab tumbuh ketika mereka bersatu dalam agama mereka. Dengan mengikuti Nabi mereka. Sedangkan orang-orang Turki … dalam solidaritas kelompok mereka, tidak ada raja manapun di bumi yang dapat menandingi mereka. Tidak para Khosroe, tidak pula Caesar, Alexander, ataupun Nebukadnezar.’

Timur Lenk meluruskan bahwa Nebukadnezar bukan seorang raja, ‘Ia hanya salah seorang jenderal Persia. Sama seperti aku. Aku hanyalah wakil dari pemegang atas takhta.’ Timur Lenk menikahi janda khan lama. Dan raja saat itu-anak tirinya-bersamanya dalam ekspedisi.”

Demikian Inilah Dunia Berjalan
Selepas pertemuan dengan Timur Lenk tersebut, Ibn Khaldun kemudian kembali ke Mesir. Di Negeri Piramid itu, ia diterima dengan baik di istana. Selama empat kali ia diangkat menjadi qâdhî dan kemudian berhenti. Terakhir, ia diangkat menjabat lagi untuk keenam kalinya, pada bulan Sya’ban 808 H/Januari-Februari 1406 M, beberapa minggu sebelum berpulang pada Selasa, 25 Ramadhan 808 H/16 Maret 1406 M.

Jenazah Ibn Khaldun dikebumikan di pemakaman para sufi di luar Bab Al-Nashr, Kairo. Zirar, dalam sebuah tulisannya berjudul “Cairo: City of a Thousand Minarets” (www.sacredfootsteps.or/), ketika berziarah ke pemakaman Ibn Khaldun, menuturkan:

“Di tembok Al-Azhar itulah Ibn Khaldun mengajar dan di Kairo kini ia beristirahat. Lokasi pasti makamnya tidak diketahui. Beberapa orang mengatakan, makam itu dihancurkan untuk memberi ruang bagi jalan pada tahun-tahun 1950-an. Namun, informasi paling akurat yang tersedia menunjukkan, ia beristirahat tepat di luar gerbang kota Bab Al-Nasr. Saya memulai perjalanan saya di London dua hari sebelumnya. Dengan harapan, saya akan bertemu Ibn Khaldun dan membacakan doa untuknya, juga untuk diri saya sendiri, sebagai hadiah, sekalipun dalam bentuk tulang belulang, untuk seorang Muslim dari suatu masa dan kawasan yang menunjukkan kekuatan Islam yang sejati.

Delapan tahun sebelumnya, saya mengunjungi Kota Sevilla di Andalusia (kini Spanyol), tempat Ibn Khaldun menghabiskan sebagian besar hidupnya: tempat ia tinggal dan berkhidmat di lingkungan istana para penguasa Andalusia. Di situlah ia menulis beberapa karya paling penting. Tidak hanya bagi hidupnya. Tetapi, juga untuk seluruh Dunia Islam. Ibn Khaldun, dalam kalangan para tokoh terkemuka, diakui secara universal (meski banyak upaya untuk mengesampingkannya dengan mengedepankan para pemikir Eropa) sebagai seorang sejarawan dan ekonom sejati pertama (di antara banyak judul lainnya). Sumbangsihnya yang paling kondang dikenal sebagai Al-Muqaddimah (yang ia tulis hanya dalam waktu lima bulan).

Awal tahun ini saya berada di Kota Tunis. Yang mengejutkan saya, dengan takdir Allah, saya menginap di sebuah rumah yang berada di antara tempat kelahiran Ibn Khaldun dan madrasah tempat ia memulai kehidupan akademik dan keagamaannya. Kehidupan Ibn Khaldun adalah ciri khas seorang Muslim yang luar biasa pada abad ke-13: pergi (menuntut ilmu) ke tempat cahaya berpendar paling cemerlang, mengajar kepada mereka yang paling memburu (ilmu), membagikan pengetahuan kepada mereka yang paling lapar. Ketika Sevilla, salah satu negeri terakhir yang tersisa di tangan Muslim (Andalusia), jatuh ke tangan orang-orang Kristen, ia pergi ke Maroko dan kembali ke Tunis, sebelum pergi lagi ke Kairo, tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya.”

Lebih jauh Zirar, dalam sebuah tulisannya yang sama, mengemukakan:

“Saya menemukan (makam) Ibn Khaldun di luar tembok Kairo tua. Tidak ada spidol atau penanda. Tidak ada batu atau mausoleum marmer. Tidak ada. Omar (tour guide) dan aku berjalan di jalan tanah melewati orang-orang yang, sedang duduk di luar rumah mereka, tertawa dan berbincang, merokok dan minum teh. Mereka tidak menyadari, atau mungkin sepenuhnya sadar tetapi tidak terhibur, seribu kuburan atau lebih orang-orang ini (seperti halnya banyak orang-orang yang paling miskin di Kairo) hidup di antara salah satu dari banyak kota orang mati yang mengelilingi Kairo. Suatu ketika Omar berkomentar tentang orang Mesir dan obsesinya terhadap orang mati: di sini, di antara orang-orang yang mati itulah orang-orang yang masih hidup menemukan perlindungan dan membangun kehidupan mereka. Saya merenungkan hal ini dengan cepat. Saya setuju, dapat dikatakan bahwa orang-orang Mesir akrab dan dekat dengan orang-orang yang sudah lama pergi (meninggal dunia).”

Sejarawan yang pernah menikah dengan puteri seorang jenderal dari Dinasti Hafshiyah ini berpulang dengan meninggalkan sejumlah karya. Antara lain Kitâb Al-‘Ibar wa Dîwân Al-Mubtadâ’ wa Al-Khabar, Al-Muqaddimah, dan Al-Ta‘rîf bi Ibn Khaldûn wa Rihlatuh Gharban wa Syarqan.

Zainab Al-Khudhairi, dalam memberikan catatan terhadap karya-karya tulis dan teori yang yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun, dalam sebuah karya tulisnya berjudul Falsafah Al-Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn, mengemukakan:

“Teori Ibn Khaldun tentang perkembangan negara bercorak pesimistis. Perhatiannya lebih terarah pada keruntuhan, penyebab keruntuhan itu, dan bagaimana proses terjadinya keruntuhan itu. Sehingga, seakan ia mengkaji berbagai perkembangan negara untuk menjelaskan bagaimana terjadinya keruntuhan tersebut. Bilamana dalam uraian tentang tahap perkembangan negara, yaitu tentang tahap keruntuhan, penulis uraikan secara terinci, hal itu penulis lakukan karena tahap itu merupakan tahap paling penting dari teori Ibn Khaldun. Sedangkan mengapa teori Ibn Khaldun ini bercorak pesimistis, menurut penulis, hal itu karena berbagai kondisi masa dan kehidupannyalah yang bertanggung jawab atas hal itu.

Ibn Khaldun adalah seorang politisi yang sangat memahami dunia politik di Dunia Islam pada abad ke-14. Dengan melihat terjadinya keruntuhan dan kelemahan yang menimpa Dunia Islam pada umumnya, kala itu, juga selepas mengamati sendiri kemunduran peradaban Arab-Islam di Andalusia di bawah tekanan pasukan Spanyol, tidak mengherankan bila ia berpendapat bahwa segala sesuatu akan runtuh. Jelas, ia merasa sedih sekali melihat terjadinya keadaan yang demikian. Dan, wajar ketika ia sedang menyusun Al-Muqaddimah, seperti dikemukakan oleh Thaha Husain dalam sebuah karyanya berjudul La philosophie sociale d’Ibn Khaldoun, ia berucap pada dirinya sendiri, ‘Hukum-hukum sejarah yang saya kemukakan ini memang menimbulkan perasaan sedih. Namun, demikianlah dunia ini berjalan!’”

Sementara berkenaan dengan posisi Ibn Khaldun sebagai pengasas ilmu sejarah dan filsafat sejarah, Robert Flint dalam sebuah karyanya, berjudul History of the Philosophy of History, mengemukakan:

“Setiap orang yang membaca Al-Muqaddimah dengan secara tulus dan jujur tidak boleh tidak akan mengakui bahwa merupakan hak Ibn Khaldun untuk menerima kehormatan ini. Yaitu kehormatan nama sebagai pengasas ilmu sejarah dan filsafat sejarah. Haknya ini lebih kukuh dan kuat ketimbang hak penulis lainnya sebelum Vico!”

Ya, sebagai seorang pengasas dan filosuf sejarah, Ibn Khaldun memang luar biasa. Dan, teorinya tentang perkembangan “pergolakan zaman” tetap relevan dan menawan untuk dikaji. Hingga dewasa ini.

Tidak inginkah Anda mendalami ilmu dan filsafat maestro di bidang sejarah ini? Semoga [email protected]

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close