Hutan Harapan yang Terbakar Sebagian Besar di Area Konflik

Hutan Harapan yang Terbakar Sebagian Besar di Area Konflik

JAMBI, SENAYANPOST.com – Dari peta satelit dan pantauan langsung, sebagian besar wilayah Hutan Harapan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan (Sumsel) yang terbakar berada di area konflik.

“Semua hotspot berada di area konflik, yakni di area perambahan masyarakat yang belum bermitra dengan Hutan Harapan. Untuk area masyarakat yang sudah bermitra relatif tidak ada kebakaran,” kata Head of Strategic Partnership and Land Stabilization Division PT Restorasi Ekositem Indonesia (Reki), Adam Aziz, di Jambi, Selasa (21/8/2018).

Ia menjelaskan, sejak Januari 2018, terpantau sebanyak 33 hotspot dalam kawasan Hutan Harapan dan luas area yang terbakar mencapai 83 hektar. Kebakaran terluas di kawasan restorasi ekosistem yang dikelola oleh PT Reki itu terjadi pada Agustus, yakni seluas 63 hektar di 11 hotspot.

“Hotspot diketahui dari peta satelit, laporan Satgas Karhutla, laporan masyarakat serta patroli dan pantauan langsung tim damkar Hutan Harapan,” ujarnya.

Kebakaran seluas 63 hektar pada Agustus terjadi sebagian besar di Pangkalan Ranjau, Hulu Badak dan Tanjung Mandiri dan sekitarnya. Terbanyak di Pangkalan Ranjau, wilayah klaim kelompok Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Kelompok Jufri dampingan AGRA.

Baca Juga

Terdapat 22 kelompok masyarakat yang mengklaim lahan di Hutan Harapan, yakni 15 kelompok di wilayah Jambi dan 6 kelompok di wilayah Sumsel.

Namun, jika mengacu kepada Permen LHK No 83 Tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial dan Permen LHK No 84 Tahun 2015 tentang Penanganan Konflik Tenurial, penyelesaian konflik lahan di areal konsesi perusahaan harus dilakukan melalui kemitraan kehutanan.

Saat ini, sebanyak delapan kelompok sudah menandatangani kesepakatan kemitraan dengan PT Reki, sisanya dalam proses resolusi konflik melalui mediasi dan negosiasi.

Kelompok Jufri dan SPI belum menyepakati kemitraan atau masih dalam proses mediasi. Kelompok Jufri, berjumlah 311 KK yang mengklaim area seluas 1.150 hektare, sedangkan kelompok SPI Wilayah Jambi dengan anggota 518 KK mengklaim seluas 1.917 hektare.

“Kelompok masyarakat tertentu berupaya menghalangi akses staf PT Reki untuk patroli pengamanan kawasan dan pencegahan serta pemadaman kebakaran hutan di Pangkalan Ranjau dan sekitarnya. Mereka merusak dan membakar jembatan yang dibuat dan menghadang perbaikan jalan oleh tim PT Reki. Mereka juga menutup akses dengan membangun gerbang/portal,” katanya.

Adam meminta masyarakat dan semua pihak mengawasi para penggarap hutan agar tidak melakukan pembakaran lahan. Apalagi pencegahan kebakaran telah menjadi kesepakatan awal masyarakat di hadapan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Selain itu, ia juga meminta dukungan pemerintah melakukan penegakan hukum terhadap para perusak dan pembakar Hutan Harapan. Dalam melakukan pemadaman, manajemen Hutan Harapan berkoordinasi dengan Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Sumsel, kabupaten dan memberikan laporan ke KLHK. (MU)