Hukum

Henry Yosodiningrat: Penyelidikan Perkara Lakalantas Tak Perlu Dilanjutkan

BANDARLAMPUNG, SENAYANPOST.com – Kasus kecelakaan lalu lintas di Jalan Soekarno Hatta Bypass, tepatnya di depan Polsek Kedaton, Bandarlampung, Lampung, pada Jumat (30/3/2018) lalu, penyelidikannya dinilai Anggota DPR RI, Henry Yosodiningrat, tidak perlu dilanjutkan.

“Tidak ada kewajiban penyidik untuk terus melimpahkan perkara itu ke penuntut umum untuk dilakukan penuntutan. Karena menurut pendapat saya, dalam kasus seperti itu bisa diterapkan restorative justice,” ujar politisi PDI Perjuangan asal Lampung ini, Minggu (1/4/2018).

Menurut Henry, lakalantas merupakan tindak pidana dolus culpa dan atau delik yang tidak mengandung unsur niat atau kesengajaan (willen). Pada umumnya, penyidik menggunakan ketentuan pasal 359 KUHP untuk menjerat tersangka, yang karena lalainya menghilangkan nyawa orang lain.

“Kalau tidak berakibat matinya korban maka (penyidik) pada umumnya menggunakan pasal karena lalainya mengakibatkan luka berat seperti mengalami cacat,” katanya.

Henry beranggapan, kasus lakalantas yang menewaskan satu orang ini tidak perlu digulirkan ke pengadilan. Sebab, kedua belah pihak antara korban dengan pelaku sudah saling berdamai, terkecuali terdapat dugaan tindak pidana lain yang berhubungan dengan kecelakaan seperti pelaku menggunakan narkoba.

Dia menjelaskan, konsep penegakan hukum dengan pendekatan restorative justice merupakan pendekatan dengan menitikberatkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana serta korbannya sendiri.

“Pepatah latin Fiat Justisia ruat Coelum yang memiliki artian, ‘meskipun langit runtuh keadilan harus ditegakkan’. Di situ disebutkan, keadilan yang harus ditegakkan, bukan hukum yang ditegakkan,” tukasnya.

Henry juga mencontohkan kasus pencurian sandal di masjid atau seorang mencuri buah nangka milik tetangga, di mana secara hukum perbuatan itu adalah tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam ketentuan pasal 362 KUHP. Tetapi kemudian si pemilik sudah mengikhlaskan sandal atau nangkanya untuk diambil sehingga keduanya berdamai.

“Meskipun perbuatan itu dalam ilmu hukum merupakan kejahatan atau tindak pidana, akan tetapi dari segi keadilan karena berbagai pertimbangan lantas keduanya berdamai, maka demi keadilan, penyidik tidak seharusnya melanjutkan perkara itu,” tandasnya.

Sebelumnya, Wakasatlantas, AKP Ridho Rifika, memastikan kasus kecelakaan yang melibatkan Daihatsu Taruna BE 1061 AF dan Mitsubishi L300 berplat B 9926 BAP terus berproses meski tercapai perdamaian antara kedua pihak.

“Tuntutan pidana terhadap ketiganya tetap dilakukan, tidak hilang begitu saja,” ujarnya.

Dua penumpang mobil Taruna yang dirawat di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Yakni GG (17) dan NN (17), sedangkan BH (17) yang mengemudikan mobil Taruna tidak mengalami luka berat sehingga tidak menjalani perawatan. Ketiganya merupakan warga Simbarangin Sido Sari, Natar, Lampung Selatan.

Ridho menjelaskan, karena ketiganya masih dibawah umur maka penanganan mereka berbeda dengan penanganan orang dewasa. Dalam proses penyelidikan ketiganya akan didampingi pihak keluarga. (AF)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close