Nasional

Hendropriyono Luncurkan Draft Buku Filsafat Intelijen Negara

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Tokoh intelijen Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono meluncurkan draft buku karangannya berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia. Karya pakar intelijen bergelar profesor ini akan menjadi paradigma baru di dunia intelijen.

Guru besar di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di bidang filsafat ini mengatakan, dan buku ini merupakan hasil karyanya untuk kepentingan komunitas intelijen.

Buku ini diharapkan berguna untuk ilmu intelijen di Indonesia agar dapat bekerja secara legal dan tidak sembunyi-sembunyi. Menurutnya, intelijen suatu negara bagaikan panca indra manusia. Tanpanya, pasti seseorang akan kesulitan untuk bergerak.

Karena itulah, intelijen yang merupakan panca indera ini juga harus dilindungi dengan paradigma ilmu yang tepat.

“Buku ini merupakan disiplin ilmu baru filsafat intelijen untuk memudahkan intelijen bekerja dengan legalitas penuh. Jadi tidak umpet-umpetan, tidak hit and run, tapi memang legal karena bahwa dia melakukan tindakan atau kegiatan intelijen itu mempunyai payung paradigmatik yang jelas,” katanya di gedung pertemuan Soekarno-Hatta BIN, Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

“Sehingga dengan demikian kita bisa dengan lebih mudah meramalkan keadaan-keadaan yang akan terjadi. Karena prinsipnya intelijen itu berbuat sebelum terjadinya sesuatu, sedangkan hukum itu bekerja setelah sesudah terjadinya sesuatu,” imbuhnya.

Kepala BIN 2001-2004 ini menjelaskan, untuk sementara draft buku ini akan dibagikan di kalangan internal BIN. Dia berharap para pakar dan guru besar bisa ikut mengoreksi, ikut memperbaiki jika ada kekurangan.

“Makanya sengaja saya bagikan buku beserta bolpoin merah. Nanti, bapak-bapak bisa mengoreksi. Dalam waktu seminggu serahkan kembali ke saya. Nah, jika ada kesalahan bukan tanggung jawab saya sendiri,” selorohnya.

Dia berharap, saat Pilpres 2019 sudah berakhir buku ini bisa segera dirampungkan, agar dapat dibaca oleh masyarakat luas.

Sementara itu, Hendropriyono juga menjelaskan soal sampul buku yang berwarna putih, abu-abu, dan hitam ini dijelaskannya juga memiliki arti tersendiri yang melambangkan badan intelijen negara.

Warna putih dikatakannya melambangkan metode terbuka intelijen yang dilakukan para diplomat atau duta besar. Sesangkan warna abu-abu adalah metode setengah terbuka setengah tertutup.

“Yang hitam adalah intelijen tertutup sama sekali, yang tidak boleh tahu orang siapa kita. Kalau orang tahu siapa kita, anggota BIN. Tapi isi kepala kita orang tidak tahu. Apa yang mau kita kerjakan orang tidak tahu,” kata profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen pertama di dunia ini.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close