Hayabusa-2 Sukses Bawa Pulang Sampel Asteroid

Hayabusa-2 Sukses Bawa Pulang Sampel Asteroid
Hayabusa-2 JAXA/@haya2e_jaxa

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Wahana antariksa miliki Jepang, Hayabusa-2, akhirnya pulang dan membawa sampel asteroid Ryugu. Hayabusa-2 memasuki atmosfer Bumi kemarin Ahad (6/12) dan sukses mendarat di pedalaman Australia.

Dengan demikian, Hayabusa-2 berhasil menyelesaikan misi untuk membawa pulang petunjuk penting yang kemungkinan besar dapat mengungkap asal mula tata surya dan kehidupan di Bumi.

Dilansir AP News, Senin (7/12), wahana antariksa Hayabusa-2 mengirim kapsul kecil berisi sampel asteroid pada hari Sabtu (5/12) dan mengirimkannya ke Bumi. Saat Hayabusa-2 berada 10 kilometer di atas tanah, parasut mulai dibuka untuk memperlambat jatuhnya kapsul berbentuk panci yang hanya berdiameter sekitar 40 sentimeter itu.

Selain itu, sinyal suar dikirim untuk menunjukkan lokasinya, yakni di daerah jarang penduduk di Woomera, Australia selatan. Sekitar dua jam kemudian, Badan Pejelajah Antariksa Jepang (JAXA) mengatakan kapsul itu berada di area pendaratan yang sudah direncanakan.

"Pengambilan kapsul di tempat pendaratan telah selesai," kata badan itu dalam tweetnya. "Kami banyak berlatih untuk hari ini dan semua berakhir dengan aman."

Kembalinya kapsul dengan sampel asteroid pertama di dunia terjadi beberapa minggu setelah pesawat luar angkasa OSIRIS-REx NASA berhasil mengambil sampel asteroid Bennu.

China, sementara itu, belum lama ini mengumumkan berhasil mendarat di bulan untuk mengumpulkan sampel bawah tanah dan menyegelnya di dalam pesawat ruang angkasa untuk kembali ke Bumi.

Thomas Zurbuchen, astrofisikawan Swiss-Amerika dan administrator terkait Direktorat Misi Sains NASA, mengucapkan selamat kepada badan antariksa Jepang dan banyak individu di Jepang yang memungkinkan hal ini terjadi.

"Kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang asal-usul tata surya, sumber air dan molekul organik yang mungkin menjadi benih kehidupan di Bumi," tulis Zurbuchen di Twitter.

Hayabusa-2 meninggalkan asteroid Ryugu yang terletak sekitar 300 juta kilometer dari Bumi setahun yang lalu. Setelah melepaskan kapsul, ia menjauh dari Bumi untuk menangkap gambar kapsul yang turun menuju Bumi sebelum melakukan ekspedisi baru ke asteroid jauh lainnya.

Kapsul tersebut diturunkan dari jarak 220.000 kilometer setelah dipisahkan dari Hayabusa-2 dalam operasi yang menantang yang membutuhkan kontrol presisi. Pejabat JAXA berharap dapay melakukan pemeriksaan keamanan awal di laboratorium Australia dan membawa kapsul itu kembali ke Jepang awal minggu depan.

Data berharga Puluhan staf JAXA telah berada di Woomera untuk mempersiapkan kepulangan sampel asteroid Ryugu. Mereka memasang antena parabola di beberapa lokasi area target di dalam lapangan uji Angkatan Udara Australia untuk menerima sinyal.

Pakar batuan luar angkasa Universitas Nasional Australia Trevor Ireland, yang berada di Woomera untuk menyambut kedatangan kapsul tersebut, mengatakan ia memperkirakan sampel Ryugu serupa dengan meteorit yang jatuh di Australia dekat Murchison di negara bagian Victoria lebih dari 50 tahun lalu.

"Meteorit Murchison membuka jendela tentang asal usul bahan organik di Bumi karena bebatuan ini ditemukan mengandung asam amino sederhana serta air yang melimpah," kata Ireland. "Kami akan memeriksa apakah Ryugu merupakan sumber potensial bahan organik dan air di Bumi saat tata surya terbentuk, dan apakah material ini masih utuh di asteroid."

Para ilmuwan percaya bahwa sampel tersebut, terutama yang diambil dari bawah permukaan asteroid Ryugu, berisi data berharga yang tidak terpengaruh oleh radiasi ruang angkasa dan faktor lingkungan lainnya. Mereka sangat tertarik untuk menganalisis bahan organik dalam sampel tersebut.

JAXA berharap dapat menemukan petunjuk tentang bagaimana materi didistribusikan di tata surya dan terkait dengan kehidupan di Bumi. Makoto Yoshikawa, manajer misi proyek Hayabusa2, mengatakan 0,1 gram debu akan cukup untuk melakukan semua penelitian yang direncanakan.

Bagi Hayabusa-2, ini bukanlah akhir dari misi yang dimulai pada tahun 2014. Pasalnya, saat ini Hayabusa-2 sedang menuju asteroid kecil bernama 1998KY26 dalam perjalanan yang dijadwalkan memakan waktu 10 tahun, untuk penelitian yang memungkinkan termasuk menemukan cara untuk mencegah meteorit menghantam Bumi.