Sepenggal Kisah dari Dunia Pesantren

Hati-Hati dengan Doa Mustajab Kiai Sepuh

Hati-Hati dengan Doa Mustajab Kiai Sepuh
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh Ahmad Rofi’ Usmani

“YAI. Bila berkenan, mohon kapan-kapan bisa menceritakan keramat para kiai. Yang pernah panjenengan saksikan.”

“Waduh, kenapa saya dipanggil Yai? Sahabat saya ini ada-ada saja,” demikian gumam bibir saya. Ketika menerima permintaan yang demikian itu. Sekitar bulan yang lalu: September 2020. Yang lebih membikin kepala pusing: permintaannya itu, lo. Sekilas, permintaan itu kelihatannya sederhana. Tapi, sulit menjawabnya.

Eh, ketika akan menyambut Hari Santri tahun ini, besok, tiba-tiba saya teringat permintaan seorang sahabat tersebut. Sahabat saya asal Lumajang, Jawa Timur, ini adalah seorang profesor, di bidang matematika terapan, di Khalifa University, Abu Dhabi. Gelar Ph.D-nya ia raih pada 2006. Dari Universitas Twente, Enschede, Belanda.

Namun, segera permintaan itu terlupakan. Lantas, dua hari lalu, entah kenapa, tiba-tiba  permintaan itu “menyeruak” kuat dalam benak saya. Teringat permintaan tersebut, tiba-tiba saya teringat Mbah K.H. Maimoen Zoebair (alias Mbah Maimoen), seorang kiai kondang asal Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Teringat kiai kondang yang berpulang di Makkah Al-Mukarramah itu, pada musim haji tahun lalu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang”. Ke tahun 2007. Yaitu, ketika saya bertemu pertama kali dengan beliau.

Kala itu, saya sedang mendampingi 118 jamaah haji sebuah travel haji dan umrah dari Bandung. Untuk melaksanakan ibadah haji. Nah, ketika kami sedang mabît di Mina, saya lihat banyak jamaah dari berbagai maktab sedang mendatangi sebuah tenda. Di belakang tenda tempat kami mabît. Ketika saya tahu bahwa mereka ternyata berusaha sowan kepada Mbah Maimoen, saya pun segera ikut antri. Bersama mereka untuk sowan kepada beliau. Meski saya belum pernah bertemu sama sekali dengan beliau, tapi saya sedikit tahu tentang “jati diri” beliau. Dan, beliau akrab dengan keluarga kami di Cepu, Jawa Tengah.

Kemudian, ketika antrian saya sampai di hadapan kiai yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu, Mbah Maimoen pun saya peluk. Lama. Masih dalam pelukan saya, beliau bertanya kepada saya dengan suara pelan, “Njenengan niku sinten. Kawulo kok kadose kenal wajah njenengan. Anda itu siapa. Saya kok kayaknya kenal dengan wajah Anda.”


“Mbah, kawulo Ahmad Rofi’ Usmani. Saking Bandung. Mbah, saya Ahmad Rofi’ Usmani. Dari Bandung.”
Saking Bandung kok saget boso Jawi. Dari Bandung kok bisa bahasa Jawa.”
“Inggih, Mbah. Asal kawulo saking Cepu. Dados saget boso Jawi. Iya, Mbah. Asal saya dari Cepu. Karena itu, saya bisa bahasa Jawa.”
“O, saking Cepu. Pirso Mbah Yai Usman. O, dari Cepu. Tahu Mbah Kiai Usman?”
“Inggih, Mbah. Kawulo wayahipun. Iya, Mbah, saya cucunya.”

Begitu mendengar jawaban terakhir tersebut, Mbah Maimoen ganti memeluk saya. Sambil mengelus-elus punggung saya. Lama. Kemudian, ucap beliau dengan suara pelan, “Masya Allah. Njenengan niku wayahipun Mbah Yai Usman, to. Pantesan, kok kawulo rasanipun sampun kenal dangu kaliyan njenengan. Njenengan pinarak wonten mriki mawon, nggih. Ngancani kawulo. Masya Allah, Anda itu cucunya Mbah Kiai Usman, to. Pantesan, kok saya rasanya sudah kenal lama dengan Anda. Anda duduk di sini saja, ya. Menemani saya.”

Sejatinya, saya ingin menolak permintaan Mbah Maimoen tersebut. Namun, merasa tidak tepat menolak permintaan beliau, saya pun duduk di samping beliau. Duduk dengan gelisah dan resah: sadar diri bahwa sejatinya saya tidak pantas duduk mendampingi beliau. Di Mina lagi.

Akibatnya? 

Saya pun kecipratan kehormatan Mbah Maimoen sebagai kiai sepuh. Alias saya dapat “kramat gandul”: mendapatkan keistimewaan karena “menggandul” keistimewaan beliau. Orang-orang yang menghadap beliau pun mengambil tangan kanan saya dan menciumnya, selepas mereka mencium tangan beliau. Melihat hal yang demikian, bibir saya pun bergumam pelan, “Waduh, gawat. Aku ini bukan siapa-siapa, kok mendapat penghormatan demikian ini.”

Melihat orang-orang yang mau sowan kepada Mbah Maimoen kian mengular panjang, akhirnya saya pun berpamitan dengan beliau. Semula, beliau tidak mengizinkan saya berlalu. Tetapi, saya tetap berpamitan, dengan berbagai alasan. Sehingga, akhirnya,  beliau mengizinkan saya pamit. Sambil memeluk saya, beliau berucap pelan, “Gus. Kawulo ndongaaken, njenengan saget kados Mbah Yai Usman: saget ndamel pesantren ingkang manfaat kangge umat. Gus. Saya doakan, Anda bisa seperti Mbah Kiai Usman: bisa mendirikan pesantren yang bermanfaat bagi umat.”

Deg. Betapa hati dan pikiran saya bingung dan gelisah mendengar pesan Mbah Maimoen yang demikian. Pertama, panggilan "Gus" membuat saya merasa bahwa saya tidak layak mendapatkan panggilan demikian. Lagi pula, meski putra dan cucu seorang kiai, namun sejak muda saya lebih suka tidak dikenal sebagai keturunan kiai. Saya lebih suka disebut dengan panggilan “Rofi’” saja. Tanpa imbuhan apapun. Dan, selama berpuluh tahun, saya berhasil menyembunyikan “identitas” saya sebagai putra dan cucu kiai tersebut. Kedua, kala itu, saya tidak tertarik untuk menekuni dunia pendidikan. Apalagi mendirikan pesantren. Saya lebih suka jadi “tukang ketik” dan tukang kluyuran yang tidak dikenal orang. Ketiga, saat itu kami sedang berada di Mina: tempat yang mustajab untuk berdoa. Saya tidak ingin melakukan hal-hal yang “nyleneh”.  

Apa yang terjadi kemudian? 

“Identitas” saya dengan segera tersingkap dalam “pandangan” Mbah Maimoen. Yang lebih utama, karena doa Mbah Maimoen yang ikhlas dan “mandi”, alias mustajab, setahun kemudian Allah Swt. membukakan hati saya dan istri saya untuk mulai merintis Pesantren Mini kami. Yang kini kian berkembang dan banyak murid serta santrinya, alhamdulillâh wasy syukru lillâh.

“Hati-hati dengan doa kiai sepuh yang “waskito”, alias tajam penglihatan batinnya. Allâhumma ighfir lahu warhamhu wa‘afihi wa‘fu ‘anhu walahu Al-Fâtihah.” Demikian gumam pelan bibir saya, kemarin pagi. Sambil memandangi Pesantren Mini kami. 

Selamat Hari Santri.