Catatan dari Senayan

Haruskah Kita Bermaafan Jelang Ramadan?

SETELAH tahun 1990an masuk Jakarta, tepatnya di komunitas Betawi, saya menemukan tradisi baru, kaum muslimin pada saling minta maaf beberapa hari menjelang bulan Ramadan tiba. Lebih lagi setelah adanya mobile Phone, ratusan sms atau WA masuk meminta maaf. Serba salah dijawab kok ini mengada-ada, mau tidak dijawab dikira sombong, nggak mau bermaaf-maafan. Ada yang beranggapan tanpa mendapat maaf dari semua orang seolah puasanya tidak sah.

Dalam kesempatan menyambut bulan Ramadan ini saya beserta keluarga ingin meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Itulah antara lain bunyi pesan-pesan yang beredar menjelang bulan Ramadan. Kadang didahului dengan puisi atau ganbar dan kata-kata lain yang intinya menggiring untuk bermaafan secara masif, seperti layaknya berlebaran Idul Fitri.

Meminta maaf itu memang disyariatkan dalam Islam. Namun mengkhususkan hanya pada bulan Sya’ban atau menjelang Ramadan rasanya tidak ada dasarnya, atau setidaknya belum saya temukan.

Imam al-Bukhori meriwayatkan dari berbagai sumber yang berujung pada Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang pernah melakukan kezaliman (baik dengan perkataan ataupun perbuatan) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (berupa pemaafan) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham. Jika dia enggan untuk melakukannya maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezaliman yang pernah dilakukannya (kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya”. (HR. Bukhari no. 2449).

Kata “اليوم” (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan “kapan Saja,” dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan segera, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
Dari hadits ini jelas bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf sesegera, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain.

Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam. Jika ada yang berkata, “Manusia kan tempat salah dan dosa (mahallul khatha’ wannisyan). Mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari.” Memang itu benar, namun apakah serta-merta kita harus meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Logilkanya, mengapa Rasulullah saw dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa.

Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah swt. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah, no. 2043; disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 82).

Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghulluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun maka itu tidak dibenarkan dalam Islam dan bukan termasuk ajaran Islam.

Hal lain yang menjadi “sisi negatif” tradisi semacam ini adalah menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga menunggu menjelang bulan Ramadan tiba. Beberapa orang, ketika melakukan kesalahan kepada orang lain, tidak langsung minta maaf dan sengaja ditunda sampai momen menjelang Ramadan tiba, meskipun harus menunggu selama 11 bulan.

Meskipun demikian, bagi orang yang memiliki kesalahan bertepatan dengan Sya’ban atau Ramadan, tak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf kepada orang yang pernah dizaliminya tersebut. Asalkan ini tidak dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab.

Kita tak perlu dihantui dengan kesalahan dan dosa kalau tidak meminta maaf kepada semua orang. Kalau meminjam aturan hukum pidana, geen straf zonder schuld tiada dipidana tanpa melakukan kesalahan. Demikian pula dalam konteks menjelang Ramadan, tak perlu takut dihantui puasanya tidak sah jika tidak mendapatkan permaafan dari semua orang. Karena memang kewajiban meminta maaf itu tidak ada aturannya.

Dalam beribadah Ramadan kita perlu memahami wajib dan sunnahnya secara benar. Harus bisa membedakan antara syarat, rukun, wajib, sunnah, tradisi dan mitos. Mari bersiap memasuki Ramadan dengan amalan disertai ilmu yang mendasarinya. Kalau bermaafan masif memang tradisi ya kita niati sebagai tradisi, bukan demi keabsahan berpuasa, kewajiban atau sunnah. Apalagi sekadar kelatahan.***

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close