Hari Pertama PSBB Jilid II, Rupiah Menguat 35 Poin

Hari Pertama PSBB Jilid II, Rupiah Menguat 35 Poin

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat 35 poin atau 0,24 persen pada pembukaan pasar Senin (14/9/2020).

Bersamaan dengan hari pertama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jakarta jilid kedua ini, rupiah berada di posisi Rp14.855 per dolar AS. Indeks dolar terpantau turun 0,09 persen ke level 93,2490 pada pukul 08.36 WIB.

Sebelumnya, sejumlah kalangan menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada perdagangan sepanjang ini akan mulai mengendur. Kendati demikian, risiko pelemahan masih tetap mengintai.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2020), rupiah melemah 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.890 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan yang terlemah sejak 12 Mei 2020 sebesar Rp14.905 per dolar AS.

Secara umum, selama sepekan terakhir rupiah sudah melemah 0,96 persen, sekaligus menjadi mata uang  terlemah di Asia. Salah satu penyebab rupiah terjungkal antara lain pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan menerapkan PSBB total mulai hari ini, Senin (14/9/2020).

Belakangan, Anies memberikan sinyal untuk memastikan roda ekonomi tetap akan berputar dan tidak lagi menyebutkan pemberlakuan PSBB total. Sebanyak sebelas kegiatan usaha tetap dibolehkan beroperasi.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penjelasan gubernur terkait pelaksanaan PSBB di Jakarta dapat memperbaiki sentimen negatif di pasar yang menekan pergerakan rupiah.

“Pasar menjadi lebih tenang karena PSBB yang dimaksud tidak seburuk yang diekspektasikan pasar, sehingga sentimen dari dalam negeri ini diyakini dapat membatasi pelemahan rupiah akibat sentimen dari pasar global,” ujar Ibrahim.

Pada perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah akan tetap dibuka di zona merah. Dia menyebut, rupiah berpotensi melemah sekitar 50 hingga 200 poin dan bergerak di kisaran Rp14.850 per dolar AS hingga Rp15.010 per dolar AS.

Selain PSBB, rilis data perekonomian sepanjang pekan ini dinilai turut mempengaruhi pergerakan rupiah. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan ada dua agenda ekonomi pada pekan ini, yaitu rilis neraca dagang dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Dia memprediksi  neraca dagang untuk periode Agustus 2020 akan kembali surplus di kisaran US$2,24 miliar dan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini. (Jo)