Nasional

Hari Pancasila, Ini Sejarah dan Fakta Menarik Gedung Pancasila

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Gedung Pancasila saat ini terkenal sebagai gedung untuk mengadakan kegiatan internasional, penandatanganan perjanjian dengan negara lain, atau pertemuan bilateral.

Gedung tersebut juga sering digunakan sebagai tempat acara jamuan makan pagi (Foreign Policy Breakfast).

Dalam acara tersebut, Menteri Luar Negeri biasanya akan mengundang para pemimpin, serta tokoh dari kelompok masyarakat guna berdiskusi seputar kebijakan luar negeri dan masalah hubungan internasional.

Namun, sejak kapan Gedung Pancasila sudah berdiri dan apa saja fakta menariknya?

1. Tempat tinggal Panglima Angkatan Perang

Dulu, nama gedung tersebut adalah Gedung Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat). Letaknya berada di kawasan yang kini disebut sebagai Taman Pejambon dan Lapangan Banteng.
Sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), Asep Kambali, menuturkan, gedung tersebut merupakan salah satu dari banyak gedung tua di Jakarta.

“Dibangun sejak kapan, menurut cerita resmi dari Kementerian Luar Negeri dan berbagai buku, sekitar tahun 1830-an,” tutur Asep saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/5/2020).

“Tapi memang tidak ada yang tahu persis. Gedung ini juga masuk cagar budaya karena sudah berusia lebih dari 50 tahun,” lanjutnya.

Asep menuturkan, dulunya, gedung dibangun sebagai tempat peristirahatan, juga rumah dinas seorang petinggi Hindia Belanda.

Menurut situs resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Gedung Volksraad dibangun sebagai tempat tinggal Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda, merangkap sebagai Letnan Gubernul Jenderal.

Dia tinggal di sana hingga 1916 saat Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda masih berada di Jakarta. Namun pada 1914 – 1917, departemen dipindahkan ke Bandung dan membuat Panglima harus pindah tempat tinggal.

2. Sebagai gedung pemerintahan Hindia Belanda

Usai ditinggalkan Panglima, Belanda melihat gedung cukup memadai untuk dijadikan sebagai tempat persidangan Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). Lantas, gedung diberi nama Gedung Volksraad dan diresmikan pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.

“Dalam gedung ini, (pekerja) sebagian orang pribumi, sebagian orang Belanda. (Orang pribumi) ada yang dipilih, ada yang ditentukan,” kata Asep.

“Banyak tokoh-tokoh kita yang berkiprah di sana. Salah satunya M.H. Thamrin. (Gedung Volksraad) memang ruang untuk berpolitik dengan pemerintah Belanda,” imbuhnya.

Volksraad dikatakan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan para anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda (Raad van Indie). Hal tersebut tertera dalam katalog Pameran Peringatan Hari Ulang Tahun ke-300 Kota Batavia yang diselenggarakan di museum Amsterdam pada Juni – Juli 1919.

Namun, pemerintah pada saat itu membangun gedung tersendiri untuk Raad van Indie. Gedung terletak di sebelah barat Gedung Volksraad di Jalan Pejambon No. 2. Asep mengatakan, para pekerja di gedung tersebut hanya orang-orang pemerintahan Belanda saja.

Pemerintah Indonesia menawarkan investasi pengembangan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) tahap kedua di Natuna, serta juga membahas kerja sama bilateral secara lebih detail, terutama di bidang ekonomi.

3. Dijadikan sebagai tempat persidangan oleh Pemerintah Militer Jepang

Saat Jepang mulai masuk ke Indonesia, pertahanan Belanda pun terdesak dalam waktu singkat. Alhasil, Panglima Angkatan Bersenjata Belanda, Letnan Jenderal Ter Poorten, menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada 8 Maret 1942.

Pada 1943, Pemerintah Militer Jepang membentu Tyuuoo Sangi-In, Badan Pertimbangan Pusat. Tugasnya adalah mengajukan usulan kepada pemerintah. Mereka juga bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan pemerintah seputar politik, dan memberi pertimbangan mengenai tindakan yang harus dilakukan.

Pada 16 – 20 Oktober 1943, mereka mengadakan sidang pertamanya di Gedung Volksraad. Sidang-sidang berikutnya pun dilaksanakan di sana. Tidak hanya sidang Tyuuoo Sangi-In, Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) juga pernah mengadakan sidang pada 29 Mei – 1 Juni, dan 10 – 17 Juli 1945 di sini.

4. Sempat dikosongkan saat peralihan pemerintahan

Kendati Gedung Pancasila dijadikan sebagai salah satu pusat pemerintahan, baik oleh Belanda maupun Jepang, Asep mengatakan gedung pernah dikosongkan.

“Setelah pergantian pemerintahan, dari Belanda ke Jepang, pernah beberapa bulan ditinggalkan. Obyek vital yang terlihat dari udara dihindari oleh pemerintah baru. Atap juga dicat warna gelap agar tidak kena pesawat pembawa bom,” tutur Asep.

Namun hal tersebut hanya terjadi saat peralihan pemerintahan antara Belanda ke Jepang saja. Sementara antara Jepang dan Indonesia, gedung tidak dikosongkan.

5. Tidak ada catatan kapan gedung berubah nama

Hingga saat ini, belum ada catatan dan pihak yang menyatakan kapan Gedung Volksraad berubah nama menjadi Gedung Pancasila. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa gedung ini terlibat saat para pemimpin negara memutuskan untuk menjadikan Pancasila sebagai landasan negara Indonesia.

Indonesia secara resmi diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 28 September 1950. Pada tahun yang sama, gedung diserahkan kepada Departemen Luar Negeri. Namanya pun semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Sebab, pada 1 Juni 1964, Departemen Luar Negeri memperingati hari lahir Pancasila yang dihadiri oleh Bung Karno dan Moh. Hatta. “Gedung dinamakan Pancasila karena perayaan upacara hari lahir Pancasila. (Terkait penamaan gedung yang pasti, tidak diketahui) yang pasti (gedung disebut) Pancasila karena Pancasila lahir di sana. Jadi namanya dianggapnya itu,” ujar Asep.

6. Tempat menimba ilmu dan konferensi

Gedung Pancasila pernah dijadikan sebagai tempat perkuliahan ilmu ekonomi yang diberikan oleh Moh. Hatta. Pada tahun 1960-an, gedung juga pernah digunakan sebagai tempat untuk mendidik para calon diplomat Indonesia melalui beberapa kursus.

Ada pun kursus yang dimaksud adalah kursus Atase Pers, Caraka, dan Susdubat I yaitu Kursus Dasar Umum Pejabat Dinas Luar Negeri. Pada 1955, tepatnya mejelang Konferensi Asia-Afrika, Gedung Pancasila dijadikan sebagai pusat kegiatan konferensi Sekretariat Bersama. Kegiatan yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri terdiri dari para duta besar Birma, India, Pakistan, dan Sri Lanka.

7. Saksi pergantian orde di Indonesia

Gedung Pancasila merupakan saksi saat orde lama mulai runtuh dan digantikan oleh orde baru. Pada penghujung 1965, gedung ini menjadi sasaran demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Pada saat itu, mereka menentang komunis. Massa yang marah membuat gedung mengalami kerusakan di beberapa bagian.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close