Bisnis

Hari Ini Rupiah Terbaik di Asia Walau Menguat Tipis

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pada penutupan perdagangan Jumat (3/4/2020), kurs rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) didorong membaiknya sentimen pelaku pasar.

Di pembukaan perdagangan, rupiah langsung menguat 0,18% di level Rp 16.440/US$, tetapi penguatan tersebut kemudian terpangkas menjadi 0,09% di Rp 16.550/US$.

Tetapi menjelang penutupan perdagangan penguatan rupiah kembali membesar dan berakhir di level Rp 16.400/US$ atau menguat 0,43% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan tersebut cukup membawa rupiah menjadi mata uang terbaik Asia pada hari ini. Bahkan hanya ada tiga mata uang yang menguat hingga pukul 16:17 WIB.

Rupee India berada di urutan kedua dengan penguatan 0,4% meski perdagangan di India masih belum berakhir, sehingga masih bisa berubah. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan terakhir yang menguat, tetapi hanya 0,07%.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Benua Kuning.

Selain mampu menguat, rupiah juga mulai menunjukkan tanda-tanda stabil dalam dua hari terakhir, dibandingkan pekan-pekan sebelumnya dimana rupiah bergerak dengan volatilitas tinggi ketika ambles lebih dari 4%. Stabilnya rupiah menjadi modal bagus untuk kembali menguat di pekan depan, meski perlahan-lahan saja.

Pelaku pasar sepertinya mulai optimistis terhadap kemampuan pemerintah memerangi pandemi virus corona (COVID-10) Sentimen pelaku pasar pun mulai membaik dan kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Mengacu data Bank Indonesia, pada periode 30 Maret-2 April 2020, terjadi net buy atau beli bersih di pasar keuangan domestik sebesar Rp 3,28 triliun. Aliran modal masuk ini dominan berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Inflow dari SBN tercatat Rp 4,09 triliun, sedangkan di pasar saham pada periode tersebut masih terjadi net sell (outflow) Rp 820 miliar.

Pandemi yang berasal dari kota Wuhan China ini kini telah menjangkiti lebih dari 1 juta orang di 181 negara/wilayah. AS kini mencapai episentrum penyebaran dengan jumlah kasus nyaris 250.000 orang.

Sementara di Indonesia, hingga hari ini jumlah kasus sebanyak 1.986, dengan 181 meninggal dunia, dan 134 dinyatakan sembuh.

Meski jumlah kasus di Indonesia sangat jauh di bawah AS tetapi dampaknya ke sektor finansial dan riil sangat besar. Dari sektor finansial, aksi jual terjadi di pasar saham dan obligasi. Sementara dari sektor riil, pariwisata RI jeblok tajam, dan sektor manufaktur mengalami kontraksi hingga ke level terendah sepanjang sejarah pencatatan yang dimulai pada April 2011.

Guna memerangi pandemi COVID-19, Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan stimulus moneter dengan menurunkan suku bunga dan beberapa kebijakan lainnya guna menyediakan likuiditas di pasar. Sementara pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal dengan nilai ratusan triliun rupiah.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari Selasa mengumumkan stimulus senilai Rp 405,1 triliun yang akan digunakan untuk dana kesehatan Rp 75 triliun, jaring pengaman sosial atau social safety net (SSN) Rp 110 triliun, insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat Rp 70,1 triliun Termasuk Rp 150 triliun yang dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional.

“Termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembiayaan untuk UMKM dan dunia usaha menjaga daya tahan dan pemulihan ekonomi,” jelas Jokowi, Selasa (31/3/2020).

Dengan stimulus tersebut, plus stimulus moneter dari Bank Indonesia (BI) harapannya pandemi COVID-19 bisa segera diatasi dan perekonomian bisa segera bangkit.

Stimulus tersebut akan tertuang pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu No 1/2020).

Perppu Nomor 1/2020 memberi mandat kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan, bahkan di luar rambu aturan perundang-undangan. Misalnya pemerintah diperkenankan memperlebar defisit anggaran di atas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Atau BI dipersilakan masuk ke lelang Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana.

Dengan gelontoran stimulus fiskal oleh pemerintah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 bisa mencapai 5,07% PDB.
Moody’s Investors Service menilai kebijakan pemerintah menaikkan defisit APBN terhadap PDB menjadi 5,07% dapat mempertahankan kepercayaan investor terhadap pemerintah.

Semenjak pengumuman stimulus fiskal tersebut, pergerakan rupiah memang menjadi lebih stabil. Ketika investor semakin yakin akan kemampuan pemerintah mengatasi pandemi COVID-19, maka aliran modal perlahan kembali masuk ke Indonesia yang dapat menopang kinerja rupiah.

Memang di tengah pandemi COVID-19, pelaku pasar dikatakan akan memilih mata uang dimana negaranya bertindak cepat guna meredam COVID-19.

“Kemerosotan ekonomi terjadi dimana-mana saat ini, jadi sejauh itu, kita akan melihat perdagangan berdasarkan perbedaan penanganan virus corona ketimbang perbedaan yield” kata Stephen Innes, kepala strategi pasar global di AxuCorp.

“Investor saat ini membeli mata uang negara yang mampu mengatasi virus corona lebih cepat dengan berbagai langkah yang diambil untuk menghentikan penyebarannya” tambah Innes. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close