Ekonomi

Harga Minyak Tinggi, Jonan: Neraca Perdagangan Defisit

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, besarnya defisit neraca perdagangan dari sektor migas disebabkan karena kenaikan harga minyak dunia.

“Neraca perdagangan pasti minus karena harga impor minyaknya tinggi dan ekspornya juga tinggi. Tapi secara nilai pasti kalah,” kata Jonan dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018).

Ia menambahkan, Indonesia Crude Price (ICP) kita sesuai asumsi APBN di awal 2018 sebesar 48 dollar AS per barel. Sekarang sudah sekitar ICP 70 dollar AS per barel.

Senada dengan Jonan, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan faktor di balik kondisi neraca perdagangan migas, terlebih penuruan ekspor migas.

“Ekspor turun iya, karena ada blok yang tadinya milik asing sekarang punya Pertamina. Kedua, penurunan produksi 30 ribu barel per day. Harusnya impor turun, tapi naiknya impor tersebut karena karena ada kegiatan ekonomi yang naik,” kata Archandra.

Kementerian ESDM memproyeksikan neraca keuangan negara sektor ESDM mengalami surplus sebesar Rp91,4 triliun.

Proyeksi surplus tersebut didapat dari selisih penerimaan sektor ESDM dibandingkan subsidi energi, dan jauh lebih besar dibandingkan yang terdapat dalam APBN 2018.

“Sebenarnya di APBN, surplus penerimaan migas dan minerba dibanding subsidi energi total estimasinya sebesar Rp62,1 triliun. Sekarang, outlook surplusnnya naik sekitar 50 persen, jadi sekitar Rp91,4 triliun,” kata Jonan.

Jonan merinci berdasarkan proyeksi saat ini, penerimaan sektor migas dan minerba hingga akhir tahun nanti diperkirakan sebesar Rp240,3 triliun atau lebih besar dari target APBN 2018 yang dipatok sebesar Rp156,7 triliun.

Sementara itu, total subsidi energi pada 2018 diproyeksikan sebesar Rp 148,9 triliun. Angka ini mengalami kenaikan dari penetapan APBN 2018 yang sebesar Rp 94,6 triliun. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close