Harga Emas Diramal ke US$ 2.000, Bitcoin Malah Anjlok

Harga Emas Diramal ke US$ 2.000, Bitcoin Malah Anjlok
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Bitcoin dan mata uang kripto lainnya sedang mengalami tekanan dalam dua hari terakhir, sebaliknya harga emas dunia diprediksi akan kembali melesat ke US$ 2.000/US$. Sebabnya, inflasi di Amerika Serikat (AS) yang tinggi.

Bitcoin yang digadang-dagang sebagai emas digital Kamis kemarin sempat ambrol lebih dari 17% ke US$ 45.000/BTC, sebelum mengakhiri perdagangan di US$ 49.305,39/BTC atau anjlok 9,5%. Ethereum juga sempat ambrol lebih dari 13% sebelum mengakhiri perdagangan Kamis di US$ 3.716,8/ETH, anjlok 9,35%.

Sementara dalam 24 jam terakhir, harga bitcoin turun lagi 2,24% ke kisaran US$ 49.500/BTC, kemudian ethereum lebih dalam lagi -5,16%.

Sebaliknya, harga emas dunia pada perdagangan Rabu anjlok 1,17%, kemarin sempat turun lagi ke US$ 1.808/troy ons, sebelum berbalik menguat 0,61%. Sementara pada hari ini, Jumat (14/5/2021), emas turun lagi 0,25% ke US$ 1.822,08/troy ons.

Gary Wagner, editor di TheGoldForecast.com, kepada Kitco mengatakan emas akhirnya berhasil mempertahankan momentum penguatan ketika sukses melewati US$ 1.800/troy ons. Wagner juga memprediksi emas akan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, tetapi perlu waktu bertahun-tahun ke depan.

"Saya percaya kita akan melihat emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa lagi. Tetapi, dalam waktu dekat, katakanlah 4 bulan ke depan hal tersebut menurut saya tidak akan terjadi. Tetapi, berdasarkan beberapa parameter, kita akan melihat emas menguji lagi US$ 1.900/troy ons dalam beberapa bulan ke depan," kata Wagner, sebagaimana dilansir Kitco, Rabu (12/5/2021).

Sementara itu Steven Dunn analis dari Aberdeen Standard Investments memprediksi harga emas akan mencapai US$ 2.000 lagi di semester II tahun ini sebab inflasi di AS yang tinggi serta potensi volatiitas di pasar finansial.

Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi serta aset aman (safe haven) sehingga inflasi yang tinggi serta volatilitas di pasar finansial akan menguntungkan bagi emas.

"Emas belum menunjukkan kinerja yang bagus di tahun 2021. Saya selalu memperkirakan semester II tahun ini akan lebih menarik bagi emas dan kita akan mulai melihatnya beberapa bulan lebih awal," kata Dunn sebagaimana dilansir Kitco Kamis (13/5/2021).

Departemen Tenaga Kerja AS Rabu lalu melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April melesat atau mengalami inflasi 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Rilis tersebut jauh lebih tinggi ketimbang hasil survei Dow Jones sebesar 3,6%.

Sementara dari bulan Maret atau secara month-to-month (mtm) tumbuh 0,8%, juga jauh lebih tinggi dari survei 0,2%.

Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 3% yoy dan 0,9% mtm, lebih dari dari ekspektasi 2,3% yoy dan 0,3% mtm.

Kenaikan inflasi secara tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008, sementara secara bulanan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

Jika dalam beberapa bulan ke depan inflasi terus tinggi, maka spekulasi bank sentral AS (The Fed) akan mengetatkan kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan akan semakin menguat.

Jika itu terjadi, pasar finansial global akan mengalami volatilitas tinggi sehingga akan menguntungkan bagi emas yang menyandang status safe haven.