Politik

Harga BBM Turun Tak Munculkan Jokowi sebagai Subjek

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Pertamina, Sabtu (9/2/2019) malam mengumumkan penurunan harga BBM nonsubsidi kecuali Pertalite. Alasannya karena harga minyak dunia menurun dan di sisi lain nilai tukar rupiah meningkat. Penurunan harga tersebut berlaku sejak kemarin, Minggu, 10 Februari 2019.

Drone Emprit (DE) memantau pemberitaan dan percakapan terkait hal ini. Kata kunci yang digunakan untuk menarik data yakni: turun, kemudian difilter dengan kata kunci: pertamax, BBM. Selama dua hari pemantauan, 9 hingga 10 Febuari 2019, total mentions yang berhasil ditarik 6.273. Di mana 6.081 mentions dari kanal percakapan (Twitter) dan 192 mentions dari kanal pemberitaan (online news).

Peneliti pada Drone Emprit, Windo W menyatakan di kanal percakapan, tren percakapan menunjukan ada kenaikan percakapan pada tanggal 9 pada malam hari saat pengumuman penurunan harga BBM Pertamax cs. Setelah itu, percakapan alami kenaikan pada tanggal 10 di mana percakapan paling tinggi terjadi pada siang hari.

”Adanya tren kenaikan percakapan pada saat pengumuman penurunan harga BBM Pertamax cs, kemudian diikuti grafik kenaikan percakapan setelahnya, ini mengindikasikan bahwa penurunan harga BBM pertamax CS memiliki segi familiaritas atau derajat kesadaran khalayak akan topik ini,” katanya.

Ia menambahkan, pola dominan yang muncul di percakapan, yakni pola mentions (35,05 %) dan retweet (59.87%). Artinya, percakapan mengenai turunnya harga BBM ini banyak disebut dan di-share oleh warganet.

Terkait turunnya harga BBM (Pertamax cs), ujarnya, sorotan percakapan tertuju pada beberapa isu. Di antaranya sindiran kepada kubu oposisi (yang kerap diasosiasikan dengan sebutan kampret) yang tampak diam saat harga BBM turun, penurunan harga BBM tidak ada hubungannya dengan pilpres, dan penurunan harga BBM ini selain lantaran harga minyak mentah dunia turun, juga karena rupiah (ekonomi) menguat.

Berbagai ekspresi juga muncul dalam percakapan (sebagaimana dapat dilihat dari daftar most retweet). Dapat dilihat dari pilihan kata/frasa atau kalimat dari para users.

Ada yang menggunakan kata hore, alhamdulillah, terima kasih. Diksi ini untuk memuji (mengapresiasi) pemerintah. Dalam hal ini, pujian itu diarahkan kepada dua pihak yakni Pertamina dan Jokowi.

Bila dibandingkan di antara keduanya, Jokowi lebih menonjol hadir dalam percakapan daripada pertamina terkait percakapan tentang turunnya harga BBM (Pertamax cs).

Menonjolnya Jokowi hadir dalam percakapan juga terlihat dari ramainya hestek yang mengamplifikasi (memperkuat) posisi Jokowi dalam percakapan, seperti munculnya hestek #BBMTurunIndonesiaMaju, #JokowiOrangBaik, #jokowilagi, #JokowiHarapanPasti, #01JokowiLagi, #01JokowiMenang, #01JokowiPresiden, #jokowi2periode, #JokowiPilihanTepat dan lain-lain.

Selain kata hore, alhamdulillah, terima kasih, ekspresi yang muncul (sebagaimana dapat dilihat di daftar most retweet) juga ada yang menggunakan kata hoax, wowo, kampret.

Diksi ini digunakan oleh pendukung 01 untuk menyindir kubu oposisi yang hampir tak muncul dalam percakapan. Dilihat dari peta influencers, influncers kubu 02 hampir tidak muncul sehingga tak tampak percakapan mereka tentang harga BBM turun. Yang muncul dominan adalah influencers dari pendukung 01, selain itu juga akun-akun media.

Peta SNA memperlihatkan bahwa adanya percakapan yang menyebar, di mana akun-akun yang berada di tiap-tiap klaster merupakan pendukung 01, dan tidak mennggambarkan polarisasi. Di antara klaster-klaster tersebut, isu yang mereka angkat berbeda, ada yang memuji Jokowi melalui kebijakan penurunan harga BBM dan ada pula yang menyindir kubu 02. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close