Harga Anjlok Terus, Ratusan Ayam Dilepas di Depan Kantor Jokowi

Harga Anjlok Terus, Ratusan Ayam Dilepas di Depan Kantor Jokowi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Peternak ayam kecewa dengan jatuhnya harga ayam di pasaran, sebagai pelampiasan bentuk kekecewaan, ratusan ekor ayam sengaja dilepaskan di depan Istana Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (5/3) siang.

Aksi ini sendiri cukup menarik perhatian. Banyaknya ayam boiler yang dilepas menjadi bahan rebutan para PPSU atau pasukan orange dan pegawai dinas Tata air atau dikenal pasukan biru. Tdak hanya itu Pamdal Monas juga ikut menangkap ayam boiler yang di lepas di depan Kantor Presiden Jokowi.

Anjloknya harga ayam ini salah satunya disebabkan adanya Undang-undang Peternakan. Karena itu, mereka mendesak pemerintah mengeluarkan PERPPU untuk menggantikan Undang Undang Peternakan.

“Silahkan bapak-bapak ambil ayam ini. Kita urus dengan baik-baik, lihat ayamnya sehat-sehat, tapi kenapa harga jualnya sangat murah,” teriak salah satu peternak di depan Istana Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat. Selasa (5/3).

Dari aksinya, para paternal dari berbagai organisasi ini meminta kepada pemerintah agar lebih memperhartikan serta memberikan perlindungan usaha bagi para peternak unggas rakyat mandiri sehingga tidak mengalami kerugian parah seperti saat ini.

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia atau Pinsar Indonesia mencatat sejak 2016-2018 harga jual ayam rata-rata lebih rendah dari harga pokok produksi. Terbaru pada Januari-Februari 2019, harga rata-rata Rp 18.111 sedangkan harga pokok produksi Rp 19.884 per kilogram.

Bahkan, PINSAR, GOPAN, PPUN menilai ada upaya sistematis yang berujung pada marginalisasi Peternak Unggas Rakyat Mandiri. Dalam aksinya, meteka mimprotes Menteri Pertanian yang gagal dalam memberikan keadilan dan perlindungan berusaha kepada Kami.

Di kesempatan sama, Yeka Hendra Fatika dari Pataka, mengatakan, sejak Oktober 2018 hingga saat ini, harga ayam hidup terus mengalami penurunan.

Berdasarkan catatan pantauan harga oleh PINSAR, harga rata rata ayam hidup pada bulan Oktober 2018 rata rata sebesar Rp19.000,24 Per kg dan terus menurun hingga di bulan Februari 2019 harga ayam hidup rata rata mencapai Rp17.373,02.

“Dengan demikian, terjadi penurunan harga ayam hidup rata rata setiap bulan 8.6%. Kondisi ini jelas merugikan Peternak Unggas Rakyat Mandiri,” katanya.

Dia menjelaskan, selama 6 bulan ini (Oktober 2018-Maret 2019) rata rata Peternak Unggas Rakyat Mandiri mengalami kerugian sebesar Rp3000 per Kilogram ayam hidup. Jika dalam tiap minggu diperkirakan terdapat 18 Juta ekor ayam hidup yang dihasilakn peternak mandiri, dan asumsi tingkat kematian sebesar 5 persen, dengan bobot rata rata 1.6 kg per ekor.

Selama 6 bulan terdapat 26 minggu chick in (siklus produksi). Maka kerugian yang dialami oleh peternak unggas rakyat mandiri selama 6 bulan terakhir, mencapai Rp 2 triliun.

Fluktuasi harga ayam hidup terus terjadi setiap tahun. Berbagai regulasi telah dikeluarkan dalam rangka penguatan iklim usaha yang sehat. Akan tetapi berbagai upaya tersebut tidak kunjung memberikan solusi permanen, karena pelbagai regulasi tersebut tidak bisa diimplementasikan.

Fakta yang terjadi, jumlah petani unggas rakyat mandiri semakin berkurang tiap tahunnya. Sebagai gambaran. Pada tahun 2014, jumlah peternak unggas rakyat mandiri yang tergabung dalam asosiasi PPUN Bogor berjumlah 135 orang, saat ini tinggal berjumlah 27 orang.

Di Lampung dan Pelembang keberadaan peternak mandiri nyaris punah. Dari peternak mandiri yang tersisa saat ini pun, hutangnya semakin besar, dan iklim usaha semakin tidak sehat akibat fluktuasi harga yang merugikan peternak mandiri. (JS)