Opini

Harapan Perubahan yang Dikobarkan Mahathir, Sudah Selesai di Indonesia

Saat ini perhatian dunia tertuju kepada Malaysia menyusul kemenangan koalisi Pakatan Harapan, yang menghantar Mahathir Mohamad kembali menjadi Perdana Menteri setelah rehat selama puluhan tahun. Dia menumbangkan pemerintahan yang korup dan diktator. Indonesia sudah melakukan perubahan itu 20 tahun yang lalu, yang dikenal dengan reformasi 1998. Bila ada yang menjadikan Pakatan Harapan sebagai inspirasi untuk di Indonesia, harus segera bangun dari tidurnya.

Kemenangan Mahathir Mohamad mengejutkan dunia, adalah karena usianya yang sudah 92 tahun, bukan pada kemenangan Pakatan Harapan terhadap koalisi Barisan Nasional yang dipimpin Najib Razak. Kekalahan kelompok Najib Razak sudah diperkirakan sejumlah pengamat, karena pemerintahannya yang korup.

Najib Razak sudah disorot sejak dia masuk ke dalam ranah politik negaranya. Najib terlahir dari keluarga Abdul Razak, PM kedua Malaysia dan juga individu yang dianggap berjasa membantu negaranya meraih kemerdekaan dari Inggris di tahun 1957.

Najib mulai tersangkut skandal justru sejak tahun 2002 lalu saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Mantan anak buah Najib ketika itu, Abdul Razak Baginda menerima komisi pembayaran dari perusahaan pembuat kapal selam.

Hal itu diketahui oleh seorang perempuan Mongolia Shaariibuugiin Altantuyaa yang disewa sebagai penerjemah bahasa Perancis untuk memfasilitasi pembayaran tersebut. Altantuyaa yang juga kekasih gelap Baginda mencoba untuk memeras pria tersebut sebesar US$500 ribu.

Perempuan itu akhirnya ditembak dan jenazahnya diledakan dengan menggunakan alat ledak militer oleh dua polisi yang ditugaskan untuk menjaga Najib. Kedua polisi itu dikenai dakwaan dan dinyatakan bersalah.

Skandal lainnya yang turut menyeret nama Najib dan masih diingat publik hingga saat ini yaitu skandal korupsi perusahaan investasi milik negara 1Malaysia Development Bhd. Berdasarkan data dari BBC, perusahaan itu dibentuk Najib pada tahun 2009 lalu. Tujuannya untuk mengubah Kuala Lumpur menjadi negara penghubung keuangan di kawasan Asia Tenggara dan meningkatkan perekonomian melalui investasi strategis.

Namun, perusahaan itu mulai menimbulkan kecurigaan pada awal tahun 2015 saat mereka tidak bisa melunasi pembayaran ke bank dan pemilik saham sebesar US$11 miliar. Harian Amerika Serikat, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan sempat menemukan jejak, diduga ada dana sebesar US$700 juta dana 1MDB ke akun pribadi Najib.

Najib berulang kali membantah terlibat dalam tindak korupsi seperti yang diberitakan. Pemimpin Koalisi Barisan Nasional itu justru mengaku sebagai korban sabotase politik dari lawannya.

Dia menduga mantan PM, Mahathir Mohamad yang sengaja menghembuskan isu itu untuk menjatuhkan namanya.

Tetapi, media justru menilai tuduhan itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Usai menolak mundur sebagai PM pada Juli 2015, dia malah mengganti wakil PM nya karena mengkritk cara pemerintahannya menangani kasus itu.

Jaksa Agung yang menangani kasusnya juga diberhentikan dengan alasan kesehatan. Sementara, Jaksa Agung yang baru dilantik pada Januari 2016 justru menyatakan Najib tidak bersalah.

Belakangan Najib mengaku dana sebesar US$700 juta itu merupakan sumbangan dari Keluarga Kerajaan Saudi.

Sudah menjadi rahasia umum, hubungan Najib dengan Anwar Ibrahim tidak harmonis. Anwar sebelumnya turut bergabung dalam koalisi Barisan Nasional, namun kemudian terlempar keluar.

Dia memimpin koalisi Pakatan Rakyat (PR) dan mengambil sikap sebagai oposisi. Pada pemilu 2013, Pakatan Rakyat berhasil meraih 133 dari 222 kursi di parlemen dan 3 negara bagian Penang, Selangor dan Kelantan. Ini merupakan kali pertama PR bisa mencapai hal tersebut.

Tetapi, tak lama setelah itu, Anwar kembali tersandung masalah hukum pada Maret 2014. Pengadilan tinggi justru membatalkan vonis bebas atas kasus sodomi yang pernah membelitnya.

Pengadilan menjatuhkan vonis penjara selama 5 tahun yang sekaligus berpotensi menghancurkan karir politik Anwar.

Sementara, di sisi yang berbeda, mantan PM Mahathir Mohamad justru mendukung Anwar untuk ikut menurunkan Najib sebagai orang nomor satu di pemerintahan. Mahathir mulai merongrong agar Najib mundur sejak namanya terkait kasus korupsi 1MDB.

Anwar pun mendukung keputusan Mahathir untuk ikut menurunkan Najib. Padahal, dulu Anwar juga sempat dipenjara di akhir tahun 1990an ketika Mahathir berkuasa. Saat itu, Anwar dibui karena tuduhan sodomi dan gratifikasi.

Kini Mahathir kembali menjadi PM Malaysia . Mahathir Mohamad resmi dilantik sebagai perdana menteri ketujuh Malaysia pada Kamis malam (10/5/2018) waktu setempat.

Mahathir pertama kali menjadi perdana menteri pada 16 Juli 1981. Ketika itu, dia masih berusia 56 tahun. Dia kemudian meletakkan jabatan pada 31 Oktober 2003, atau setelah memerintah selama 22 tahun, dan menjadikannya sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama di Malaysia.

Dengan usianya yang menapak 92 tahun, pemimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan itu menjadi pemimpin terpilih tertua di dunia.

Sementara Najib Razak, tergantikan setelah 14 tahun berkuasa, yaitu 5 tahun (2004-2009) sebagai Wakil Perdana Menteri dan 9 tahun (2009-20018 sebagai Perdana Menteri.

Atas perubahan kekuasaan itu, kemudian menjadi inspirasi kalangan oposisi di Indonesia.  Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera melihat kemungkinan terjadinya hal serupa di Pilpres 2019 nanti. Menurutnya, angin perubahan itu bisa juga terjadi di Indonesia.

“Saya ingin mengatakan kalau di Malaysia angin perubahan itu ada, Indonesia yang selama ini jadi pioner perubahan, lebih kuat lagi angin itu ada, 2019 ganti presiden,” kata Mardani saat dihubungi, Kamis (10/5/2018). (detik.com)

Mardani juga memandang kecerdasan koalisi Pakatan Harapan yang menjagokan Mahathir. Mahathir, kata dia, punya basis pendukung yang kuat di pedesaan. Padahal, sebelumnya Barisan Nasional kuat di pedesaan.

Ceruk suara itu dapat dapat diraup Mahathir karena simpati yang muncul dari masyarakat pedesaan. Pangkalnya, Mahathir yang merupakan mantan PM Malaysia kerap mendapatkan perlakuan tak adil saat berkampanye.

Sementara Waketum Gerindra Fadli Zon menyebut kemenangan Mahathir Mohamad di pemilu Malaysia sebagai ‘tanda-tanda zaman’. Dia mengaitkannya dengan gerakan #2019GantiPresiden

“Tanda-tanda zaman, selamat pada Mahathir Muhammad yang menang dalam Pemilu dan jadi Perdana Menteri dalam usia 92 tahun. Semakin yakin #2019GantiPresiden ” tulis Fadli Zon di Twitter, Kamis (10/5/2018).

Rekan Fadli di DPR, Fahri Hamzah, juga menangkap tanda-tanda dari kemenangan Mahathir ini. Dari hasil pemilu Malaysia ini, dia pun memprediksi akan ada pemimpin baru di Indonesia. Fahri meyakini akan ada pihak oposisi yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik.

“Tampak-tampaknya memang kita akan memiliki pemimpin baru, orang yang lebih mengerti perasaan masyarakat, yang akan sanggup menjurubicarai perasaan yang tidak terkatakan. Dan itu akan datang suatu kelompok yang mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita melihat masa depan kita yang lebih baik dan optimistis,” tutur Fahri.

Harapan bolehlah menjadi angan-angan, tetapi angin Pakatan Harapan sudah berlalu di Indonesia pada 1998, ketika pemerintah korup yang berkuasa selama 32 tahun tumbang lewat gerakan reformasi.

Gerakan #2019GANTIPRESIDEN, sulit terwujud, karena Jokowi bukan pemimpin korup dan tidak diktator. Ia sendiri dicintai oleh rakyat banyak, sementara gerakan #2019GANTIPRESIDEN harus bersusah payah menggerakan masyarakat untuk mengikutinya. Hanya segelintir.

Pemerintahan yang korup dan diktator sudah selesai di Indonesia pada reformasi 1998.

Jokowi dicintai rakyat karena sudah mampu memperlihatkan kenerja yang baik. Antara lain selesainya pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, waduk dan lain-lain yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat.

*Penulis adalah pengamat sosial politik tinggal di Jakarta

KOMENTAR
Show More
Close