Hanya Pancasila Penyelamat Kita

Hanya Pancasila Penyelamat Kita

KITA tengah menyaksikan perebutan kekuasaan yang semakin brutal dan berdarah. Kerusuhan 22 Mei kemarin adalah bukti nyata dekadensi politik kita. Ini bukan tanpa preseden. Sejak Pilkada DKI, kampanye politik disesaki dengan hujatan, fitnah, dan pembunuhan karakter. Semua itu terjadi karena satu alasan: sentimen agama. Politisasi agama membuat perebutan kekuasaan bukan lagi perkara duniawi. Kekuasaan harus direbut dengan cara apa pun. Kampanye adalah jihad. Kampanye adalah perang melawan kemungkaran.

Kebrutalan politik ini mulai mengoyak silaturahmi kebangsaan yang sudah terjalin lama. Suara-suara separatisme mulai bermunculan. Segregasi politik bertransformasi menjadi disintegrasi nasional. Persatuan Indonesia sedang dalam bahaya. Pertanyaanya, apakah kita tinggal diam atau berbuat sesuatu? Kalaupun berbuat sesuatu darimana memulainya.

Menurut saya, kita harus memulainya dari Pancasila. Pancasila adalah norma tertinggi yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dia adalah norma di atas segala norma. Kebebasan adalah norma. Pancasila adalah norma yang mengatur kebebasan agar tidak menjadi kesewenangan Silaturahmi adalah norma. Pancasila mengatur supaya silaturahmi tidak eksklusif, mengecualikan dan sektarian.

Apabila negara kita adalah sebuah mobil, demokrasi adalah gas sementara Pancasila rem-nya. Demokrasi menghadiahi kita dengan beraneka kebebasan. Pancasila memastikan agar kebebasan tersebut tidak destruktif dan merusak sendi kebangsaan kita. Demokrasi membebaskan kita berserikat.

Pancasila menghentikan perserikatan yang ingin meratakan kebhinekaan kita. Demokrasi membebaskan kita berpendapat. Pancasila menghentikan pendapat yang memuat kebencian dan memecah-belah. Demokrasi membebaskan kita berkeyakinan. Pancasila menegur dan mengatur keyakinan yang mau menang sendiri dan gemar mengkafirkan.

Baca Juga

Pancasila bukan pajangan. Dia adalah rem yang harus diinjak saat demokrasi membahayakan keselamatan bangsa dan negara. Presiden Jokowi menginjak rem itu saat membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia. Penangkapan beberapa elit pasca kerusuhan 22 Mei juga dapat dibaca sebagai injakan rem Pancasila.

Satu injakan rem lagi harus dilakukan. Ini yang terpenting bahkan. Kita perlu melakukan asesmen Pancasila untuk seluruh pejabat di Kementerian, Lembaga dan BUMN. Pastikan mereka memiliki karakter yang bersumber dari sila-sila Pancasila. Pastikan mereka tidak sedang memakai infrastruktur negara untuk berdakwah dan berbuat anti Pancasila. Pembersihan birokrasi dari anasir anti Pancasila tidak bisa ditawar lagi. Ini adalah rem yang harus diinjak keras-keras. Pancasila, sekali lagi, bukan pajangan. Dia adalah alat perjuangan.

Selamat hari lahir Pancasila.

Penulis Dr Donny Gahral Adian M.Hum, filsuf dan pengajar di Universitas Indonesia.