Internasional

Halau Massa Duduki Bandara Hong Kong, Polisi Tembakkan Semprotan Merica

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kondisi Hong Kong makin mengkhawatirkan. Sebab, para demontran kini memilih menduduki Bandara Internasional negara itu.

Bukan hanya menyerukan penghapusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi, massa juga menuntut reformasi total dan penegakan demokrasi.

Ribuan demonstran yang kompak berpakaian hitam memenuhi lorong-lorong terminal keberangkatan seraya melambaikan spanduk dan meneriakkan “Bebaskan Hong Kong”.

Reuters, Selasa (13/8) malam melaporkan, aksi massa pecah setelah seorang pria diduga agen China menyusup bandara dan dituding memantau jalannya demonstrasi.

Massa sempat menawan pria tersebut, hingga akhirnya petugas medis membopong pria itu ke tandu dan melewati kerumunan menuju mobil ambulans.

Beberapa saat setelahnya, suasana kian memanas. Polisi anti huru hara mencoba untuk memukul mundur massa yang masih bertahan di bandara dengan menembakkan semprotan merica. Massa membalas dengan memblokade mobil polisi hingga akhirnya dua pendemo dibekuk.

Tak terima dengan penangkapan itu, massa kembali memblokade beberapa lorong di bandara dengan troli bagasi, penghalang logam dan benda-benda lainnya. Mereka juga berhasil merangsek ke konter check-in.

“Saya pikir melumpuhkan bandara akan efektif untuk memaksa Carrie Lam (pemimpin Hong Kong) menanggapi kami. (Kami meyakini) aksi ini akan semakin menekan perekonomian Hong Kong,” kata salah seorang pendemo, Dorothy Cheng, 17.

Pernyataan Cheng memang benar adanya. Bentrokan yang semakin keras antara polisi dan massa pro-demokrasi tersebut telah mengguncang pusat keuangan Asia. Laporan Reuters per Selasa menunjukkan pasar saham Hong Kong jatuh ke level terendah selama tujuh bulan terakhir.

Bukan hanya itu saja, aktivitas ini turut membuat 300 jadwal penerbangan di Bandara Hong Kong terganggu. Otoritas bandara terpaksa membatalkan seluruh jadwal penerbangan setelah massa menduduki area bandara di hari pertama unjuk rasa.

Meski begitu, otoritas tetap mengizinkan demonstran untuk berkumpul di lobi kedatangan, bahkan sebagian pegawai mereka juga ikut berdemonstrasi.

“Informasi yang didapat sebelum kami datang, demonstran yang ada di gedung terminal penumpang sebanyak lebih 5000 orang,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Hong Kong, Kong Wing-cheung, seperti dikutip dari AFP, Senin (12/8).

Kekompakan otoritas dengan massa pro-demokrasi membuat China geram. Regulator penerbangan sipil China menuntut agar maskapai menangguhkan staf yang bergabung atau mendukung protes tersebut.

Saat ini, parlemen Hong Kong memang sudah menangguhkan RUU ekstradisi. Namun, massa pro-demokrasi menginginkan RUU tersebut ditarik dari proses legislasi. Mereka meyakini ekstradisi ini akan digunakan China untuk mengincar musuh-musuh politik mereka di Hong Kong.

Mereka juga tidak percaya dengan sistem pengadilan China yang disebut sejumlah lembaga HAM internasional kerap melakukan pelanggaran hak asasi terhadap tahanan, termasuk penyiksaan, pengakuan paksa, hingga ketiadaan akses pengacara.

Kendati Hong Kong masih menjadi bagian dari China, namun, secara hukum, pulau tersebut cukup otonom dengan memiliki undang-undang, hakim dan pengadilannya sendiri. Mereka tak ingin China ikut campur dalam menghakimi aturan Hong Kong.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close